PELUANG USAHA
Berita
Di gelombang cinta masih ada cinta walau turun harga

PELUANG BISNIS TANAMAN HIAS

Di gelombang cinta masih ada cinta walau turun harga


Telah dibaca sebanyak 8621 kali
Di gelombang cinta masih ada cinta walau turun harga

Aglonema, anthurium, dan adenium adalah tiga jenis tanaman hias yang pada beberapa tahun lalu mengalami masa jaya. Ketika itu, ketiga jenis tanaman hias itu harganya selangit. Namun seiring waktu, harga ketiga jenis tanaman ini mulai meredup.

Penurunan harga ini, di satu sisi, tentu menyenangkan penggila tanaman hias yang mempunyai duit pas-pasan. Sebab, kalau dulu mereka tak mampu membeli, kini mereka bisa mengoleksi di rumah. Inilah yang membuat pembudidaya aglonema, anthurium, dan adenium masih bertahan.


• Aglonema

Jenis tanaman hias ini berjaya sekitar 2006 hingga 2008 silam. Saat itu, tanaman ini banyak diburu kolektor tanaman sehingga harganya pun terbilang sangat mahal.

Lihat saja, ketika itu para penjual tanaman ini, menjual aglonema tidak berdasarkan jumlah batang tetapi berdasarkan jumlah daun. Jadi, bayangkan saja, kalau satu batang aglonema mempunyai 25 daun dan harga per daun mencapai Rp 1 juta.

Namun, ketika krisis ekonomi melanda dunia pada 2008 lalu, dan berdampak pula ke Indonesia, harga aglonema pun terkoreksi tajam. Harga aglonema bahkan semakin terasa enteng di kantong karena budidaya tanaman ini juga relatif mudah sehingga suplai juga berlebih.

Benny Zulkifli, pemilik Bayu Nursery, mengatakan, walau harganya merosot namun bisnis aglonema masih prospektif karena peminatnya semakin banyak. "Harga memang jauh di bawah harga dulu. Saat ini dijual per pohon, bukan per daun lagi. Harganya pun murah," katanya.

Saat ini harga per pohon aglonema paling mahal Rp 3 juta dan paling murah Rp 15.000. Menurut Benny, selama harganya masih di atas Rp 15.000 per pohon, pembudidaya masih mendapatkan untung untuk membayar biaya operasional. “Harga Rp 15.000 sudah mentok dan tidak mungkin turun lagi, " akunya.

Semakin banyaknya orang yang berminat memiliki aglonema membuat Benny masih optimistis bisnis tanaman hias ini tetap bertahan. Maklum, meski harga semakin murah, masyarakat telanjur punya penilaian, aglonema itu tanaman berkelas.

Kian populernya aglonema tentu membuat pundi-pundi pedagang tanaman hias ini juga tak pernah kering. Benny, misalnya. Saban bulan dia mampu menjual aglonema hingga ratusan batang dan mampu mengantongi omzet hingga Rp 150 juta per bulan.

Karena itu, Benny berani menyarankan para pecinta aglonema yang ingin berbisnis mulai membuka usahanya sekarang. Dengan bibit yang murah dan pembudidayaan yang mudah, keuntungan yang didapat juga lumayan.

Menurut Benny, dari sekitar 300 jenis aglonema, jenis bidadari memiliki harga yang paling mahal. Dengan tiga macam warna pada daunnya, aglonema bidadari dijual dengan harga antara Rp 2,5 juta sampai Rp 3 juta per pohon.


• Anthurium

Anthurium adalah tanaman dari keluarga Araceae. Diperkirakan ada sekitar 1.000 jenis anggota marga anthurium di dunia ini. Daya tarik utama tanaman hias ini adalah bentuk daunnya yang meraksasa, indah, unik, dan bervariasi. Salah satu jenis jenis anthurium yang sempat melegenda adalah jenis jemani varian kobra dan gelombang cinta.

Daun anthurium umumnya berwarna hijau tua dengan tulang daun besar menonjol. Tulang daun yang besar membuat sosok anthurium tampak gagah dan kekar. Tanaman ini memiliki kesan mewah dan eksklusif. Bahkan Wikipedia menulis, di masa lalu anthurium menjadi hiasan taman dan istana kerajaan di Jawa sehingga disebut tanaman raja.

Secara umum anthurium dibedakan menjadi dua jenis. Pertama yaitu anthurium daun. Dan kedua, jenis anthurium bunga. Anthurium daun disukai karena memiliki bentuk daun yang istimewa. Sedangkan anthurium bunga menonjolkan keindahan warna bunga sehingga sering dipakai untuk bunga potong.

Namun perkembangan bisnis tanaman raja ini harus tergerus zaman. Jika empat tahun yang lalu, atau sekitar 2007 lalu, anthurium menjadi tanaman hias yang berjaya dengan harga jual yang tinggi saat ini harga jualnya turun drastis.

