: WIB    —   
indikator  I  

Celengan Littly yang bikin koin jadi berarti

Celengan Littly yang bikin koin jadi berarti

KONTAN.CO.ID - Sehabis belanja di gerai ritel modern, Anda tentu pernah mendapat kembalian uang logam pecahan kecil, baik Rp 100 maupun Rp 200. Yang sering membeli sesuatu di minimarket, pasti tidak hanya sekali dua kali memperoleh kembalian koin, sering.

Tapi, sebagian dari Anda tidak terlalu peduli dengan uang logam pecahan kecil. Alhasil, kerap kali meletakkan koin di sembarang tempat.

Padahal, kalau koin itu Anda kumpulkan dalam satu wadah, misalnya, stoples, maka seperti pepatah bilang: sedikit demi sedikit, lama-lama menjadi bukit.

Bank Indonesia (BI) menyebutkan, perilaku yang tidak terlalu peduli dengan uang logam pecahan kecil menyebabkan koin tidak pernah tersirkulasi secara baik dan kembali ke sistem perbankan. Bank sentral akhirnya terus meningkatkan pencetakan uang logam.

Info saja, sepanjang 1994–2013, BI mengeluarkan sekitar Rp 7,12 triliun uang logam. Tapi, yang kembali ke sistem perbankan hanya Rp 1,83 triliun atau 26,7% saja. Fenomena menyimpan uang logam dan tidak membelanjakannya kembali tersebut disebut hoarding.

Nah, untuk mengubah perilaku “menimbun” koin, ada sebuah aplikasi yang siap membantu Anda “menyulap” uang receh menjadi uang elektronik. Ide awal mengembangkan aplikasi dengan tajuk Littly ini berasal dari Ahmad Suaidi.

Jebolan program studi akuntansi sebuah universitas di Jakarta ini berkisah, ketika masih kuliah, sebagai mahasiswa rantau, dirinya selalu menghadapi tanggal tua. Di masa itu,  uang receh sangat amat berguna.

Recehan yang berserakan di kamar kosnya sejak awal bulan, tiba-tiba menjadi harta yang berharga ketika sudah mencapai akhir bulan. Tetapi, ia mengaku malu menggunakan uang logam itu untuk belanja.

Kemudian Ahmad berpikir, jika banyak orang mengalami hal yang sama, membiarkan uang receh berserakan, tentu akan jadi berguna kalau dikumpulkan. Ia pun kepikiran untuk mengumpulkan uang logam lewat platform. “Masalah koin yang tidak terlalu menjadi perhatian masyarakat Indonesia kemudian menarik saya untuk menciptakan Littly,” ujar Ahmad yang kini jadi Chief Executive Officer (CEO) Littly.

Pendanaan awal

Untuk merealisasikan keinginannya, Ahmad menghubungi sahabat lamanya yang memang jago di bidang teknologi informasi. Dialah Jafar Al Kadafi yang sekarang duduk di kursi Chief Technology Officer (CTO) Littly.

Kadafi lantas menggandeng seorang pengembang handal yang berpengalaman membesut ragam aplikasi dan permainan (game) di Android, yaitu Mukhlas Wirawan. Dari tangan mereka lahirlah Littly, aplikasi berbasis Android yang menyimpan uang receh Anda menjadi uang elektronik (e-money).

Kelak, Anda bisa menggunakannya untuk segala kebutuhan transaksi pembelian atau pembayaran apapun. “Untuk menyimpan atau menyetor uang receh, bisa di toko atau lembaga sosial Littly yang terdekat,” imbuh Ahmad.

Aplikasi ini resmi meluncur 6 Mei 2017 lalu yang melibatkan lebih dari 200 pengguna pertama, dan berhasil mengumpulkan donasi dari uang receh lebih dari Rp 2 juta dalam hitungan jam. “Dari animo masyarakat yang tinggi inilah, kemudian memotivasi kami untuk mencoba melengkapi fitur Beta pada Juli 2017,” kata Ahmad.

Untuk bulan-bulan pertama setelah peluncuran, Littly berjalan dengan metode bootstrapping alias tanpa ada bantuan pendanaan dari investor maupun modal ventura. Sayangnya, Ahmad menolak mengungkap modal untuk memulai perusahaan rintisan (startup) ini.

Yang jelas, Littly sudah mengantongi pendanaan putaran awal (seed funding) dari investor malaikat dan Startup Center yang berbasis di Depok.

