: WIB    —   
indikator  I  

Dari jeruk, petani beralih ke buah naga (2)

Dari jeruk, petani beralih ke buah naga (2)

KONTAN.CO.ID - Tawaran keuntungan yang cukup besar, petani jeruk di Desa Pesanggaran, Kabupaten Banyuwangi mengalihkan sebagian lahannya untuk menanam buah naga. Petani pertama yang menanam buah berwarna merah ini adalah Bariah.

Ia mengambil bibit buah naga merah dari Jember, Jawa Timur. Keberhasilan Bariah memanen buah naga pun mengundang petani lainnya. Apalagi, buah ini banyak diburu konsumen lantaran khasiat sebagai penurun kolesterol.  

Alhasil, saat ini, hampir seluruh petani di Desa Pesanggaran, Banyuwangi menanam jeruk dan buah naga di lahannya. Bahkan, ada yang mengganti seluruh lahannya menjadi kebun buah naga. "Harga jeruk  mulai turun, tak sesuai dengan biaya yang dikeluarkannya," kata Bariah.  

Petani pun tak segan merogoh dalam kantongnya untuk meningkatkan hasil pertanian. Selain pemupukan rutin, mereka juga mengusahakan penyinaran tambahan dengan lampu.

Sayangnya, tidak semua petani yang menggunakan penyinaran buatan itu.  Seperti Suyanto yang sampai saat ini hanya mengandalkan penerangan sinar matahari sebagai pendukung proses fotosintesis tanaman.

Hasilnya, dia tak bisa menuai untung berlipat karena tanamannya hanya bisa dipanen saat musim panen raya tiba, yakni pada awal hingga pertengahn tahun. Hasil panennya di luar musim panen berkisar 3-4 kuintal.

Bertani buah naga tidaklah sulit, hanya tanaman ini tetap harus diberikan perhatian khusus. Laki-laki berkumis ini mengatakan, pada awalnya tanaman ini terkesan jauh dari penyakit tapi pada saat tertentu, tiba-tiba tanaman rusak.  

Penyakit yang kerap merusak buah naga adalah batang busuk. Jika batang sudah busuk, tanaman pun bakal tak bisa berbuah.  Pemberian obat kimia dan pemotongan dahan wajib dilakukan untuk menyelamatkan tanaman.

Kendala lainnya yang banyak ditemui adalah soal pupuk. Baik Bariah mapun Suyanto bilang, tak dapat mengandalkan pupuk subsidi dari pemerintah karena selalu datang terlambat. Mau tak mau mereka harus membeli pupuk sendiri.

Meski begitu, cukup sulit mendapatkan pupuk dalam jumlah besar di Banyuwangi. Bahkan, adakalanya pupuk menghilang dari pasaran. Petani pun harus mendatangkan pupuk dari luar kota.

Masalah lainnya adalah soal harga. Sebab, petani masih mengandalkan penjualan hasil panennya pada tengkulak. Khususnya untuk jeruk. Saat musim panen raya tiba, mereka pun tak bisa meraup untung besar karena harga jual rendah.

Gatul, petani lainnya,  mengeluhkan kondisi ini. Apalagi, saat sampai di konsumen, harganya tinggi sekali. Sayangnya, sampai sekarang dia belum bisa melakukan penjualan langsung kepada pedagang di pasar karena keterbatasan koneksi dan transportasi.  

Asal tahu saja, selain menekuni profesi sebagai petani, Suyanto juga berlaku sebagai agen alias tengkulak. Setiap hari, dia menampung hasil panen petani lainnya kemudian disalurkan kepada penjual ritel.

Dia mengaku permintaan buah di pasaran sejak awal tahun ini dirasakan cukup menurun. Pembeli pun seakan mengerem keinginannya untuk berbelanja buah. Dia menilai hal tersebut terjadi lantaran keadaan ekonomi dalam negeri yang masih sulit.        

(Bersambung)


Reporter Tri Sulistiowati
Editor Johana K.

SENTRA UKM

Feedback   ↑ x
Close [X]