: WIB    —   
indikator  I  

Dawam, setia berkarier di kawasan pelabuhan

Dawam, setia berkarier di kawasan pelabuhan

KONTAN.CO.ID - MERAIH puncak karier profesional di usia pensiun jelas bukan hal yang mudah. Namun, hal ini mesti dilakoni oleh Dawam Atmosudiro, Direktur Utama PT Jasa Armada Indonesia, anak usaha Pelindo II. Menghabiskan seluruh karier profesionalnya di Pelindo II membuat Dawam berhasil meraih kesuksesan. Seperti apa kisahnya?

BAGI sebagian orang, usia pensiun merupakan waktu yang tepat untuk rehat dari berbagai aktivitas pekerjaan. Inilah masa-masa meluangkan waktu sepenuhnya bagi diri sendiri dan keluarga.

Namun, hal ini tidak berlaku bagi Dawam Atmosudiro, Direktur Utama PT Jasa Armada Indonesia, anak usaha PT Pelabuhan Indonesia (Pelindo) II. Dawam justru meraih puncak karier profesional ketika memasuki usia pensiun.

Dawam ditunjuk menjadi orang nomor satu di perusahaan yang bergerak di bidang layanan pemanduan dan penundaan kapal ini pada tahun 2013. Posisi itu terus bertahan hingga kini. Dawam mesti menunda waktu pensiunnya lantaran beberapa tahun sebelumnya dia diminta untuk merancang dan menyiapkan pembentukan Jasa Armada.

Saat berbincang dengan KONTAN beberapa waktu lalu, Dawam mengaku antusias ketika ditunjuk menyiapkan pembentukan Jasa Armada. Namun dia sama sekali tak berpikir untuk memimpin Jasa Armada. "Saya menganggap tugas menyiapkan Jasa Armada sebagai tugas tambahan karena ketika itu saya sudah masuk usia pensiun. Butuh waktu 10 bulan untuk menyiapkan semuanya," tuturnya.

Dawam mengisahkan, setelah seluruh dokumen pembentukan perusahaan ini lengkap, dia diminta untuk datang ke satu tempat yang ternyata sudah ada seluruh direksi Pelindo II di sana. "Saya diminta meneken akta sebagai Direktur Utama Jasa Armada. Dan semua direksi meminta saya tetap tinggal di perusahaan," ujar pria kelahiran Magelang, 9 September 1956 tersebut.

Sejak itulah, Dawam pun memimpin Jasa Armada yang mulai beroperasi sejak 1 September 2013. Tanggal pengoperasian Jasa Armada hanya berselang delapan hari sebelum ulang tahunnya yang ke 57 tahun.

Berbicara tentang perjalan karier profesional, Dawam tergolong bukan kutu loncat. Ia hanya merintis karier di Pelindo II, dan satu-satunya tempat ia bekerja sejak tahun 1983 atau sudah lebih dari 30 tahun. Alhasil, soal pengalaman dan pengetahuan tentang bisnis kepelabuhanan tak ada yang meragukan Dawam.

Pasca lulus dari Fakultas Ekonomi jurusan Akuntansi di Universitas Gadjah Mada (UGM) tahun 1983, Dawam langsung diterima bekerja di Pelindo II. Pada awal kariernya, Dawam menduduki posisi staf budgedting di Badan Pengusahaan Pelabuhan (BPP) Pelindo II.

Jabatan perdana yang diemban ini dinilai relevan dengan latar belakang pendidikannya di bidang keuangan dan akuntansi. Namun, memasuki tahun kedua di perusahaan pelat merah ini, dia mulai dimutasi ke berbagai divisi.

Posisi pun meningkat ke level kepala seksi. "Saya 12 tahun ditempatkan ke berbagai divisi dan hal ini bermanfaat sebagai pembelajaran dalam pengembangan karier saya dalam perusahaan ini," katanya.

Tahun 1996, Dawam naik jabatan menjadi Kepala Divisi Keuangan Pelabuhan Tanjung Priok yang dikelola Pelindo II. Kesempatan ini tidak disia-siakannya dengan memberikan totalitas dalam bekerja. Apalagi bidang keuangan merupakan spesialisasinya.

Karier Dawam di Pelindo II pun terus menanjak. Tahun 1998, dia diangkat sebagai Kepala Sub Direktorat Akuntansi Pelindo II hingga tahun 2000.

Setelah kenyang dengan pengalaman di bidang keuangan, Dawam dipindahkan ke bidang operasional. Waktu itu, ia menjabat sebagai Kepala Pengawas Operasional Pelindo II hingga tahun 2004.

Mutasinya di Pelindo berlanjut saat ditunjuk menjadi kepala biro pengadaan Pelindo II tahun 2004–2009 dan menjadi Senior Maanager untuk Pembinaan Anak Usaha Pelindo II tahun 2009–2010.

Jabatan pamungkas Dawam di Pelindo II menjelang pensiun adalah sebagai Head of Internal Auditor Pelindo II hingga tahun 2012 atau tepat masuk usia pensiunnya. Namun, takdir berkata lain. Alih-alih pensiun, ia justru ditunjuk menjadi orang nomor satu di Jasa Armada, tahun 2013.

Dawam mengaku tidak pernah merencanakan untuk bekerja di Pelindo II pasca lulus kuliah. Apalagi sampai menghabiskan seluruh masa karier profesionalnya di kawasan pelabuhan.

Menurutnya, Pelindo II merupakan pilihan ayahnya. Pasalnya, setelah meraih gelar sarjana, Dawam melamar pekerjaan ke berbagai perusahaan dan diterima di beberapa sejumlah perusahaan mulai dari Badan Usaha Milik Negara (BUMN), swasta lokal hingga asing.

Dia berkisah, ada perusahaan asing yang pernah menawarkan penghasilan yang menggiurkan, yakni enam bulan pertama US$ 12.000. "Tetapi ayah saya menyobek surat panggilan tersebut dan yang lainnya. Akhirnya, ayah justru meminta saya bekerja di Pelindo II," kenang Dawam.

Dawam menyatakan, dia bisa dibilang berasal dari keluarga yang tak mampu secara finansial. Namun hal ini tak mempengaruhi rasa hormatnya kepada ayah. Alhasil, dia mengaku kerap tak punya kebebasan memilih dan harus mengikuti keinginan ayah.

Meski begitu, Dawam tidak pernah menyesali keputusan ayahnya memilihkan Pelindo sebagai tempatnya bekerja. Hal ini dinilai sebagai berkah karena perjalanan kariernya selama ini begitu mulus dan tidak menghadapi masalah yang berarti.

Lebih jauh, Dawam bercerita bahwa selepas lulus SMA tahun 1975 atau saat usianya baru 18 tahun ketika itu, dia ingin mencari pekerjaan di Jakarta. Namun usaha tersebut tak berhasil. Tak satu pun pekerjaan didapat. Alhasil, ayahnya menyuruh kembali ke Magelang dan memintanya untuk kuliah.

Meski memiliki hasrat untuk kuliah, Dawam mengaku tak yakin dengan perintah sang ayah. Ia mengkhawatirkan biaya kuliah yang tak sedikit. "Tapi, ayah meyakinkan saya bahwa tak perlu khawatirkan biaya. Fokus saja kuliah. Beliau ingin saya masuk UGM dan membawa saya pada karier saat ini," kenangnya.


Reporter Lidya Yuniartha
Editor Yudho Winarto

CEO

Feedback   ↑ x