: WIB    —   
indikator  I  

Berawal dari warung makan dengan sambal enak (2)

Berawal dari warung makan dengan sambal enak (2)

JAKARTA. Tak pernah terbesit dalam benak Narita Susanty akan menemui sukses dalam bisnis sambal. Berawal dari keisengan membuka warung makan kecil-kecilan, Narita bisa menjelma jadi pengusaha sambal.

Memulai usaha sejak tahun 1990, Narita hanya bermodal Rp 10 juta untuk membuka warung makan di sekitar rumahnya. Saat itu, pengunjung yang datang banyak dari pekerja kantoran, tetangga dan buruh. “Saya buka warung untuk mengisi waktu luang sambil membantu pendapatan keluarga," kata Narita.

Dia pun tak menyangka warung makannya laris. Berbeda dengan warung lainnya, banyak konsumen datang lantaran menyukai sambal buatan Narita. Dari situlah, terbesit ide untuk membuat sambal kemasan sendiri. “Tidak pernah merencanakan untuk khusus jual sambal, tapi waktu itu iseng buat dalam kemasan kecil,” ujarnya.

Ternyata dewi fortuna berpihak pada Narita. Selain ramai dikunjungi konsumen, sambal kemasan kecil yang dijajakan pun laris manis. Dia semakin gencar untuk memasarkan sambal Cap Ibu buatannya.

Tak hanya pengunjung warungnya, sambalnya juga banyak dipesan. Kuncinya, Narita hanya menggunakan bahan-bahan segar, seperti cabai dan bawang, lalu garam dan minyak.

Namun, keberuntungan tidak selalu berpihak pada Narita. Lulusan Universitas Padjajaran ini juga pernah menelan kerugian. Pada tahun 1997, rumah produksi sambal kemasan kebanjiran. Narita pun terpaksa menghentikan produksi karena mesin dan seluruh bahan baku terendam air. “Kejadian yang tak pernah terlupakan saat banjir dan rugi sekali,” pungkasnya.

Tak lantas putus asa, dia segera kembali memproduksi sambal  Cap Ibu. Selain itu, untuk membayar kerugian, dia membuka jalur pemasaran baru, yakni lewat pasar tradisional hingga supermarket. “Berani untuk jualan ritel dan promosi dari mulut ke mulut konsumen sekitar rumah,” imbuh Narita.

Sayang, biarpun Narita mulai gencar promosi, saat itu, ia tak merekrut karyawan khusus untuk bagian pemasaran. Akibatnya, usaha sambalnya kurang berkembang.

Narita mengaku, omzet yang diperoleh tidak cukup meningkat paska kejadian banjir tersebut. Pada tahun 2002, ia hampir putus asa dan sempat untuk memberhentikan produksi sambal Cap Ibu. “Waktu itu terpikir untuk berhenti saja, tetapi ada jalan keluar dari pelanggan yang ke gerai," kata dia.

Ternyata, sang pelanggan membawa sambal Cap Ibu ke Amerika Serikat dan mencoba dijual di toko makanan di sana. Tak disangka, "Ternyata warga negara Amerika banyak yang suka,” seru Narita.

Dengan respon dan permintaan konsumen, Narita bangkit lagi. Meski sebagai pengusaha kecil dan peralatan sederhana, ia optimitis bakal sukses. 

Hingga sekarang, dia masih mengemas sambal ini dengan kemasan sederhana dan bertutup putih. Namun, meski sederhana, Narita yakin sambal Cap Ibu mampu bersaing.  “Menciptakan jenis sambal rumahan khas Indonesia dengan rasa yang pas itu cukup membuat usaha ini bertahan,” tuturnya.                            

(Bersambung)


Reporter Jane Aprilyani
Editor Havid Vebri

USAHA IKM

Feedback   ↑ x