Reporter: Tri Sulistiowati | Editor: Havid Vebri
Leni Marlina mulai merintis bisnis kue dengan merek Clio sejak 2007 silam. Ide usaha ini berawal dari ajakan seorang teman untuk melihat bisnis kue pernikahan miliknya.
Sebelumnya, Leni sudah lebih dulu membuka usaha katering.
Tertarik melihat usaha kue temannya yang menguntungkan, Leni lalu memutuskan untuk belajar membuat kue kering nastar. “Saya melihat waktu itu dia bisa sukses, saya pun menjadi tertarik,” katanya.
Sekitar tiga bulan, Leni melakukan percobaan membuat nastar. Tidak jarang, nastar bikinannya gagal. Setelah berhasil, ia mulai memasarkan kue bikinannya itu. Modal awal memulai usaha ini sebesar Rp 5 juta yang berasal dari tabungan pribadi. Untuk peralatan membuat kue, kebetulan Leni sudah memiliki sebuah oven mini.
Pada awalnya, dia mengerjakan seluruh pesanan kue dengan menggunakan oven mini tersebut. Bagi Leni, masa-masa merintis usaha merupakan masa penuh perjuangan.
Kendati rasa kuenya sudah enak di lidah, nastar buatannya tidak lantas diminati konsumen. "Saya pun sering sedih karena produk saya belum laku terjual," kenangnya.
Namun, ia tidak putus asa. Dengan dibantu suaminya, ia terus mempromosikan kue bikinannya. Bila suaminya sedang ke kantor, dia kerap membawa nastar bikinannya untuk ditawarkan kepada rekan kerjanya.
Selain suaminya, saudara-saudaranya juga banyak membantu memasarkan nastar bikinan Leni. Ingin membidik konsumen yang lebih luas, ibu dua anak ini juga menggunakan media digital sebagai media promosi.
Gayung bersambut, kue kering miliknya mulai ramai diserbu pembeli. Di bulan-bulan awal, jumlah pesanan kue nastarnya hanya sekitar 30 toples hingga 70 toples. Seiring brand Clio yang makin kuat, jumlah pelanggannya juga terus bertambah.
Setelah pasarnya membesar, ia lalu menaikkan harga jual kuenya dari sebelumnya Rp 70.000 menjadi Rp 150.000 per toples. Kenaikan harga tak bisa dihindari karena Leni menaikkan mutu dan kualitas kuenya dengan memakai bahan-bahan pilihan. Kendati harga naik, pelanggannya tidak langsung pergi.
Kue bikinannya masih tetap dicari. Biasanya, Leni kebanjiran pesanan kue kering saat menjelang Hari Raya Idul Fitri. "Lebaran tahun ini total pesanan khusus nastar saja mencapai 1.200 toples," katanya.
Bila sebelumnya hanya dikerjakan sendiri, kini Leni sudah mempekerjakan tujuh karyawan. Peralatannya juga sudah bukan oven mini lagi. Kini ia sudah memakai empat oven pabrikan untuk memproduksi seluruh pesanan konsumen.
Seiring usahanya yang terus berkembang, pada 2008 Leni juga mulai melakukan diversifikasi produk dengan membuat kue ulang tahun dan pernikahan. Untuk menghasilkan produk berkualitas dan bagus, ia belajar ke luar negeri, seperti Australia dan Singapura.
Leni tertarik belajar di dua negara itu karena di sana ada ahli kue dan dekorasi. Sepulang dari Australia untuk belajar dekorasi kue, wanita berambut panjang langsung mengaplikasikannya.
(Bersambung)
Cek Berita dan Artikel yang lain di Google News













