PELUANG USAHA
Berita
Bisnis minuman energi masih segar

TAWARAN KEMITRAAN KULINER: MINUMAN ENERGI

Bisnis minuman energi masih segar


Telah dibaca sebanyak 4297 kali
Bisnis minuman energi masih segar

Minat masyarakat Indonesia untuk mengonsumsi minuman energi cukup tinggi. Terbukti bisnis minuman kesehatan yang terbuat dari hasil racikan lokal masih mendatangkan laba segar.

Minuman energi racikan lokal ini mengandung banyak zat yang menyehatkan, harganya juga bersahabat. Di sisi lain, minuman kesehatan ini mudah didapatkan lantaran dijual di tempat keramaian. Meskipun saat ini, jumlah minuman impor yang diproduksi secara massal semakin menjamur di pasaran, tapi keberadaan minuman kesehatan tetap kokoh di pasar.

Kini sejumlah pemain di bisnis minuman kesehatan hasil racikan lokal terus melakukan ekspansi. Bersamaan dengan itu, mereka juga gencar melakukan inovasi dengan melahirkan menu-menu baru sehingga dapat memikat pelanggan baru, tanpa harus kehilangan pelanggan setia.

Meskipun begitu, tidak semua pemain di bisnis minuman kesehatan ini mengalami pertumbuhan yang baik. Ada juga pemain yang mengalami pertumbuhan stagnan, lantaran bermain di segmen atas dan harga yang lebih tinggi. Berikut review usaha mereka:


• Red Ginger Corner

KONTAN pernah mengulas bisnis minuman sehat, kemitraan Red Ginger Corner milik Untung Nugroho pada September 2010 silam. Usaha yang bermarkas di Cengkareng Jakarta Barat ini menawarkan minuman dingin berbagai rasa dengan menggunakan bahan baku jahe merah.

Untung menawarkan kemitraan Red Ginger Corner dengan produk jahe merah instan. Ia juga menjadi produsen minuman sehat tersebut. Pada waktu itu, Untung sudah memiliki dua cabang milik sendiri, dan lima mitra yang tersebar di Sukabumi, Cilegon, Bandung bahkan Surabaya.

Setelah hampir dua tahun berselang, saat ini, Mitra Untung mengalami pertumbuhan signifikan menjadi 18 mitra. Sementara, cabang milik Untung sendiri tidak mengalami perubahan yakni tetap dua. Mitra baru tersebut tersebar di beberapa wilayah di Indonesia seperti Bengkulu, Maluku dan Padang.

Saat ini Red Ginger Corner menjual minuman jahe merah dengan harga Rp 5.000 hingga Rp 10.000 per gelas. Harga tersebut tergantung ukuran gelasnya. Jika ukuran gelasnya lebih besar maka harganya juga lebih mahal.

Untung optimistis, pasar minuman sehat, yang diproduksi dari hasil bumi Indonesia ini masih bisa meraih hati masyarakat. "Saya masih yakin pasar untuk minuman kesehatan seperti jahe merah ini masih besar, tapi kami harus tetap inovatif," jelas Untung.

Meski mitra tumbuh pesat, Untung belum mengubah paket kemitraan yang ia tawarkan. Yakni paket standar dengan investasi Rp 7,5 juta, mitra akan mendapatkan booth, peralatan usaha lengkap, banner, satu setel seragam karyawan dan pelatihan.

Mitra juga tetap tidak terbebani oleh biaya royalti. Dengan investasi sebesar itu, Untung memperkirakan mitra akan balik modal dalam waktu enam hingga delapan bulan, atau sedikit lebih lama dari yang dijanjikan sebelumnya yakni sekitar lima bulan. Dengan asumsi setiap mitra bisa menjual sebanyak 40 gelas jahe merah per hari. "Kami harus realistis, bahwa bisnis ini membutuhkan kerja keras dan inovasi," katanya.

Hingga saat ini Untung juga belum merealisasikan rencana membuka paket resto atau kafe. Pasalnya, sampai kini belum ada peminat. Waktu itu, ia memprediksi biaya investasi untuk mendirikan kafe ini sekitar Rp 50 juta hingga Rp 100 juta. Meski belum jalan, Untung tetap akan menggarap proyek tersebut,

Untuk saat ini dia masih fokus memperkuat bisnis yang ada agar bisa berjalan. Salah satu strategi yang dilakukan Untung dalam mempertahankan dan membesarkan bisnis dengan cara inovasi dan memasang iklan.


• Manna Drink

Selain Red Ginger Corner, KONTAN juga pernah membedah kemitraan minuman kesehatan dari Manna Drink pada September 2011.

Manna Drink merupakan minuman kesehatan yang terbuat dari winter melon. Di Indonesia buah ini dikenal dengan sebutan buah kundur yang manis. Konon minuman ini mengandung ekstrak sayuran, sehingga bisa meredakan panas dalam dan bisa menjadi makanan pengganti, bagi mereka yang tidak suka melahap sayuran. Pasalnya, minuman ini mengandung 45 macam ekstrak sayuran.

