: WIB    —   
indikator  I  

Dengan kolaste Fatchurohman ingin mendunia (2)

Dengan kolaste Fatchurohman ingin mendunia (2)

Kemampuan berwirausaha tak datang dengan sendirinya. Butuh proses panjang hingga berlabuh di satu jenis usaha yang bisa mapan dan berkembang.  Meski teori ini belum pasti berlaku bagi semua pengusaha, setidaknya hal inilah yang tergambar dari perjalanan Fatchurohman membangun usaha kolase.

Fatchurohman lahir di Salatiga, 5 Desember 1966. Selama menempuh pendidikan dasar hingga sekolah menengah atas, ia menetap di Grabag, Jawa Tengah. Saat resmi menjadi mahasiswa Fakultas Seni Rupa Institut Teknologi Bandung pada tahun 1986, barulah Fatchurohman pindah ke kota kembang tersebut.

Saat masih menjadi mahasiswa, pria berusia 50 tahun ini kenyataannya tidak bisa berleha-leha. Selain disibukkan dengan urusan kampus, ia juga harus memutar otak untuk bisa menghasilkan uang. Ini ada alasannya.  "Dana kiriman dari orang tua tidak mencukupi,” ujarnya kepada KONTAN beberapa waktu lalu.

Tak mau studi di salah satu perguruan tinggi favorit itu terputus, ia harus  bisa mencukupi kebutuhan biaya hidup sekaligus kuliah. Akhirnya, keputusan berusaha ia tempuh pada tahun 1987.  

Ia terjun ke bisnis usaha sablon untuk produk kaos, dekorasi, stiker, dan produk lainnya. Rupanya, pria yang biasa disapa Fatch ini keranjingan berbisnis sablon. Apalagi kala itu belum terlalu banyak pemain di bisnis tersebut.

Usaha ini masih terus ia lakoni pasca lulus kuliah. "Setelah selesai kuliah masih menjalankan usaha dan tahun 1994 coba kerja di Jakarta,” tutur Fatchurohman.

Dengan bekal sebagai lulusan Fakultas Seni Rupa, Fatch kala itu dipercaya menjadi desainer tekstil di perusahaan yang memasok kain-kain untuk keperluan interior hotel.  Namun ia cuma bertahan di perusahaan tersebut kurang dari enam tahun.

Setelah memutuskan mundur tahun 2000, ia memutuskan kembali berwirausaha. "Balik ke Bandung, meneruskan usaha,” ucapnya.

Rupanya, sejak 1995, ia bersama rekan yang ada di Bandung  mendirikan usaha pembuatan kertas dan produk kertas daur ulang.

Satu tahun setelah balik lagi ke Bandung, Fatch berhasil bangun usaha sendiri. Tepatnya di tahun 2001 dengan meluncurkan Kriyakertas. "Produknya masih sama dibidang kertas daur ulang," jelasnya.

Bisnis kerajinan tersebut tidak lepas dari jiwa seni yang tidak pernah luntur dalam diri Fatchurohman. Apalagi sentuhan seni tersebut sudah ia lakoni saat menerapkan ilmu seni rupa tatkala menjadi seorang desainer tekstil.

Alasan ini pula yang memuat Fatchurohman mulai melirik bidang tekstil.  "Saya tertarik memanfaatkan kain batik lawas dan kain tradisional untuk diolah kembali menjadi pajangan dinding pengganti lukisan," tukasnya.

Dari rasa ketertarikan tersebut, muncullah gagasan untuk membuat produk kolase tenun kain lawas yang ia singkat menjadi kolaste.

Akhirnya, masih di tahun 2001, ia mengganti merek usaha Kriyakertas menjadi Fatch Craft. "Berhubung ada pengembangan produk, nama Fatch Craft dimunculkan sebagai nama untuk produk diluar kertas daur ulang," jelasnya.

Alhasil, produk utama  Fatchurohman adalah karya kolaste tersebut. Maklum, hasil karyanya ternyata mendapat respon positif dari luar negeri. Padahal satu kolaste buah tangan Fatch Craft tersebut bisa laku terjual dengan harga Rp 80 juta.  

(Bersambung)


Reporter Nisa Dwiresya Putri
Editor Johana K.

PROFIL PENGUSAHA

Feedback   ↑ x