Dedi Sudarmanto, pemilik Wijaya Puspana Flowers di Indramayu mengatakan, jika empat tahun lalu dia mampu menjual anthurium jenis kobra black beauty seharga Rp 70 juta, saat ini harga tertinggi untuk anthurium adalah jemani mangkok seharga Rp 600.000 per pohon.

"Saya masih punya anthurium kobra dengan harga jual Rp 5 juta, tapi sampai sekarang belum ada yang minat beli," keluh Dedi.

Dedi mengatakan, selama tujuh tahun berkecimpung di dunia bisnis tanaman hias, ada satu pelajaran penting yang dia dapat. Menurutnya, jika suatu tanaman mudah dibudidayakan, maka dalam tiga tahun perkembangannya masa depan tanaman itu tidak akan cerah lagi. Setelah suplai tanaman ke pasar banyak, harga jual tanaman akan turun bahkan tak berharga lagi.

Namun Dedi mengaku masih setia berdagang anthurium meski harganya tak seindah dulu lagi. Ia mengatakan, dirinya adalah pecinta tanaman sejati, sehingga harga jual yang rendah tidak akan membuatnya meninggalkan anthurium. "Pecinta fanatik anthurium masih ada dan tidak lenyap sepenuhnya," katanya.

Karena itulah, di kebun miliknya, Dedi masih menyediakan sekitar 200 tanaman anthurium berbagai jenis. Dia sengaja menyediakan tanaman itu, untuk memenuhi permintaan pecinta sejati anthurium yang kadang-kadang masih datang.

Ia menambahkan, selama berbisnis tanaman hias banyak pelanggan yang telah datang padanya. Menurutnya, dari seluruh pelanggan yang datang, sebanyak 20% adalah pecinta tanaman hias sejati. Para pecinta tanaman hias itu tidak hanya berorientasi pada nilai atau harga tanaman. Karena itu, sebagai pehobi tanaman hias, Dedi mengaku tenang-tenang saja dengan runtuhnya harga anthurium.

Selain menyediakan anthurium, Dedi saat ini juga menjual tanaman bonsai. Menurutnya, tanaman bonsai tetap akan menjadi tanaman primadona di masa yang akan datang. "Bonsai menjadi lahan investasi yang lebih menjanjikan," katanya.


• Adenium

Tak seperti aglonema dan anthurium, harga adenium relatif tidak menyentuh langit. Menurut Sunardi, pemilik Indah Adenium Nursery di Bekasi, saat-saat jayanya satu pohon adenium berharga Rp 200.000 sampai Rp 5 juta. Sedangkan saat ini, dia menjual adenium dengan lima pucuk bunga cuma seharga Rp 25.000 dan adenium tumpuk dua dengan 10 pucuk bunga seharga Rp 50.000. Sedangkan harga bibit adenium di kisaran Rp 15.000 per tanaman.

Dengan harga tersebut, dia mengaku memperoleh omzet dari penjualan adenium sebesar Rp 5 juta sampai 8 juta per bulan. Walaupun menurun jauh dibanding tahun-tahun yang lalu, namun menurut Sunardi, permintaan adenium dalam dua tahun ini cukup stabil dibanding tanaman hias lain.

Menurut Sunardi, konsumen adenium dalam dua tahun ini bergeser. Jika sebelumnya konsumen banyak membeli adenium untuk koleksi pribadi, saat ini para peminat adenium lebih didominasi oleh mereka yang ingin ikut kontes tanaman hias. "Tren adenium yang paling diminati konsumen adalah adenium tumpuk tiga yang terdiri dari 15 lembar bunga," kata Sunardi.

Editor: Tri Adi
Telah dibaca sebanyak 8621 kali



Syarat & Ketentuan Komentar :
  1. Tidak memuat isi bohong, fitnah, sadis dan cabul.
  2. Tidak memuat isi yang mengandung prasangka dan kebencian terkait dengan suku, agama, ras, dan antargolongan (SARA), serta menganjurkan tindakan kekerasan.
  3. Tidak memuat isi diskriminatif atas dasar perbedaan jenis kelamin dan bahasa, serta tidak merendahkan martabat orang lemah, miskin, sakit, cacat jiwa, atau cacat jasmani.
  4. KONTAN memiliki kewenangan mutlak untuk mengedit atau menghapus komentar yang bertentangan dengan ketentuan ini.

LIPSUS

LIPSUS Update

  • Siap-siap, mobil murah tak lagi terjangkau

    +

    Harga mobil LCGC kemungkinan naik akibat inflasi dan pengurangan insentif.

    Baca lebih detail..

  • Adu gengsi produsen otomotif

    +

    Tren mobil baru di ajang Indonesia International Motor Show 2014.

    Baca lebih detail..