kontan.co.id
banner langganan top
| : WIB | INDIKATOR |
  • EMAS 3.012.000   68.000   2,31%
  • USD/IDR 16.905   -13,00   -0,08%
  • IDX 8.272   -2,31   -0,03%
  • KOMPAS100 1.164   0,60   0,05%
  • LQ45 835   1,00   0,12%
  • ISSI 295   -1,17   -0,39%
  • IDX30 437   0,09   0,02%
  • IDXHIDIV20 522   2,39   0,46%
  • IDX80 130   0,02   0,01%
  • IDXV30 143   -0,62   -0,43%
  • IDXQ30 140   0,46   0,33%

Belajar bikin panekuk langsung ke Kota Medan (2)


Kamis, 04 September 2014 / 16:48 WIB
Belajar bikin panekuk langsung ke Kota Medan (2)
ILUSTRASI. PT Sepatu Bata Tbk (BATA) optimistis dapat mencatatkan pertumbuhan kinerja di sepanjang tahun ini. KONTAN/DANIEL PRABOWO/23/08/2018


Reporter: Tri Sulistiowati | Editor: Havid Vebri

Ferawaty Hidayat sukses menekuni usaha panekuk durian Medan dengan brand Fefe Pancake. Wanita yang akrab disapa Fera ini mendapat ide memulai bisnis setelah bertandang ke Kota Medan, Sumatra Utara.

Dalam kunjungannya ke Kota Medan itu secara kebetulan ia mencicipi kue ini. Dari situ, dia kepikiran untuk membuka usaha ini di Jakarta.

Saat itu, dia juga sedang menganggur setelah melahirkan anak pertamanya. “Saya bosan di rumah tidak ada kerjaan, saya pikir ini makanan unik juga,” katanya.

Keinginannya terjun ke bisnis ini semakin kuat setelah melihat penjual panekuk durian Medan di Jakarta masih sedikit.
Bersama suaminya, ia memulai bisnis ini dengan modal awal Rp 30 juta. Uang tersebut berasal dari tabungan pribadi.

Untuk mendapatkan racikan panekuk durian yang pas, Fera menghabiskan beberapa minggu melakukan percobaan. Ibu satu anak ini juga banyak mencari resep panekuk dari internet.

Agar panekuk miliknya bercita rasa asli Medan, Fera pun sempat pergi lagi ke Medan untuk belajar membuat panekuk.
Sejak kecil, Fera memang sudah gemar membuat kue. Makanya, tak ada beban baginya saat belajar membuat panekuk. "Waktu kecil, saya sudah sering membantu ibu membuat kue kering," katanya.

Sang suami pun turut mendukung keinginannya terjun ke usaha ini. Suaminya juga yang pertama kali mencicipi panekuk hasil racikannya. “Awalnya dia bilang rasanya enak tapi kulitnya terlalu tebal,” tambahnya.

Setelah dirasa pas, Fera mulai memasarkan panekuk bikinannya itu. Pada bulan-bulan pertama, ia hanya mampu memproduksi sekitar 10 boks panekuk . Setiap boks berisi 10 biji. Saat itu, konsumennya masih terbatas di kalangan teman-temannya sendiri dan pelanggan lamanya.

Asal tahu saja, sebelum membuka usaha sendiri, Fera memang sempat menjadi reseller panekuk durian. Selain di lingkaran teman dan pelanggan lama, ia juga getol memasarkan panekuk lewat media sosial, seperti BBM, website, Facebook dan Twitter. Upaya dan kerja kerasnya ini tidak sia.

Kue panekuk buatannya ternyata banyak diminati konsumen. Seiring permintaan yang terus meningkat, ia pun menambah jumlah karyawannya.

Meski hanya melalui media digital, jumlah konsumennya terbilang banyak. Dari sana dia juga menjalin kerjasama dengan belasan reseller.

Dari awal pembukaan usaha hingga saat ini, perempuan yang hobi travelling ini mengaku tidak mengalami kendala berarti dalam menjalankan usahanya. Ia mengklaim, jumlah pesanan panekuk durian dari bulan ke bulan terus meningkat.

Fera bilang, kendala utamanya adalah sulitnya mencari karyawan. “Mencari karyawan ini gampang-gampang susah,” katanya. Kadang dia meminta bantuan teman-temannya untuk dicarikan karyawan. Bahkan, dia juga memasang iklan lowongan kerja di internet.        

(Bersambung)

Cek Berita dan Artikel yang lain di Google News




TERBARU
Kontan Academy
Intensive Sales Coaching: Lead Better, Sell More! [Intensive Workshop] Excel for Business Reporting

[X]
×