PELUANG USAHA
Berita
Dari melukis langit-langit, nama Ajun pun melejit

PROFIL AJUN ARYA

Dari melukis langit-langit, nama Ajun pun melejit


Telah dibaca sebanyak 2266 kali

Melukis tidak melulu harus di atas kanvas. Hampir seluruh bagian rumah bisa menjadi medium lukisan, termasuk  langit-langit atau plafon rumah. Menyulap langit-langit rumah menjadi karya lukis yang indah adalah keahlian Ajun Aryo. Di tangannya, plafon yang biasanya berwarna putih bisa berubah menjadi objek pemandangan atau tempat tertentu.

Bakat melukis sudah dimilikinya sejak kecil. Ia mulai melukis sejak usia 11 tahun. "Saya belajar melukis secara autodidak," tutur pria kelahiran 43 tahun silam ini.

Ajun baru menghasilkan fulus dari keahlian melukis sejak tahun 1990-an. Ketika itu ia sudah lulus dari Pesantren. Namun, ia tidak langsung terjun melukis langit-langit rumah.  

Semua diawalinya dengan menerima order melukis kaligrafi untuk komunitas pengajian. Selanjutnya, ia juga bersedia menerima order melukis objek pemandangan. Bisnisnya berkembang pesat, setelah mendapat order melukis plafon, dinding, dan lantai Gedung Da Vinci di kawasan Sudirman, Jakarta, pada tahun 2000.
 
Warga Kembangan, Jakarta Barat ini mengklaim, kliennya ketika itu sangat mengapresiasi hasil lukisannya. "Mereka bilang, garis-garis tarikan pada lukisan saya sangat halus. Semua bagian gedung itu saya yang lukis," tuturnya.

Sejak saat itu, order pun semakin ramai. Banyak warga sekitar rumahnya yang minta plafon rumahnya dilukis oleh Ajun. Namanya semakin dikenal, meski hanya melalui promosi dari mulut ke mulut. Tak jarang, organisasi tertentu  atau pengelola rumah ibadah menyewa jasanya untuk melukis plafon gedung.

Ia mematok tarif bervariasi. Misalnya, untuk melukis gambar awan, tarifnya berkisar Rp 150.000 hingga Rp 300.000 per meter. Lukisan plafon ini bisa diselesaikannya dalam waktu sehari.

Namun, jika klien minta lukisan dengan objek lain, seperti malaikat atau kerajaan Romawi, klien harus membayar Rp 750.000 untuk tiap objek. Proses pengerjaannya pun bisa memakan waktu tiga hari.

Dari usaha melukis plafon ini, Ajun mengaku bisa meraup omzet berkisar Rp 40 juta hingga Rp 150 juta dalam sebulan, tergantung banyaknya order.

Maklum, kliennya kini sudah tersebar hingga luar Jakarta, seperti Semarang, Surabaya, Medan, hingga Makassar. Namun, Ajun tak lantas berpuas diri dan berpangku tangan. Sekarang, ia mulai rajin mempromosikan hasil karyanya melalui internet.

Mayoritas pengguna jasanya adalah dari kalangan menengah ke atas, yang memiliki rumah mewah. Maklum, menurut Ajun, lukisan plafon bisa menambah kesan elegan dari sebuah rumah.  

Permintaan dari klien pun beragam dan kadang unik serta bersifat personal. Ia bilang, bahkan pernah ada klien yang minta dibuatkan lukisan plafon dengan objek gambar diri sendiri. "Ada pula klien yang mau dilukis foto dirinya, tapi dengan latar gambar kerajaan Romawi," ungkapnya.

Menurut Ajun, tidak ada perbedaan menyolok antara cara melukis plafon dengan medium lain, seperti kanvas. Hanya saja, ketika melukis plafon, ia harus mengerjakan lukisan dengan posisi berbaring. "Saya menggunakan alat bantu stair holding, jadi bisa melukis sambil tiduran," ucapnya.

Editor: Dupla KS
Telah dibaca sebanyak 2266 kali



Syarat & Ketentuan Komentar :
  1. Tidak memuat isi bohong, fitnah, sadis dan cabul.
  2. Tidak memuat isi yang mengandung prasangka dan kebencian terkait dengan suku, agama, ras, dan antargolongan (SARA), serta menganjurkan tindakan kekerasan.
  3. Tidak memuat isi diskriminatif atas dasar perbedaan jenis kelamin dan bahasa, serta tidak merendahkan martabat orang lemah, miskin, sakit, cacat jiwa, atau cacat jasmani.
  4. KONTAN memiliki kewenangan mutlak untuk mengedit atau menghapus komentar yang bertentangan dengan ketentuan ini.

LIPSUS

LIPSUS Update

  • Simak sektor mana saja yang prospektif!

    +

    Sejak awal tahun hingga 22 September 2014, saham-saham sektor perbankan memberikan return terbesar.

    Baca lebih detail..

  • Meramal gerak IHSG setelah rekor

    +

    Analis berbeda pendapat soal prospek kinerja IHSG ke depannya.

    Baca lebih detail..