: WIB    —   
indikator  I  

Dengan kolaste Fatchurohman ingin mendunia (1)

Dengan kolaste Fatchurohman ingin mendunia (1)

Bicara kerajinan di Indonesia, seakan tak ada habisnya. Begitu banyak produk kerajinan yang dikembangkan oleh masyarakat, mulai dari tenun, batik hingga ukiran. Selain itu, ada juga perajin yang mengaplikasikan teknik dari luar, yakni kolase, dalam produknya.  

Lebih mendekati karya seni, kolase merupakan karya dua dimensi yang dibuat dengan menggabungkan berbagai bahan. Salah satu contoh produk kolase yang banyak ditemui adalah kolase dari kertas.

Dengan teknik kolase,  Fatchurohman justru menggunakan bahan kain untuk menghasilkan karya-karya kolase. Ia menggunakan batik lawasan sebagai bahan.

Belum puas, pria kelahiran Salatiga ini juga mengombinasikan teknik kolase dengan tenun, dan menyebut karyanya dengan kolaste. “Nama kolaste sendiri adalah nama dari teknik pembuatan karya, yaitu perpaduan kolase dan tenun,” ujar Fatch, panggilan akrabnya.  

Tak heran, Fatch berhasil menerapkan teknik kolase dan menghasilkan produk kerajinan yang bernilai seni tinggi. Pasalnya, ayah dari tiga putri yang kini bermukim di kota kembang Bandung ini, adalah lulusan Fakultas Seni Rupa Institut Teknologi Bandung (ITB).

Sejak mulai kuliah di tahun 1986, tentu Fatch sudah lekat dengan beragam teknik dan produk seni. Sebelum membuat produk-produk kolaste pun, Fatch pernah mendirikan usaha kriya kertas dengan produk berbahan kertas daur ulang. Hingga kini, usaha tersebut masih terus berjalan.

“Berhubung ada pengembangan produk dengan menggunakan kain, maka saya memunculkan nama Fatchcraft,” tutur Fatchurohman. Ide untuk membuat karya kolaste muncul ketika ia melihat potensi dari kain-kain lama bermotif batik.

Dalam penilaiannya, kain-kain tersebut secara visual akan sangat menarik jika diolah dengan teknik kolase. Berbekal ilmu, kreatifitas, dan pengalamannya dalam bidang seni dan kerajinan, Fatch menyulap kain-kain tersebut menjadi pajangan dinding pengganti lukisan.

Karya kolaste bikinan Fatch identik dengan corak jemuran. Komponennya terbuat dari kain-kain batik yang kemudian di tenun. Kain-kain lawas yang sudah diatur dengan komposisi yang pas menjadi latar menarik dari karya-karya kolaste Fatchcraft.

Di samping karya kolaste, Fatch juga membuat produk lain berupa buku, tas dan lainnya. Produk ini berbanderol Rp 25 juta hingga Rp 80 juta per karya.

Memang, Fatchurohman menyasar konsumen kelas menengah ke atas. Sejauh ini, pemasaran masih dilakukan melalui berbagai pameran kerajinan. “Kami juga mempromosikannya di Instagram Fatchcraft_indonesia,” ujar Fatch.            n

(Bersambung)


Reporter Nisa Dwiresya Putri
Editor Johana K.

0

Feedback   ↑ x
Close [X]