PELUANG USAHA
Berita
Cantik peluang budidaya tanaman purba (1)

BUDIDAYA SIKAS NAGA

Cantik peluang budidaya tanaman purba (1)


Telah dibaca sebanyak 3087 kali

JAKARTA. Para pecinta tanaman hias tentu tak asing dengan sikas naga. Tanaman bernama latin Cycas affinity rumphii ini mirip pakis. Daunnya yang berwarna hijau menyerupai bulu, tumbuh mengarah ke luar dari batang. Adapun, bentuk batangnya unik, karena ditutupi sisik-sisik berwarna cokelat, layaknya sisik naga. Makanya, di Indonesia, tanaman ini biasa disebut Sikas Naga.

Karena keelokan dan keunikan rupanya, banyak pecinta tanaman yang berburu sikas naga. Namun, karena termasuk tanaman purba, stok sikas naga tak banyak tersedia di pasaran. Maklum, budidayanya tak mudah. Keindahan tanaman ini terbentuk dari terpaan alam. Meski begitu, ada yang sudah mulai membudidayakan sikas naga.
 
Salah satunya, Andi Marthen,  pemilik Belantara Nursery di Bogor, Jawa Barat. Ia sudah membudidayakan sikas naga sejak 2008. Menurutnya, permintaan  sikas naga cukup tinggi. Awalnya, ia mengambil sikas naga dari habitat aslinya di Pulau Lihukang, Sulawesi Selatan. "Saya ambil sekitar 100 pohon, lalu dibudidayakan di Bogor," tuturnya.

Pria 41 tahun ini mengklaim, pohon sikas naga yang diambil dari Pulau Lihukang sudah berusia lebih dari 100 tahun. Ukurannya sekitar satu meter. Namun harganya bisa sampai Rp 10 juta.

Nah, untuk memperbanyak tanaman, Andi mengembangbiakkan melalui biji. Saat sikas naga berumur 100 tahun, tanaman ini mulai berbuah. Dari buahnya bisa diambil biji untuk ditanam, sehingga menghasilkan bibit. "Karena sekarang indukan tinggal dua pohon, saya hanya jual bibit," ujarnya.

Andi menjual bibit sikas naga setinggi 5 cm-7 cm berkisar antara Rp 500.000-Rp 700.000 per bibit. Ia mengaku, kewalahan memenuhi permintaan. Pasalnya, siklus pertumbuhan sikas naga tergolong lambat. Dalam setahun, tanaman ini hanya bisa tumbuh sekitar 1 centimeter (cm).

Ia dapat menjual 15 - 20 bibit sikas per bulan. Omzetnya mencapai Rp 12 juta sebulan.

Penjual sikas naga di Indramayu, Dedy Soedarmanto menilai, tanaman ini digemari lantaran bentuknya bagus dan eksotik.

Pemilik Wijaya Puspana Flowers ini biasa mengambil sikas naga dari kawasan Kuningan, Jawa barat. Sebelum dijual, ia merawatnya lebih dulu. Sebab, semakin unik bentuknya, dan semakin besar, otomatis semakin tinggi harga jualnya.

Biasanya, Dedy melego tanaman ini saat sudah mencapai tinggi 1 meter hingga 1,5 meter. Harganya berkisar Rp 3 juta hingga Rp 6 juta per pohon.
Namun, karena pertumbuhannya lambat, Dedy terkendala pasokan. Dalam setahun ia hanya bisa melego 15 pohon, dengan omzet sekitar Rp 45 juta-Rp 90 juta per tahun. Namun, laba bersihnya lebih dari 50%. (Bersambung)

Editor: Dupla KS
Telah dibaca sebanyak 3087 kali



Syarat & Ketentuan Komentar :
  1. Tidak memuat isi bohong, fitnah, sadis dan cabul.
  2. Tidak memuat isi yang mengandung prasangka dan kebencian terkait dengan suku, agama, ras, dan antargolongan (SARA), serta menganjurkan tindakan kekerasan.
  3. Tidak memuat isi diskriminatif atas dasar perbedaan jenis kelamin dan bahasa, serta tidak merendahkan martabat orang lemah, miskin, sakit, cacat jiwa, atau cacat jasmani.
  4. KONTAN memiliki kewenangan mutlak untuk mengedit atau menghapus komentar yang bertentangan dengan ketentuan ini.

LIPSUS

LIPSUS Update

  • Siap-siap, mobil murah tak lagi terjangkau

    +

    Harga mobil LCGC kemungkinan naik akibat inflasi dan pengurangan insentif.

    Baca lebih detail..

  • Adu gengsi produsen otomotif

    +

    Tren mobil baru di ajang Indonesia International Motor Show 2014.

    Baca lebih detail..