PELUANG USAHA
Berita
BUDIDAYA IKAN NEON TETRA NAN ADUHAI

BUDIDAYA IKAN NEON TETRA NAN ADUHAI


Telah dibaca sebanyak 2151 kali
BUDIDAYA IKAN NEON TETRA NAN ADUHAI

Banyak ikan hias berhasil dibudidayakan di Indonesia. Salah satunya ikan neon tetra yang tak kalah cantik dari jenis koi. Keunggulan neon tetra, harganya relatif stabil. Asyiknya, permintaan dari pasar ekspor masih besar dan breeder yang ada masih kewalahan.

Ada beberapa jenis tetra yang beken di Tanah Air: green tetra, blue tetra, silver tetra, dan neon Tetra. Beragam spesies ikan tetra ini memang berpenampilan indah. Salah satu ikan yang paling terkenal dan banyak diminati adalah neon tetra.

Ikan hias yang berhabitat asli di Sungai Amazon, Amerika, ini memiliki garis neon biru dan merah di sepanjang tubuh. Alhasil, ikan ini terlihat sangat indah. Panjang tubuh neon tetra maksimal sekitar 4 cm.

Bentuk ikan jantan lebih panjang dan ramping daripada neon tetra betina. Adapun bentuk ikan betina bulat pendek dengan perut agak membesar. Pada ikan jantan, garis neonnya lurus, sedangkan garis neon betina agak bengkok.

Namun, pembudidaya (breeder) neon tetra di Tanah Air masih sangat terbatas. Saat ini baru ada beberapa peternak neon tetra di Sawangan, Depok, Jawa Barat. Sedangkan untuk pembesaran neon tetra sudah ada di Jakarta, Bekasi, Bali, dan Yogyakarta.

Aditya Satya, salah satu breeder neon tetra di Sawangan, sudah 10 tahun membudidayakan neon tetra. Dia tertarik ikan ini karena permintaannya tak pernah surut. Sejak awal budidaya sampai sekarang, harga ikan ini juga stabil. "Kalau harga ikan kardinal tetra itu bisa naik turun berkali-kali lipat," ujarnya.

Anakan ikan berukuran 0,8 cm yang berusia 40 hari dihargai Rp 150 per ekor. Sedang harga neon tetra berukuran 3 cm mencapai Rp 600 per ekor. Kapasitas breeding neon tetra milik Aditya berkisar 120.000-200.000 ekor sebulan.

Aditya memasok hasil breeding ke koperasi peter-nak neon tetra di Sawangan. Koperasi melego sekitar 90% hasil budidaya neon tetra yang masuk ke para eksportir yang menjual ke pasar Singapura, Amerika Serikat, dan Eropa. Sisa pasokan untuk peternak pembesaran lokal.

Aditya mengatakan, selain sebagai ikan hias, di Eropa, ikan bernama latin Paracheirodon innesi ini diam-bil zat warnanya untuk bahan kosmetika. Kondisi ini membuat permintaan Neon Tetra semakin besar.

Peluang bisnis semakin manis lantaran baru Indone-sia dan China yang berhasil membenihkan neon tetra. Aditya dan breeder neon tetra di Sawangan kerap kewalahan memenuhi permintaan eksportir. "Mereka mau dua juta ekor per bulan, padahal produksi total koperasi maksimal itu satu juta ekor," katanya.

Menjadi Breeder Lebih Menguntungkan

Neon tetra termasuk spesies ikan yang paling kuat dan tidak gampang mati. Ikan ini pun paling cepat berkembang biak. Makanya, para peternak yang sudah berpengalaman lebih suka membudidayakannya.

Prospek usaha budidaya ikan neon tetra untuk pasar ekspor masih cerah. Pasar terbuka lebar dan pesaing di dunia hanya China. Itu pun, proses budidaya ikan ini di China tak bisa berlangsung sepanjang tahun karena ada perbedaan musim. Sedangkan budidaya ikan ini di Indonesia berlangsung sepanjang tahun.

Selain itu, ikan ini tergolong kuat dan tidak gampang mati. Hanya saja, neon tetra membutuhkan tempat hidup berupa air yang khusus. Pembudidaya neon tetra di Sawangan, Depok, Jawa Barat, Aditya Satya mengatakan, ikan ini hidup di air dengan tingkat keasaman atau PH 5,0-7,0, dan tingkat kesadahan 1,0-2,0. Air ledeng di Jakarta tak cocok menjadi habitat neon tetra karena cenderung tidak murni.

