: WIB    —   
indikator  I  

Dodol Deli menjadi destinasi pelancong (1)

Dodol Deli menjadi destinasi pelancong (1)

KONTAN.CO.ID - Selain durian dan lemang, jika berkunjung ke Sumatra Utara, jangan lupa mencicipi dodol medan. Adonan dari tepung ketan dan gula merah ini banyak dijual di lintas jalan Perbaungan - Tebing tinggi.  

Saat KONTAN menyambangi lokasi tersebut, ada belasan toko dodol di sepanjang kanan dan kiri jalan.  Begitu memasuki salah satu gerai, sambutan hangat pun langsung menyapa dari para penjaga toko. Mereka tak sungkan untuk langsung menawarkan dodol tester untuk menyakinkan para konsumen.

Asal tahu saja, pembuatan dodol berlangsung setiap hari. Selain menjual, proses produksi juga dilakukan di toko tersebut dengan cara tradisional. Bila, konsumen ingin melihat prosesnya dapat datang pagi hari sekitar pukul 09.00 WIB. Para penjaja dodol biasanya membuka gerainya sejak pukul 06.00 WIB sampai pukul 23.00 WIB.

Lokasi sentra penjualan dodol ini berada sekitar 25 kilometer dari pusat Kota Medan.  Bila menggunakan kendaraan pribadi, dibutuhkan waktu sekitar 1,5 jam sampai 2 jam perjalanan. Anda pun dapat mengakses tempat oleh-oleh ini dengan transportasi umum, dengan tujuan Tebing Tinggi.

Berdasarkan penelusuran KONTAN, pusat penjualan dan produksi dodol ini sudah ada sejak puluhan tahun lalu. Mereka yang memiliki gerai saat ini merupakan generasi kedua.

Iwan Sinaga, pemilik Dodol Iwan mengakui hal tersebut. Dia bercerita, awal mula terbentuknya sentra tersebut pada tahun 1975, setelah seorang perantau dari Tanjung Pura, Langkat, Sumatra Utara menjajal peruntungannya dengan berjualan dodol.

Ternyata, banyak orang yang menyukainya. Sejumlah warga lantas ikut menggeluti pembuatan dodol, hingga mereka ikut berjualan di lokasi yang berdekatan.  

Iwan menjalankan toko dodol warisan dari sang mertua. Konsumennya  datang dari berbagai kota seperti Medan, Tebing Tinggi, Riau dan lainnya. Bahkan, dua tahun belakangan, dia mulai mendapatkan pesanan dodol dari Arab Saudi dan Belanda.

Harga dodol ini berkisar mulai Rp 35.000 sampai Rp 45.000 per kilogram (kg). Iwan bilang, kedatangan pengunjung paling banyak terjadi saat akhir pekan.

Demikian pula, saat hari besar seperti Hari Raya Idul Fitri, Tahun baru, Tahun baru Imlek, penjualannya akan meningkat drastis. "Kalau Lebaran, penjualan saya bisa naik hingga 350% dari biasanya," katanya antusias.

Indah, pemilik Dodol Indah pun sepakat dengannya. Saat momen sembahyang warga Thionghoa, pesanan dodol akan datang membanjir. Perempuan berhijab ini mengatakan, para konsumen bahkan rela menunggu proses pembuatan dodol  yang masih dimasak dalam kuali.

Dia membandrol harga jual dodolnya mulai dari Rp 35.000 hingga Rp 50.000 per kg. Ada delapan rasa yang ditawarkan, beberapa diantaranya adalah dodol durian, wijen, nanas dan original.

Selain menjual langsung di gerainya, dalam keseharian, Indah banyak menerima pesanan dodol untuk perlengkapan acara pernikahan. Untuk pesanan ini, Indah biasanya meminta order sebulan sebelumnya.           

(Bersambung)


Reporter Tri Sulistiowati
Editor Johana K.

SENTRA UKM

Feedback   ↑ x
Close [X]