: WIB    —   
indikator  I  

Berkah berputar dari tari sufi dan saman

Berkah berputar dari tari sufi dan saman

JAKARTA. Suasana Ramadan terasa kental di salah satu mal di bilangan Jakarta Pusat, Sabtu (3/6/2017). Ada yang lebih menarik dibandingkan diskon hari raya sore itu. Di salah satu sudut mal, tampak tiga gadis kecil sibuk bersolek dan merapikan kostum warna warni yang telah mereka kenakan.

Mereka adalah penampil tari sufi dari sanggar Yudha Asri. Begitu lantunan musik shalawat mengalun, mereka langsung memberi salam dan berputar dengan gerakan khas tarian asal Timur Tengah tersebut. Sekitar lima menit, mereka berputar mengikuti irama musik. "Memang biasanya tarian ini durasinya 3-4 menit," ujar M. Rozi, pelatih tari sufi.

Sudah lima tahun terakhir, pemilik Sufi El Tanura Entertainment ini bermitra dengan Sanggar Yudha Asri untuk menyediakan jasa tari sufi. Kepada KONTAN, Rozi menjelaskan bahwa tari sufi merupakan tarian untuk menunjukkan rasa cinta dan kasih sayang kepada sang pencipta.

Tidak ada batas jumlah penari untuk tarian ini. "Mulai satu orang hingga sebanyak-banyaknya. Pria-wanita, tua-muda, bisa menarikan ini," ujar Rozi.

Penari harus mengenakan kostum khusus. Awalnya, kostum hanya warna putih saja. Penarinya menggunakan topi dan sepatu khusus. Ada pula jubah hitam yang turut melengkapi.

Namun, kini kostum tari sufi sudah dimodifikasi dengan warna-warna lainnya. "Harusnya warna putih, melambangkan kain kafan. Dan topinya dibuat tinggi seperti batu nisan. Mengingatkan kita bahwa suatu saat akan meninggal dan menghadap sang pencipta," ujarnya.

Bukan hanya kostum, gerakan tari sufi pun mengalami pengembangan. Salah satunya, gerakan tari sufi tertuang dalam jenis tari tanura. Menurut Rozi, tari tanura lebih kompleks dan dilengkapi beberapa atraksi tambahan.

Melalui Sanggar Yudha Asri, Rozi menawarkan jasa sewa tari sufi. Permintaan datang dari acara-acara keagamaan maupun pernikahan. Dalam lima tahun terakhir, Rozi pernah membawa timnya untuk tampil di beberapa acara, tak hanya di Jakarta, tapi juga di daerah lain seperti Banjarmasin, Palembang, Surabaya, dan Makassar.

Penari lainnya adalah Arief Hamdani dari Jakarta. Tahun 2003 lalu pasca mahir menari sufi, dia mendirikan zawiyah dengan nama Pondok Rumi. Selain zikir dengan menari, kegiatan lainnya yang dilakukan adalah menari saman. Sampai sekarang ada 70-100 orang yang bergabung dengan zawiyah tersebut.

Meski terlihat sederhana, rupanya ada teknik tersendiri dalam tarian ini, yaitu dengan bertumpu pada kaki kiri dan kaki kanan berputar. Arief pun mengatakan, penari  harus teratur dan disiplin serta selaras. Dia mengaku, untuk para pemula biasanya akan muntah atau pusing.

Untuk menghasilkan gerakan yang indah dan dinamis, Arief mengaku para penari harus berlatih terus-menerus dan menumbuhkan cinta dalam dirinya.

Penari sufi lainnya, Mohammad dari Pondok Pesantren Nailun Najah Jepara. Mendirikan pondok sejak tahun 2009, awalnya ia memasukkan tari sufi sebagai kegiatan budaya yang memacu kreativitas anak-anak pondok.

Menurut dia, yang membedakan tari sufi dengan lainnya yaitu semua perlengkapan seperti pakaian dan topi memiliki filosofi tersendiri. Dan tari sufi pun bukan tarian umum karena menggerakkan jiwa, mendorong hal spiritual penari dan menyembuhkan beberapa penyakit.

Hal utama yang dibutuhkan untuk tari sufi adalah kelakuan baik dan jiwa yang bersih. Selebihnya, kata Mohammad, penari harus memiliki baju, sepatu, dan topi. Selebihnya gerakan tari sufi adalah berputar-putar. Dia menyatakan, paling lama sebulan sudah bisa mempelajari tari sufi.

Mohammad pun tak membeberkan harga yang ditawarkan untuk belajar tari sufi. Tetapi sebagai gambaran, harga topi sufi dari Turki  sekitar Rp 1,5 juta, baju senilai Rp 1,5 juta dan sepatu Rp 500.000.

Sejak pertama menari,  Mohammad sering diminta supaya pentas di beberapa stasiun televisi, hotel dan pedesaan di seluruh Indonesia. Ia mempromosikan jasanya melalui Facebook. Namun, tahun ini, Mohammad akan vakum dulu dari kegiatan tari sufi.

Banjir pesanan

Momen Ramadan memang jadi masa panennya banyak pelaku usaha, termasuk usaha penyedia jasa tari sufi. Seperti yang dikatakan oleh Rozi, selama bulan Ramadan, sanggarnya bisa tampil di 3-4 acara dalam satu hari. "Ramadan ini saja jadwal kami sudah penuh sampai Lebaran dan halal bi halal," tuturnya.

Rozi sendiri, memasang tarif sewa tari sufi berdasarkan jumlah penampil. Penampil anak-anak biasanya akan disewa dengan harga Rp 500.000-Rp 600.000 per penampilan. Sedangkan penari dewasa bertarif

Rp 700.000-Rp 1,5 juta per orang sekali penampilan.

Berdasarkan penuturan Rozi, uang sewa tersebut sepenuhnya menjadi milik penampil. Sanggar tidak memungut biaya untuk latihan maupun dalam rangka memfasilitasi penampil. Namun, biasanya penampil akan memberikan bayaran secara sukarela ke sanggar.

Secara khusus bulan Ramadan ini, Anda akan mudah sekali menemukan pertunjukan tari sufi di pusat perbelanjaan. Arief yang juga menjadi pemain dalam jasa sewa tari sufi pun mengamini hal itu, tapi tarian ini juga banyak dipertunjukkan dalam ajang-ajang islami lainnya seperti acara khitan, festival islam, dan lainnya.

Dalam sekali pertunjukan biasanya hanya dibutuhkan waktu sekitar 10 menit. Bahkan untuk persiapannya hanya sekitar satu jam dengan melakukan penyesuaian panggung.

Asal tahu saja, selain sering mengisi acara-acara islami didalam negeri, Arief pun sempat menggelar pertunjukan di Jepang, tepatnya di Universitas Waseda.

Saat ini ada sekitar 40 muridnya yang sudah mahir dalam menari sufi. Sayangnya, dia enggan mengungkapkan fee yang diterimanya.

"Kami pun tidak mematok tarif bila untuk acara amal tapi, kalau pertunjukan di mal, bayaran yang kami terima akan digunakan kembali untuk membiayai zikir rutin," tambahnya. Dari perhitungannya, dibutuhkan modal sekitar Rp 2 juta sampai Rp 8 juta untuk memberi makan 70-100 orang di zawiyah miliknya.

Dia juga bercerita tidak ada channel khusus untuk mempromosikan jasa yang dia sediakan. Banyak pihak bisa mengetahui dirinya melalui program televisi dan mulut ke mulut.


Reporter Jane Aprilyani, Nisa Dwiresya Putri, Tri Sulistiowati
Editor Havid Vebri

USAHA IKM

Feedback   ↑ x