: WIB    --   
indikator  I  

Penjual sempe beromzet ratusan juta (3)

Penjual sempe beromzet ratusan juta (3)

Mengecap pendidikan dasar hingga sekolah menengah atas di Flores, tak pernah terpikir oleh Ardi untuk menjadi seorang pengusaha. Ditanya soal cita-cita masa kecil, ia menyebut beberapa profesi yang umum diminati banyak orang. Saat masih SD, ia pernah bercita-cita menjadi guru, saat SMP ia juga tertarik menjadi polisi, dan saat SMA malah ingin menjadi tentara.

“Waktu kuliah saya malah ingin jadi PNS,” lanjut Ardi. Namun, saat lulus kuliah ia sempat menghadapi dilema. Menjadi PNS tentu menggiurkan, tapi persaingannya juga ketat. Selain itu, Ardi juga meneropong perkembangan zaman. Di tahun 1999 saat lulus kuliah, ia melihat terjun sektor wirausaha adalah langkah tepat.

Niat untuk pulang kampung dan mengadu nasib di tanah kelahiran pun diurungkannya. Prinsip Ardi, biarlah tidak dapat makan di negeri orang, asal kesulitan itu dirasakan sendiri. Ardi tidak ingin menyusahkan orang tua dengan pulang membawa status sarjana yang belum berpenghasilan.

Beruntung, Ardi lahir dari keluarga sederhana. Sejak kecil ia memang telah dididik untuk bisa mandiri. Dari SD ia sering membantu sang ayah memasarkan hasil tani tembakau ke pasar. Waktu SMP pun ia pernah nyambi jadi pembantu. Saat SMA ia mulai membuka usaha sendiri dengan berjualan es.

Kebiasaan berwirausaha juga dilanjutkan saat kuliah. “Kalau petani itu penghasilannya tergantung panen, jadi saya baru dikirim uang itu empat bulan sekali,” ujar Ardi yang saat kuliah merantau di Yogyakarta. Jadilah ia kala itu membuka warung mi.

Seakan sudah tahan banting, Ardi memutuskan melamar menjadi sales begitu lulus kuliah. Awalnya, ia sempat tak percaya diri dengan pekerjaan tersebut. Ardi bercerita, ia pernah melakukan berbagai cara untuk menutupi rasa gengsi.

Pernah suatu ketika, Ardi disangka pegawai bank saat akan menawarkan produk roti di pasaran. Pasalnya, ia selalu berpenampilan rapi dan menyimpan barang dagangannya di tas. “Ganteng-ganteng kok jadi sales,” ujar Ardi menirukan ucapan penjaga toko tempat ia menawari roti kala itu.

Namun, rasa gengsi itu perlahan mulai hilang. Apalagi setelah Ardi tak sengaja bertemu dosennya saat menawarkan produk di sekitar Candi Prambanan. Ia yang awalnya sempat segan mengakui pekerjaannya, terkejut dengan reaksi sang dosen. Tak diduga, dosennya juga menjadi sales produk dodol dari Garut.

“Seorang dosen saja tidak malu menjadi sales, bedanya dia jualan pakai mobil, saya pakai motor,” ujar Ardi.

Dari situlah Ardi mulai percaya diri. Kerja kerasnya kini terbayar tuntas. Ardi sekarang berhasil produksi 1.000 sempe arumanis dalam satu hari dan memasarkannya ke 4.000 toko di Jawa. 

(Selesai)


Reporter Nisa Dwiresya Putri
Editor Johana Ani K.

USAHA IKM

Feedback   ↑ x
Close [X]