PELUANG USAHA
Berita
Cangkang kerang yang memberi untung gila-gilaan

PELUANG BISNIS CANGKANG KERANG

Cangkang kerang yang memberi untung gila-gilaan


Telah dibaca sebanyak 3900 kali
Cangkang kerang yang memberi untung gila-gilaan

Kerang tidak cuma enak disantap. Bagi sebagian orang, rumah kerang yang biasa disebut cangkang juga barang yang layak dikoleksi. Asal Anda tahu, harga cangkang kerang bisa terbang seperti layaknya collectible item.

Jika Anda masih meragukan nilai ekonomis setangkup cangkang, simak saja pengalaman tak enak Widodo Latip. Pria yang mengoleksi cangkang sejak 1990, saat masih berusia 25 tahun, ini pernah dikejar-kejar Federal Bureau of Investigation (FBI) dan polisi New York, beberapa tahun lalu. Latip dituding menadah kerang jenis Chimaera incomparabilis yang dimiliki American Museum of Natural History New York. Asal tahu saja, jumlah kerang jenis ini dengan ukuran diameter 66,3 mm hanya ada empat–lima biji di dunia. Akibatnya, satu cangkang bisa seharga US$ 20.000.

Belakangan, Latip berhasil membuktikan kepada para penegak hukum Negeri Paman Sam bahwa koleksinya berbeda dengan kerang milik museum yang hilang. Latip juga menyodorkan bukti transaksi yang sah, sehingga lolos dari tudingan. “Saya membeli kerang itu resmi dari kolektor bernama Ted Baer,” tutur Widodo.

Memang, tak semua cangkang kerang semahal Chimaera koleksi Widodo. Jenis kerang yang bisa berlari kencang tentu kelompok kerang yang jumlahnya langka. Sekadar menyebut nama familia kerang langka nan mahal itu, antara lain Pleurotomaria, Cypraidae, Muricidae, Conidae, dan Volutidae.

Jika Anda tertarik mengoleksi cangkang kerang, informasi awal bisa Anda cari dari sesama kolektor. Di Indonesia, wadah yang menghimpun para penggemar kerang adalah Solaris Shell Club (SSC). Para anggota kelompok ini sering mengadakan pameran bareng. Bahkan, para anggota SSC kerap hunting bareng cangkang kerang sampai ke pulau-pulau kecil.

Banyak rujukan penambah pemahaman koleksi maupun investasi kerang. “Bisa kita lihat di www.ofseaandshore.com atau buku katalog karangan Tom Rice,” ujar George Hadiprajitno, Ketua SSC. Isi buku Rice adalah seluruh kerang jenis moluska, laut maupun darat, beserta harga wajarnya. Itu sebabnya, buku yang diperbarui setiap enam bulan sekali itu merupakan pegangan wajib bagi mereka yang ingin berdagang cangkang kerang. Rice mengumpulkan harga dari berbagai balai lelang maupun diler penjual kerang.

Rice menuliskan dengan cukup detail, misalnya nama familia, kelas, sub-kelas, spesies, kapan penemuannya, dan siapa penemu pertamanya. Di katalog tersebut dia juga menunjukkan peringkat yang menjelaskan kondisi setiap kerang.

Ambil contoh peringkat F untuk fine, yang berarti cangkang dalam kondisi bersih dan warnanya tidak pudar. Berikutnya, peringkat F++ untuk kualitas bagus dan mendekati sempurna. Di atasnya adalah G untuk cangkang yang memiliki kualitas gem alias sempurna.

Kendati negara kepulauan, Indonesia belum pernah menggelar lelang cangkang kerang. Kebanyakan kolektor moluska negeri ini berbelanja di lelang yang berlangsung di Amerika Serikat atau Filipina.

Di masa digital seperti sekarang, lelang cangkang kerang juga bisa diikuti secara online dengan mengakses alamat www.shellauction.net. Situs tersebut akan menghubungkan Anda dengan diler penjual ataupun pembeli.

Tapi, George menyarankan mereka yang baru akrab dengan jagat cangkang melakukan transaksi tatap muka secara langsung. Jadi, bisa menyaksikan secara langsung corak warna, pahatan, dan lekukan cangkang.


Harga bisa anjlok

Seperti layaknya investasi, koleksi kerang juga menyebar risiko. George menceritakan, pernah sekali harga kerang di pasar internasional anjlok dari kisaran US$ 1.000 sampai US$ 3.000, menjadi cuma US$ 30. “Penyebabnya tak lain karena tiba-tiba ada penemuan kerang berjenis sama dalam jumlah banyak,” kata George, tanpa memerinci jenis kerang yang mengalami penurunan harga.

Widodo menyarankan, kolektor kerang tak perlu buru-buru menjual kerang di saat harga naik tinggi. Adapun George menyarankan kolektor melakukan one on one meeting dengan pembeli untuk mendapatkan harga yang lebih baik.

Jika menyimak penuturan para kolektor kerang kelas kakap, seperti Widodo atau George, memutar uang di cangkang kerang memang tak mudah. Harus ada rasa suka alias hobi dan niat mengoleksi. “Beruntung kalau mendapatkan return yang bagus,” kata Widodo.

Dari sejumlah kerang milik Widodo, banyak yang memang mengalami kenaikan harga. Terutama koleksi yang dibeli Widodo di sekitar 1998–1999. Saat harga dolar cuma Rp 2.500, Widodo sempat membeli kerang seharga US$ 10.000. Tapi, Widodo hanya tersenyum ketika di tanya berapa besar gain yang ia dapat dari kerang koleksinya. “Saya hanya untung dari selisih kurs,” ujar Widodo dengan nada merendah.

Koleksi kerang Widodo terbilang gemerlap. Tengok saja, selain memiliki Chimaera incomparabilis, Widodo juga mengoleksi Conidae conus primus yang hanya ada empat biji di dunia. Harga kerang langka itu US$ 20.000. Ada juga Pataovula horohitoi yang berasal dari wilayah perairan Filipina. Kerang berukuran 5,6 mm itu ditaksir berharga US$ 1.000.

Kini jelas, tak mudah meraih gain dari investasi kerang. Anda masih berminat menyemai dana ke kerang?

Editor: Tri Adi
Telah dibaca sebanyak 3900 kali



Syarat & Ketentuan Komentar :
  1. Tidak memuat isi bohong, fitnah, sadis dan cabul.
  2. Tidak memuat isi yang mengandung prasangka dan kebencian terkait dengan suku, agama, ras, dan antargolongan (SARA), serta menganjurkan tindakan kekerasan.
  3. Tidak memuat isi diskriminatif atas dasar perbedaan jenis kelamin dan bahasa, serta tidak merendahkan martabat orang lemah, miskin, sakit, cacat jiwa, atau cacat jasmani.
  4. KONTAN memiliki kewenangan mutlak untuk mengedit atau menghapus komentar yang bertentangan dengan ketentuan ini.

LIPSUS

LIPSUS Update

  • Ada ratusan produk, pilih mana?

    +

    Ada sekitar 850 produk reksadana beredar saat ini. Pilihlah yang sesuai dengan gaya investasimu

    Baca lebih detail..

  • Menimbang return reksdana dan investasi lain

    +

    Return reksadana memang ciamik sepanjang tahun ini. Tapi, belakangan muncul gejolak di pasar. Apakah lebih baik mengamankan aset di instrumen aman seperti deposito, atau emas yang harganya sekarang lebih murah?

    Baca lebih detail..