Aditya menyebut budidaya ikan ini tidak bisa dilakukan di semua wilayah Indonesia. "Untuk Bogor dan Depok masih bisa cari air yang bagus," kata Aditya.

Ikan neon tetra dapat hidup dan berproduksi hingga usia lima tahun. Indukan jantan dan betina mulai berproduksi sejak usia 5-6 bulan. Sebelum proses perkawinan, Aditya memberi banyak makanan kepada indukan untuk merangsang bertelur.

Awalnya Aditya membeli indukan neon tetra dari rekannya sejumlah 150 pasang. Saat ini dia memiliki sekitar 1.300 pasang induk. Dia membudidayakan neon tetra dalam 400 akurium berbagai ukuran. Memang, modal terbesar usaha ini adalah akuarium.
Keberhasilan beternak neon tetra tak luput dari pengalaman dalam memperlakukan ikan. Dua hal inilah yang menjadi kendala bagi peternak pemula.

Terlepas dari berbagai ken-dala, Aditya menyebut beter-nak neon tetra cukup menguntungkan. Hanya dalam hitungan sehari sejak dikawinkan, ikan akan bertelur.

Tiap bulan, Aditya mengawinkan 1.300 pasang indukan neon tetra di dalam akuarium khusus. Akuarium ini tertu-tup plastik hitam dan berada di ruang gelap. Penerangan akuarium harus redup karena telur ikan sangat sensitif terhadap cahaya.

Setelah ikan bertelur, peternak memisahkan induk dari telur. Sepasang induk bisa menghasilkan sekitar 100 telur. Dalam hitungan 24 jam, telur akan menetas menjadi burayak (anakan).

Burayak dipindahkan ke akurium terpisah dan diberi pakan artemia atau telur udang laut yang diimpor dari AS dan Thailand. Aditya menghabiskan tiga kaleng artemia tiap bulan untuk pakan anak. Harga satu kaleng artemia ukuran 1 kg sekitar Rp 400.000.
Untuk pemeliharaan anakan, kotoran di akuarium perlu disedot dari bawah dua minggu sekali. Penyakit yang biasa menjangkiti neon tetra adalah karatan di tubuh.

Makanya, Aditya memberi larutan garam dapur ke dalam air akuarium. "Anakan yang hidup hingga ukuran 0,8 cm dari sepasang indukan hanya sekitar 20 ekor," katanya.

Untuk menghindari penge-luaran pakan dan risiko kematian yang tinggi, Aditya memilih menjual anakan dan tidak melakukan pembesaran. Dengan produksi 120.000-200.000 ekor sebulan dan harga jual Rp 150 seekor, omzet Aditya sekitar Rp 18 juta-Rp 30 juta saban bulan.

Margin labanya mencapai 70%. Sebab, ia hanya mengeluarkan biaya pakan 40 hari dan membayar tiga pekerja.

Sumber:
Telah dibaca sebanyak 2151 kali



Syarat & Ketentuan Komentar :
  1. Tidak memuat isi bohong, fitnah, sadis dan cabul.
  2. Tidak memuat isi yang mengandung prasangka dan kebencian terkait dengan suku, agama, ras, dan antargolongan (SARA), serta menganjurkan tindakan kekerasan.
  3. Tidak memuat isi diskriminatif atas dasar perbedaan jenis kelamin dan bahasa, serta tidak merendahkan martabat orang lemah, miskin, sakit, cacat jiwa, atau cacat jasmani.
  4. KONTAN memiliki kewenangan mutlak untuk mengedit atau menghapus komentar yang bertentangan dengan ketentuan ini.

LIPSUS

LIPSUS Update

  • Risiko berbeda, premi tiap daerah seharusnya berbeda juga

    +

    Dalam uji coba pertama, Jasindo mengkover 600 hektare (ha) lahan dengan biaya premi Rp 100 juta.

    Baca lebih detail..

  • Agar sukses, perlu insentif bagi penyuluh lapangan

    +

    Program asuransi pertanian menjadi salah satu upaya pemerintah untuk melindungi petani dari efek perubahan iklim. Hanya saja masih banyak kekurangan yang ditemui, seperti kurangnya sosialisasi dan tidak adanya insentif bagi penyuluh pertanian lapa

    Baca lebih detail..