PELUANG USAHA
Berita
DARI KANTOR KONTRAKAN MENJADI SEORANG JURAGAN

DARI KANTOR KONTRAKAN MENJADI SEORANG JURAGAN


Telah dibaca sebanyak 1795 kali
DARI KANTOR KONTRAKAN MENJADI SEORANG JURAGAN

Tidak mudah menjadi seorang pengusaha di industri teknologi industri yang sukses, karena persaingan di sektor ini cukup tinggi. Kendati begitu, Yuliasiane Sulistiyawati berhasil membuktikan diri menjadi salah satu pengusaha TI terbaik di Indonesia.

Kini Yuliasiane Sulistiyawati bisa tersenyum bangga. PT Pazia Pillar Mercycom, perusahaan distributor perkakas teknologi informasi (TI) yang dia bangun beberapa tahun silam, mampu menyabet segudang prestasi.

Sebagai contoh, penghargaan terakhir yang dia peroleh adalah Outstanding Entrepreneur Award. Penghargaan ini diberikan dalam ajang The Asia Pacific Entrepreneurship Awards (APEA) 2009 yang diselenggarakan Enterprise Asia.

Sebelumnya, wanita cantik yang juga menjabat sebagai Presiden Direktur Pazia ini juga pernah meraih berbagai penghargaan lain. Sebut saja Service Entrepreneur of the Year 2009, The Best Entrepreneur of the Year 2009, The Most Promising Entrepreneur, dan lain-lain.

Padahal, jauh sebelumnya, Yuliasiane harus berjuang keras ketika memulai usaha. Dia ingat betul betapa sulit merintis bisnis yang bergerak di industri teknologi informasi. “Persaingan di bisnis ini sangat ketat. Harus ada strategi khusus untuk memenangi pasar,” jelas Yuliasiane.

Sekadar informasi, Yuliasiane memulai usaha pada tahun 2004. Waktu itu, dia memulai bisnisnya dengan menjadi distributor monitor LCD Acer di sebuah kantor kontrakan kecil di Jakarta. Modalnya pun hanya berupa beberapa perangkat komputer dan telepon. Selain itu, dia hanya dibantu lima orang karyawan. “Meskipun modal terbatas, itu tak membuat kami minder,” katanya sambil tersenyum.

Berbekal ilmu komputer dari Universitas Bina Nusantara dan magister manajemen ilmu pemasaran dan keuangan dari Univeritas Pelita Harapan dengan status cum laude, dia mulai menetapkan arah bisnis perusahaan kecilnya. Banyak hambatan yang dia hadapi di masa awal usaha. Salah satunya adalah persaingan ketat.

Oleh karena itu, pada masa-masa awal berbisnis, Yuliasiane hanya menargetkan penjualan 200 unit LCD monitor Acer per bulan. “Waktu itu, target tersebut terlihat muluk dan sangat sulit dicapai,” ujar dia mengenang masa lalu.

Meski sulit, bukan berarti target itu tak bisa diraih. Dengan kerjasama tim, target penjualan perusahaan berhasil terpenuhi. Prestasi ini tak terlepas dari strategi Yuliasiane dalam memasarkan produk. Selain memotivasi para karyawan, dia juga tak segan-segan melakukan kerjasama dengan partner bisnis yang lain.

Perlahan tapi pasti, target penjualan yang dia tetapkan berhasil tercapai. Hingga akhirnya, penjualan Pazia bisa mengalami peningkatan ke angka 400 unit per bulan. “Bahkan, pada tahun kedua penjualan kami berhasil mencapai angka 20.000 unit,” ceritanya.

Prestasi penjualan itu membuat Pazia Pillar disegani. Pada tahun 2005, perusahaan ini ditunjuk sebagai distributor resmi notebook Acer. Kepercayaan Acer tidak disia-siakan oleh Yuliasiane. Dia membuktikannya dengan menjadi perusahaan distributor nomor satu dalam penjualan notebook di Indonesia selama empat tahun berturut-turut. “Kami optimistis, tahun ini akan menjadi tahun kelima kami,” jelas dia.

Menyabet rekor MURI

Sukses dengan Acer, Pazia mulai melirik peluang menjadi distributor perusahaan TI lain, yakni Samsung. Kerjasama dengan pihak Samsung dimulai pada tahun 2007. Hebatnya, dalam kurun waktu kurang dari dua tahun, Pazia berhasil menaikkan pangsa pasar Samsung di Indonesia, dari sebelumnya 2% menjadi 30%.

Tak ayal, prestasi tersebut mengantarkan Pazia mendapat kan penghargaan sebagai Pemberi Kontribusi Terbaik dalam usaha Samsung.

Kesuksesan Pazia memang tidak terjadi begitu saja. Yuliasiane sempat membocorkan beberapa rahasia suksesnya. Diantaranya, dia tak pernah ragu menelurkan inovasi-inovasi baru untuk meningkatkan brand awareness konsumen. “Untuk yang satu ini, saya kerap mengadakan kegiatan-kegiatan yang mampu mengangkat citra perusahaan,” imbuhnya. Sebagai contoh, selama tahun 2006 hingga 2008, Pazia menggelar Kompetisi Hacker Nasional Pazia dan Say No to Drug with Samsung Laser Printer. “Dua ajang ini berhasil mendapatkan penghargaan dari MURI juga, lo,” katanya.

Ada alasan tertentu mengapa ibu dua anak tersebut memilih memasarkan kedua merek ini. “Potensi dari merek-merek terkenal, seperti Acer dan Sam-sung, di pasar lokal dan internasional sudah tidak diragukan lagi,” jelasnya.

Nah, kini, Pazia sudah menjadi perusahaan besar. Karyawannya pun berkembang biak menjadi puluhan orang. Dalam pengembangan bisnisnya, Pazia juga bermitra dengan 50 distributor utama produk notebook Acer, monitor LCD Samsung, printer dan proyektor Samsung di seluruh Indonesia.

Editor: Uji Agung Santosa
Sumber:
Telah dibaca sebanyak 1795 kali



Syarat & Ketentuan Komentar :
  1. Tidak memuat isi bohong, fitnah, sadis dan cabul.
  2. Tidak memuat isi yang mengandung prasangka dan kebencian terkait dengan suku, agama, ras, dan antargolongan (SARA), serta menganjurkan tindakan kekerasan.
  3. Tidak memuat isi diskriminatif atas dasar perbedaan jenis kelamin dan bahasa, serta tidak merendahkan martabat orang lemah, miskin, sakit, cacat jiwa, atau cacat jasmani.
  4. KONTAN memiliki kewenangan mutlak untuk mengedit atau menghapus komentar yang bertentangan dengan ketentuan ini.

LIPSUS

LIPSUS Update

  • DJP minta caleg dan capres transparan data pajak

    +

    Pemilihan anggota Dewan Perwakilan Rakyat (DPR) dan presiden baru sebentar lagi mewarnai tahun 2014

    Baca lebih detail..

  • Akbar Tandjung siap jadi cawapres Jokowi

    +

    Ketua Dewan Pertimbangan Partai Golkar Akbar Tandjung menyatakan siap maju sebagai bakal calon wakil presiden, termasuk berpasangan dengan Joko Widodo

    Baca lebih detail..