: WIB    —   
indikator  I  

Ada jejak sangkar burung dari Demak (3)

Ada jejak sangkar burung dari Demak (3)

Hampir setiap warga Desa Kebonbatur, Mranggen, Kabupaten Demak menggantungkan penghasilan sebagai perajin sangkar burung. Sayangnya, perajin tak memiliki jalur pemasaran sendiri. Mereka mengandalkan peran para pengepul sebagai pembeli sarang burung ini.

Kundori salah satu perajin sangkar burung mengaku tidak pernah menjual sangkar burungnya tanpa melalui pengepul. Maklum, pasar sangkar burung dari Desa Kebonbatur ini ada di Jakarta dan Surabaya. Proses pengiriman pun menjadi efektif bila melalui pengepul dibandingkan para perajin memasarkan sendiri produknya. "Perajin bertumpu pada pengepul," kata Kundori.

Proses pembuatan sangkar burung diawali dengan menyiapkan potongan kayu jati. Setelah itu, kayu dirakit hingga menjadi sangkar burung.

Dalam sehari Kundori bisa siapkan 30 potongan kayu yang siap untuk dirakit. Namun, butuh waktu lebih lama untuk merakit sangkar burung. "Satu hari paling cuma jadi satu sangkar burung, itu pun harus dilakukan oleh dua orang, " jelas Kundori.

Proses merakit yang lama ini kerap menjadi kendala, karena butuh konsentrasi. "Proses merakitnya lama, karena jerujinya kecil-kecil. Kalau badan capai, ya kami istirahat, enggak bikin dulu," kata Kundori.
Selain itu, proses pembuatan yang lama membuat waktu balik modal lama. Rata-rata para perajin membutuhkan modal sebesar Rp 5 juta per bulan.

Perajin sangkar burung di Desa Kobonbatur biasa membuat sangkar burung mentah atau tanpa pengecatan. Ukuran sangkar burung yang banyak dibuat oleh para perajin adalah beralas 40x40 cm2 dengan tinggi 50 cm.  Dengan ukuran tersebut, sangkar burung dibuat dengan berbagai bentuk.  "Jenisnya ada yang biasa, ada yang bagus. Tapi kalau saya yang bagus gak pernah bikin, karena tidak bisa," bisik Kundori.

Jika perajin sudah membuat 15 sangkar burung, mereka segera menjualnya ke pengeepul. Pengepul biasa membeli sangkar burung dengan harga Rp 40.000 hingga Rp 150.000.

Siti, salah satu pengepulnya mengatakan, sangkar burung yang paling cepat terjual adalah yang harganya Rp 50.000 dan Rp 60.000. Sementara, permintaan sangkar burung yang harganya lebih dari Rp 100.000 tak cukup banyak.

Dalam berbisnis sangkar burung, Siti mengaku tidak mengambil untung besar. "Satu sangkar burung untungnya itu paling besar Rp 5.000," kata Siti. Padahal, Siti bilang, ongkos pengiriman ke Jakarta cukup mahal. Sebagai contoh, sangkar burung seharga Rp 150.000, ongkos kirimnya Rp 20.000 per buah. Alhasil, Siti mematok harga Rp 175.000 di Jakarta.

Untuk mendapatkan keuntungan lebih besar, Siti pun mengirim sangkar burung dalam jumlah banyak  sekaligus. Sebab, ia tak ingin mengerek harga karena harga yang tinggi bisa mengakibatkan turunnya permintaan atau pesanan. "Jumlah sangkar burung yang dikirim banyak, jadi untungnya disana. Saya juga jual cepat saja, sehingga tetap bisa kantongi untung lumayan," kata Siti. Maklum, kini, permintaan sangkar burung ini cukup banyak.   

(Selesai)


Reporter Danielisa Putriadita
Editor Johana K.

0

Feedback   ↑ x