Dalam rentang tiga bulan pasca peluncuran, Littly telah bekerjasama dengan sedikitnya 117 mitra sebagai toko fisik untuk mengumpulkan uang logam, dan menjangkau wilayah Jakarta, Depok, serta Bekasi. Ahmad bilang, mayoritas toko fisik yang berkongsi adalah kafe di seputaran Depok dan Jakarta Selatan. Namun, ada pula beberapa stan makanan dan minuman di Grand Indonesia.

Selain itu, Littly juga bermitra dengan beberapa minimarket di kawasan Depok. “Saat ini, kami ada pendekatan dengan salah satu perusahaan ritel. Target kami, sampai Januari 2018 nanti bisa tambah 200 hingga 300 mitra,” ucap Ahmad.

Di toko mitra Littly, Anda bisa menyetorkan uang receh untuk disimpan. Atau, bila belanja di toko mitra Littly dan mendapat kembalian uang logam, Anda bisa meminta kasir untuk menyimpan koin itu. “Kalau untuk pengguna tidak ada minimal setoran tahap awal,” ungkap Ahmad.

Selain untuk berbelanja, Anda bisa menggunakan uang receh yang sudah menjelma jadi uang elektronik buat donasi. Menurut Ahmad, saat ini Littly juga sedang mencari “pahlawan koin” yang siap mengumpulkan uang receh dari pengguna aplikasinya. Sebab, belum tentu di daerah tempat pengguna Littly tinggal ada toko mitra.

Nah, tugas “pahlawan koin” adalah mengumpulkan uang receh dari pengguna Littly yang sebagian untuk disumbangkan. “Kami kerjasama dengan rumah ibadah dan lembaga sosial. Nantinya, 10% dari dana yang dikumpulkan akan didonasikan untuk lembaga atau rumah ibadah tersebut,” ujar Ahmad.

Kini, sudah ada 2.000 pahlawan koin yang siap menerima receh di lokasi terdekat pengguna. Jumlah pengguna Littly telah lebih dari 500 user.

Koin robot

November nanti, Littly bakal mengenalkan alat koin robot untuk penyetoran uang logam. Jadi, Anda cukup memasukan uang receh ke dalam alat ini dan mencantumkan nomor telepon seluler.

Setelah itu, uang receh masuk ke akun Anda. “Kami sudah berbincang dengan Bank Indonesia untuk hal ini,” ungkap Ahmad. Harapannya, program ini bisa efektif Desember mendatang.

Rencananya, Littly menempatkan alat koin robot di rumah ibadah lantaran lebih aman. Juga di fasilitas umum seperti stasiun kereta. “Kami juga sudah melakukan pendekatan dengan Pemerintah Kota Depok. Mereka sudah minta 400 koin robot ditempatkan di sekolah-sekolah,” kata Ahmad.

Sejauh ini, Littly belum memungut biaya administrasi kepada pengguna maupun toko mitra. Pemasukan baru berasal dari biaya transaksi pengguna saat memakai uang elektroniknya untuk pembelian atau pembayaran.

Besarannya 2,5% dari nilai transaksi. “Biasanya yang dipotong dari tokonya. Misalnya, beli minuman Rp 5.000, pengguna tetap bayar Rp 5.000 tapi toko menyisihkan 2,5% untuk Littly,” jelas Ahmad.

Dari biaya transaksi itu, dalam enam bulan terakhir, Littly sudah mengantongi pemasukan sekitar Rp 10 juta. Startup ini akan mencari tambahan pendapatan dari iklan, dengan menawarkan ke toko mitra.

Bentuk iklannya, contoh, pengguna datang ke toko mitra lalu mereka memberikan notifkasi sudah berkunjung dan berbelanja di gerai itu. Toko mitra akan kena biaya sekian persen dari nilai transaksi belanja pengguna tadi untuk pemasaran gerai mereka.

Meski begitu, Ahmad menyatakan, bukan tanpa tantangan mengembangkan bisnis Littly. Tantangannya justru di masyarakat kita sendiri. “Perlu waktu yang tidak singkat untuk bisa mengedukasi orang beralih, dari uang receh ke uang elektronik,”ujarnya.

Jadi, jangan biarkan lagi uang recehan Anda berserakan di segala sudut rumah.


Reporter Francisca Bertha Vistika
Editor S.S. Kurniawan

BISNIS START-UP

Feedback   ↑ x