PELUANG USAHA
Berita
Pasar Depok: Berburu burung murah di Solo (1)

SENTRA PASAR BURUNG DEPOK, SOLO

Pasar Depok: Berburu burung murah di Solo (1)


Telah dibaca sebanyak 12457 kali
Pasar Depok: Berburu burung murah di Solo (1)

Bila Anda penyuka burung kicau dan sedang bekunjung ke Solo, Jawa Tengah, sempatkan mampir ke Pasar Burung Depok. Di pasar yang telah berdiri sejak tahun 1980-an ini, Anda bisa menjumpai ratusan pedagang yang menjual segala jenis burung.

Lokasi pasar ini mudah diakses karena berada di tengah kota. Letaknya tak jauh dari kawasan Stadion Manahan dan hanya sepelemparan batu dari Taman Balekambang, Solo.

Namun, jika berkunjung sekarang, Anda akan mendapati pemandangan berbeda dari biasanya. Pasar burung terbesar di Jawa Tengah itu kini bagai pasar tiban.

Para pedagang berjualan di jalanan sebelah luar pasar. Boleh dibilang mereka kini menempati pasar darurat. Pasalnya, pasar tempat mereka berjualan kini sedang dalam tahap pemugaran dan pembangunan.

Pemugaran pasar ini dijanjikan selesai tahun depan. Kendati menempati pasar darurat, minat orang mengunjungi pasar ini tak pernah surut.

KONTAN sempat menyambangi pasar ini pada pekan lalu. Tampak ratusan pedagang menempati kios-kios sementara yang dibangun di jalan sepanjang satu kilometer di luar pasar. Dengan lebar jalan dua meter, pengunjung hanya dibolehkan berjalan kaki, mengendarai sepeda ontel, dan motor.

Hampir setiap hari, Pasar Depok ramai dikunjungi pembeli atau orang-orang yang sekadar datang mencari hiburan dengan mendengarkan kicauan burung.

Selain warga Solo, pengunjung pasar ini juga banyak dari luar daerah. Salah satunya dari Jakarta. "Saya punya banyak pelanggan dari luar kota, termasuk Jakarta," kata Basuki, salah seorang pedagang di pasar ini.

Bagi para pecinta burung, pasar ini memang menjadi lokasi favorit berburu burung. Pasalnya, harga burung disini ebih murah dibandingkan pasar daerah lain, termasuk Jakarta.

Wawan, salah seorang pengunjung Pasar Depok mengaku berasal dari Jakarta. Ia mengaku, kerap mampir ke pasar ini saat berkunjung ke Solo. "Harganya murah," kata Wawan.

Saat itu, ia membeli seekor burung jalak suren dengan harga Rp 300.000. Di Jakarta, harganya bisa Rp 500.000-
Rp 700.000 per ekor.

Selain buat dipelihara sendiri, ia juga mengaku kerap mendapat pesanan dari teman-temannya sesama pecinta burung. "Iya nanti tinggal diganti ongkos transportasi," ujarnya.

Harga beberapa jenis burung di pasar ini murah karena di daerah Solo dan sekitarnya banyak terdapat tempat penangkaran burung. Selain jalak suren banyak juga warga solo menangkarkan burung jenis love bird.

Pedagang lainnya, Satrio mengaku kerap mendapatkan pasokan burung dari para penangkar yang ada di sekitar Solo. Di kiosnya, ia banyak menjual burung love bird dengan harga mulai dari Rp 400.000 per ekor untuk usia tiga hingga empat bulan. Ada pula yang dibanderol
Rp 2,5 juta per ekor seperti burung love bird jenis lutino yang usianya sudah setahun.

Bila ada yang membeli dalam partai besar, harganya bisa lebih murah lagi. Satrio sendiri sering menjual burung dalam partai besar. "Sebulan bisa menjual ratusan ekor dengan omzet di atas Rp 100 juta," ujarnya.

Selain love bird, ia juga menjual burung kicau lain, seperti cucak rowo. Biasanya, setiap pedagang menjual jenis burung yang berbeda.
Hendro, misalnya, banyak menjual burung parkit. Burung ini juga didapatnya dari penangkar. Burung ini tergolong murah dengan harga Rp 40.000 per ekor.

Selain itu, ada juga burung beo yang dijual di Rp 1,5 juta hingga Rp 7 juta.Dari berjualan burung, omzetnya sebulan Rp 10 juta. "Kalau lagi ramai lebih," ujarnya.

Sementara Basuki lebih banyak menjual burung jalak suren. Omzet juga mencapai puluhan juta per bulan.

(Bersambung)

Editor: Havid Vebri
Telah dibaca sebanyak 12457 kali



Syarat & Ketentuan Komentar :
  1. Tidak memuat isi bohong, fitnah, sadis dan cabul.
  2. Tidak memuat isi yang mengandung prasangka dan kebencian terkait dengan suku, agama, ras, dan antargolongan (SARA), serta menganjurkan tindakan kekerasan.
  3. Tidak memuat isi diskriminatif atas dasar perbedaan jenis kelamin dan bahasa, serta tidak merendahkan martabat orang lemah, miskin, sakit, cacat jiwa, atau cacat jasmani.
  4. KONTAN memiliki kewenangan mutlak untuk mengedit atau menghapus komentar yang bertentangan dengan ketentuan ini.

LIPSUS

LIPSUS Update

  • Risiko berbeda, premi tiap daerah seharusnya berbeda juga

    +

    Dalam uji coba pertama, Jasindo mengkover 600 hektare (ha) lahan dengan biaya premi Rp 100 juta.

    Baca lebih detail..

  • Agar sukses, perlu insentif bagi penyuluh lapangan

    +

    Program asuransi pertanian menjadi salah satu upaya pemerintah untuk melindungi petani dari efek perubahan iklim. Hanya saja masih banyak kekurangan yang ditemui, seperti kurangnya sosialisasi dan tidak adanya insentif bagi penyuluh pertanian lapa

    Baca lebih detail..