PELUANG USAHA
Berita
Basahnya laba dari usaha handuk berbentuk unik

PELUANG BISNIS HANDUK BAYI DAN ANAK-ANAK

Basahnya laba dari usaha handuk berbentuk unik


Telah dibaca sebanyak 5696 kali
Basahnya laba dari usaha handuk berbentuk unik

Setelah handuk ponco, kini ada handuk hooded towel yang khusus ditujukan untuk para bayi dan anak-anak. Handuk ini terbilang unik karena memiliki kerudung yang bentuknya menyerupai boneka binatang kesukaan anak-anak. Sayang, pasar handuk ini masih sangat terbatas di tanah air.

Bisnis handuk khusus anak-anak semakin semarak. Setelah kehadiran handuk ponco sekitar dua tahun lalu, kini muncul hooded towel atau handuk berkerudung. Memang, handuk ponco juga memiliki kerudung. Hanya saja, kelebihan model kerudung hooded towel itu bentuknya benar-benar menyerupai boneka.

Adalah Nova Yana Putra, pemilik Haliastore di Depok, Jawa Barat, yang menjadi salah satu pencetus usaha hooded towel di negeri ini. Ia menekuni bisnis handuk itu sejak Mei 2010. "Saya pernah lihat di luar negeri dan terinspirasi memproduksinya sendiri," katanya.

Meski begitu, handuk hooded buatan Nova belum diproduksi secara massal alias masih berupa kerajinan tangan. "Saya membeli handuk meteran lalu dijahit lagi," imbuhnya.

Karena masih tergolong jenis handuk baru, penetrasi pasar hooded towel masih terbatas. Dalam sebulan, Nova mengaku, baru bisa menjual sekitar 50 potong handuk hooded. "Pembelinya datang dari berbagai kota. Di antaranya, Aceh hingga Papua," ujarnya.

Handuk hooded buatan Nova terbagi dalam dua segmen pasar. Yaitu, membidik segmen pasar bayi dan anak-anak. Hooded towel untuk bayi berukuran 78 x 78 centimeter (cm), dengan banderol harga Rp 115.000 per helai. Adapun untuk anak-anak dengan ukuran 72 x 120 cm, sebesar Rp 130.000 per helai.

Nova bilang, harga jual handuk buatannya terhitung tidak murah ketimbang handuk ponco untuk anak-anak. Namun, lanjut dia, handuk produksinya memiliki beberapa kelebihan.

Pertama, bahan handuknya lebih tebal. Kedua, model handuk hooded memiliki model lebih unik karena kerudungnya menyerupai boneka. "Jika handuk ponco gambarnya dicetak, hooded towel kami dijahit pakai tangan," ujar Nova.

Saat ini ada 17 model hooded towel yang dipasarkan Nova. Mulai dari bentuk binatang lebah, bebek, macan, sapi, panda, dan buaya.

Untuk menggenjot penjualan, Nova berencana mengeluarkan model baru hooded towel setiap dua bulan sekali. Selain itu, dia juga akan menjual produknya di gerai-gerai ritel modern. "Saat ini baru ada satu distributor handuk yang sudah mau bekerja sama," katanya.

Dus, kehadiran hooded towel akan meredupkan pamor handuk ponco? Ini masih perlu pembuktian. Pasalnya, handuk bermodel mirip jas hujan ini dibanderol dengan harga cukup miring, yaitu sekitar Rp 50.000 per helai alias setengah dari harga handuk hooded.

Nungke Ibrahim, pemilik gerai Grosir Sprei Handuk di Bekasi, mengatakan, setiap bulan ia masih bisa menjual sekitar 120 handuk ponco. Namun, berbeda dengan Nova, dia tidak memproduksi sendiri handuk ponco. "Handuk ini masih diimpor dari China," katanya.

Editor: Tri Adi
Telah dibaca sebanyak 5696 kali



Syarat & Ketentuan Komentar :
  1. Tidak memuat isi bohong, fitnah, sadis dan cabul.
  2. Tidak memuat isi yang mengandung prasangka dan kebencian terkait dengan suku, agama, ras, dan antargolongan (SARA), serta menganjurkan tindakan kekerasan.
  3. Tidak memuat isi diskriminatif atas dasar perbedaan jenis kelamin dan bahasa, serta tidak merendahkan martabat orang lemah, miskin, sakit, cacat jiwa, atau cacat jasmani.
  4. KONTAN memiliki kewenangan mutlak untuk mengedit atau menghapus komentar yang bertentangan dengan ketentuan ini.

LIPSUS

LIPSUS Update

  • Risiko berbeda, premi tiap daerah seharusnya berbeda juga

    +

    Dalam uji coba pertama, Jasindo mengkover 600 hektare (ha) lahan dengan biaya premi Rp 100 juta.

    Baca lebih detail..

  • Agar sukses, perlu insentif bagi penyuluh lapangan

    +

    Program asuransi pertanian menjadi salah satu upaya pemerintah untuk melindungi petani dari efek perubahan iklim. Hanya saja masih banyak kekurangan yang ditemui, seperti kurangnya sosialisasi dan tidak adanya insentif bagi penyuluh pertanian lapa

    Baca lebih detail..