: WIB    —   
indikator  I  

Dodol Deli menjadi destinasi pelancong (3)

Dodol Deli menjadi destinasi pelancong (3)

KONTAN.CO.ID - Meski usaha pembuatan dan penjualan dodol ini sudah berlangsung puluhan tahun, masih ada saja kendala yang dihadapi oleh para pemainnya. Iwan Sinaga, pemilik Dodol Iwan mengatakan, kendala yang kini sering melandanya adalah keluar-masuknya karyawan.  

Lantaran masalah itu, dia pun harus meluangkan waktu untuk memberi pelatihan. Biasanya, pendampingan berlangsung satu hingga dua bulan. "Membuat dodol itu susah, jadi baru dilepas kalau dia masaknya sudah bagus," jelasnya.  

Selain soal karyawan, Iwan bilang, dirinya juga harus pintar menghitung stok bahan baku. Khususnya, pasokan durian.

Saat musim durian tiba, Iwan akan memasok durian lebih banyak, dengan mengambil dagingnya dan disimpan di freezer. Cara ini, cukup efektif untuk mengantisipasi kenaikan harga durian di luar panen raya.

Meski pamor dodolnya sudah tersohor, Iwan tak lantas bersantai. Dia tetap rajin mengikuti penyuluhan dari pemerintah untuk mengembangkan produk.

Laki-laki berkumis tipis ini mengaku cukup terbantu dengan pelatihan terkait kemasan produk. Kini, Dodol Iwan pun tampil lebih menarik berkat kemasan dan logo berwarna.  

Terdapat belasan toko dodol di sepanjang Jalan Perbaungan akibatkan angin persaingan bertiup lumayan kencang. Namun, Iwan tak khawatir. Dia cukup percaya, kualitas dodolnya mampu menarik pelanggan untuk selalu kembali membeli dodol ke gerainya .  

Pemain lainnya, Indah yang membuka gerai Dodol Indah juga mengatakan persaingan penjual dodol terbilang keata. Namun, agar tidak ditinggalkan konsumen, Indah berusaha terus mengawal  kualitas produk dan pelayanan kepada konsumen.

Bimbingan pemerintah pun Indah rasakan cukup membantu dalam mengembangkan bisnisnya. Karena, dia meracik delapan varian rasa dodol. " Memang awalnya hanya original, namun kini banyak pula yang suka rasa lainnya,"  katanya.

Adanya pembatasan ketan impor di pasar lokal, membuat usaha Indah cukup terganggu. Pasalnya, dia sudah terbiasa menggunakan ketam siam asal Thailand. Dia mengaku, hasil dodol dari bahan baku tersebut lebih lembut bila dibandingkan dengan ketan lokal.

Tapi, apa daya. kini dia hanya bisa menggunakan ketan lokal. Selain ketan, produksi gula aren juga terbatas. Saat barang langka, harga beli tinggi pun harus diterima agar produksi tetap berjalan.

Disisi lain, pengembangan infrastuktur Sumatra Utara justru menjadi momok bagi mereka. Indah khawatir bila tol Tebing Tinggi - Bandara Kualanamu resmi dibuka, ia akan kehilangan pelanggan.

Sebab, jumlah pengguna jalan disana pun dipastikan bakal turun. Dampaknya, penjualan pun juga akan ikut merosot. Pasalnya, saat ini mereka hanya mengandalkan penjualan dari orang-orang yang melintas di jalan itu.   

(Selesai)


Reporter Tri Sulistiowati
Editor Johana K.

SENTRA UKM

Feedback   ↑ x
Close [X]