Manna Drink adalah usaha yang berbasis di Bandung, menjadi bagian dari CV Bakso Kaget. Bisnis ini mulai dirintis di akhir tahun 2010. Kemudian pada Juni 2011, usaha minuman kesehatan ini mulai menawarkan kemitraan.

Saat itu, Manna Drink punya dua mitra yakni dari Semarang dan Jambi. Kedua mitra tersebut, masing-masing membuka lima booth (gerai) di kotanya.

Berselang tujuh bulan, kini mitra Manna Drink juga mengalami pertumbuhan signifikan yakni menjadi 20 mitra. Mitra tersebut tersebar di sejumlah wilayah seperti Jambi, Jakarta, dan Semarang.

Pertumbuhan tersebut tak terlepas dari semakin tingginya minat masyarakat Indonesia untuk mengonsumsi minuman kesehatan. Menurut Heri Hermawan, Manajer Divisi Pemasaran CV Bakso Kaget, rata-rata penjualan Manna Drink di tiap gerai per hari mencapai 40 gelas - 80 gelas. Minuman ini dibanderol Rp 4.000 - Rp 6.000 per gelas, tergantung topping-nya yaitu nata de coco, jeli, dan lainnya.

Alhasil, dalam sebulan mitra bisa meraup omzet penjualan Rp 15,5 juta, dengan margin laba sekitar 50 % dari omzet.

Manna Drink menawarkan kemitraan senilai Rp 80 juta untuk membuka lima gerai di lokasi berbeda. Kini, Manna Drink juga menawarkan paket investasi lebih murah, yakni satu gerai Rp 12 juta, dengan membidik lokasi di sekitar mal. “Dan sekarang ini mulai banyak yang mengambil paket Bakso Kaget dan Manna Drink, jadi lengkap makanan dan minuman di satu tempat," terang Heri.


• Mamio Cafe

Bisnis minuman energi lainnya yang ingin kami kupas adalah Mamio Cafe. KONTAN pernah membedah kemitraan minuman kesehatan ini pada April 2011. Minuman yang bermarkas di Jakarta ini mengusung konsep healthy drink.

Mamio Cafe menawarkan menu aneka yoghurt seperti frozen yoghurt dan fresh yoghurt, serta aneka minuman lain seperti teh dan yang minuman tradisional berupa kunyit asam dan beras kencur.

Saat berdiri, Mamio Cafe telah memiliki tujuh cabang. Lima di antaranya merupakan milik sendiri, dan dua milik mitra. Namun, setelah hampir satu tahun berselang, Mamio Cafe yang baru menawarkan kemitraan pada bulan Maret 2011, belum mengalami pertambahan cabang dan mitra. Saat ini, kedua mitra Mamio cafe tersebar di kawasan Jabodetabek.

Mamio Cafe menjual minuman dengan harga mulai Rp 3.000 - Rp 10.000 per gelas. Menurut Bing Andimulya, pemilik Mamio Cafe menuturkan, rata-rata omzet setiap gerai mencapai sekitar Rp 20 juta per bulan, dengan laba kotor 50%. Pasalnya mitra atau pengelola gerai harus membayar biaya sewa tempat sekitar Rp 3 juta hingga Rp 5 juta per bulan.

Untuk meningkatkan jumlah pelanggan dan minat calon mitra, Bing telah mempersiapkan strategi baru. Yakni memproduksi menu baru berupa minuman herbal. Dengan menu baru tersebut pada tahun 2012 ini, Bing optimistis bisa membuka gerai baru di Yogyakarta, Bandung dan Surabaya. "Kami yakin target membuka gerai baru dapat tercapai," terangnya.

Editor: Tri Adi
Telah dibaca sebanyak 4297 kali



Syarat & Ketentuan Komentar :
  1. Tidak memuat isi bohong, fitnah, sadis dan cabul.
  2. Tidak memuat isi yang mengandung prasangka dan kebencian terkait dengan suku, agama, ras, dan antargolongan (SARA), serta menganjurkan tindakan kekerasan.
  3. Tidak memuat isi diskriminatif atas dasar perbedaan jenis kelamin dan bahasa, serta tidak merendahkan martabat orang lemah, miskin, sakit, cacat jiwa, atau cacat jasmani.
  4. KONTAN memiliki kewenangan mutlak untuk mengedit atau menghapus komentar yang bertentangan dengan ketentuan ini.

LIPSUS

LIPSUS Update

  • Simak sektor mana saja yang prospektif!

    +

    Sejak awal tahun hingga 22 September 2014, saham-saham sektor perbankan memberikan return terbesar.

    Baca lebih detail..

  • Meramal gerak IHSG setelah rekor

    +

    Analis berbeda pendapat soal prospek kinerja IHSG ke depannya.

    Baca lebih detail..