: WIB    —   
indikator  I  

Angkat ekonomi perempuan Papua lewat noken

Angkat ekonomi perempuan Papua lewat noken

Di Kampung Korbey, anak-anak Papua dan perempuan suku Arfak banyak yang putus sekolah. Adat menganggap perempuan tidak perlu besekolah tinggi. Adat juga membuat perempuan suku Arfak banyak menikah pada usia dini. Bahkan, banyak diantara mereka yang belum bisa baca tulis.

Kondisi ini sangat menyentuh emosi Risna Hasanuddin.  Sebagai lulusan Fakultas Keguruan dan Ilmu Pendidikan (FKIP) Universitas Pattimura, Maluku, Risna pun bertekad untuk memajukan anak-anak dan perempuan Arfak, meski tiada imbalan.

Berbekal tabungan dan kiriman dari orang tua, Risna mulai memberdayakan ekonomi perempuan di Kampung Kobrey. Ia melihat  perempuan Arfak memiliki potensi untuk membuat noken, tas tradisional masyarakat Papua. Tas ini terbuat dari serat kulit kayu dan berfungsi untuk membawa barang-barang sehari-hari.

Risna pun mengembangkan keahlian perempuan Papua dalam membuat noken.  "Perempuan Arfak bisa membuat noken, namun mereka tidak tahu cara memasarkannya," kata Risna.

Padahal, ia melihat di Maluku, Ternate dan Makassar, banyak orang yang membutuhkan noken. Lantas, Risna pun membantu memasarkan noken produksi perempuan Korbey.

Ada 30 perempuan yang mengikuti kelas di sekolah yang Risna dirikan. Dari jumlah itu, 18 diantaranya adalah perajin noken.

Untuk mendukung produksi noken, Risna juga membantu dalam menyediakan bahan baku awal. Noken dijual senilai Rp 100.000 sampai dengan Rp 500.000. Dari hasil penjualan noken akan dipotong modal Rp 50.000 untuk mengganti modal yang Risna keluarkan.

Selebihnya akan diberikan untuk perajin noken dan masyarakat setempat.  "Tas itu kami yang jual. Lalu, untungnya dikumpulkan untuk membuat tempat sampah di daerah situ. Dari Noken itu juga, alhamdulillah bisa menghidupi masyarakat sana," tutur Risna.  Proses pembuatan sebuah noken membutuhkan waktu tiga hingga empat hari.

Selain membantu dalam menyediakan bahan baku, Risna juga berperan penting dalam memasarkan noken. Ia mengandalkan media sosial. Selain Ambon dan Makassar, penjualan noken kini juga sudah menjangkau Manado.

Proses pengiriman noken masih Risna tangangi sendiri. Namun, pelan-pelan ia mulai melatih para perempuan Arfak ini menjalani kegiatan bisnis sendiri. Risna berharap kelak perempuan Arfak mampu melakukan bisnisnya secara mandiri. Meskipun, memang membutuhkan waktu bertahun-tahun agar perempuan Arfak bisa memahami dan menjalankan bisnis melalui media digital.

Kini, Risna juga ingin fokus dalam dunia pendidikan anak. Ia ingin membangun perpustakaan agar generasi muda di Papua tak lagi jauh tertinggal.


Reporter Danielisa Putriadita
Editor Johana K.

PROFIL PENGUSAHA

Feedback   ↑ x
Close [X]