: WIB    —   
indikator  I  

Dodol Deli menjadi destinasi pelancong (2)

Dodol Deli menjadi destinasi pelancong (2)

KONTAN.CO.ID - Bermula dari seorang perantau dari Tanjung Pura, Langkat, Sumatra Utara yang mencoba peruntungan dengan berjualan dodol pada tahun1975, kini Perbaungan kian dikenal sebagai sentra dodol. Meski sudah puluhan tahun eksis, para produsen yang juga pemilik toko di sentra dodol ini masih menggunakan cara tradisional dalam mengolah dodol. Mereka percaya, kualitas cara tradisional ini lebih baik.

Indah, pemilik Dodol Indah mengatakan, proses mencuci beras ketan hingga pengadukan di kuali masih mengandalkan tenaga manusia. "Kami pernah mencoba menggunakan mesin tapi hasilnya tidak sebagus manual, kurang lembut," jelasnya.  

Asal tahu saja, proses memasak dodol biasanya dimulai dari malam hari. Beras ketan sebagai bahan baku utama harus dicuci hingga bersih, kemudian direndam semalaman supaya lunak. Setelah itu, ketan dicampur bahan lainnya, seperti gula, pulut dan kelapa untuk dimasak. Agar tidak gosong, dodol harus terus diaduk. Setelah mencapai tingkat kekentalan yang pas, dodol diangkat dan didinginkan sebelum dijual.

Dalam sehari, Indah bisa memasak sekitar 15 kilogram (kg) beras ketan. Ada empat karyawan yang membantunya memasak dodol sejak pukul 09.00 WIB.  

Lantaran tak memakai bahan pengawet, dodol buatan Indah tak bisa tahan lama. Masa kadaluarsanya hanya sebulan tapi, berdasarkan penjelasan konsumen dodol bisa tahan hingga lima bulan asalkan disimpan dalam freezer.

Agar berbeda dengan dodol lainnya, Indah menggunakan gula aren asli. Menurut Indah, rasa manis gula aren lebih legit dan tidak membuat sakit tenggorokan.

Namun, di sisi lain, penggunaan gula aren menjadi salah satu kendala baginya. Pasalnya, pasokan yang cukup terbatas mengakibatkan harga jual gula aren ini kurang stabil.

Saat pasokan tengah seret, harga jual gula aren mencapai Rp 25.000 per kg. Padahal, biasanya harga gula aren Rp 20.000 per kg. Alhasil, saat harga gula melambung, Indah harus rela keuntungannya terpangkas. "Saya nggak bisa kalau harus menaikkan harga dodol sampai Rp 60.000 per kg, kasihan pembeli," tambahnya.

Tak seperti Indah, Iwan Sinaga, pemilik Dodol Iwan,  sudah melibatkan bantuan mesin sederhana, untuk mencampur bahan baku. Namun, tetap saja, saat pengadukan, dia tetap gunakan cara manual.  

Dalam sehari, Iwan bisa memasak hingga empat kuali  dodol atau setara dengan 15 kg beras ketan. Ada empat karyawannya. Namun, bila banyak pesanan, seperti saat Ramadhan, dia akan ikut turun tangan, bahkan menambah satu karyawan untuk memasak.  

Sama dengan Indah, Iwan juga tidak menggunakan bahan pengawet. Dodol buatannya hanya mampu bertahan hingga 12 hari.  Lebih dari itu, rasanya tidak lagi legit dan keras.

Untuk bahan baku, dia membelinya dari agen yang ada di sekitar Perbauangan, Deli Serdang, Sumatra Utara. Belasan tahun menggeluti pembuatan dodol, Iwan tidak pernah mendapati kelangkaan bahan baku.

Kini, yang dia khawatirkan adalah turunnya daya beli konsumen. Kondisi ini, dia rasakan sejak awal tahun 2017. Laki-laki berkumis tipis ini pun tidak mengetahui apa penyebabnya. "Yang jelas saat masuk tahun ajaran baru pasti sepi, karena orang tidak mau belanja," jelasnya.        

(Bersambung)


Reporter Tri Sulistiowati
Editor Johana K.

SENTRA UKM

Feedback   ↑ x
Close [X]