Reporter: Tri Sulistiowati | Editor: Havid Vebri
Kendati bisnis kuenya sudah sukses mendatangkan omzet ratusan juta, Leni Marlina tidak mau berhenti untuk mengembangkan usahanya agar lebih maju lagi. Kini ia mulai menjajal usaha roti manis, sebagai persiapan sebelum pembukaan toko.
Menurut Leni, sebagai pengusaha kuliner, dirinya harus mempelajari seluruh macam kuliner yang sedang tren saat ini. “Ini menjadi salah satu strategi saya untuk bisa sukses,” ujarnya.
Leni menargetkan, sebelum bulan April tahun depan toko rotinya sudah siap beroperasi. Nantinya, toko tersebut menjadi tempat displai seluruh produk kuliner, khususnya roti manis, kue ulangtahun, dan lainnya. “Saya itu bisa buat cake seperti di kafe-kafe. Tapi karena tidak ada tempat, jadi saya tidak bisa keluarkan,” katanya.
Selain tempat displai, toko rotinya itu juga bakal berfungsi sebagai lokasi produksi. Saat ini, seluruh produksi kue dan katering masih dilakukan di rumah pribadi dan rumah sewaan. Roti bikinannya ini nanti juga diberi merek Clio, sama seperti produk kue lainnya.
Hingga saat ini, ia sudah berhasil membuat sekitar 10 varian roti. Beberapa di antaranya adalah roti tawar dan roti sobek. Ke depan, dia juga akan terus berinovasi guna membuat varian-varian baru.
Produk rotinya ini dihargai mulai Rp 5.000 hingga Rp 7.000 per buah. Dalam sehari, dia memproduksi sekitar 300 roti manis dan dijual keliling menggunakan motor. Leni sengaja memilih cara tersebut untuk memperkenalkan mereknya kepada konsumen. “Semua roti yang kami jual setiap hari selalu habis, ada tiga motor yang menjual secara keliling,” jelasnya.
Khusus untuk produk roti ini, Leni bekerjasama dengan ahli bakeri untuk menyempurnakan hasil. Sebelumnya, dia juga sempat belajar khusus di Taiwan untuk proses pembuatannya.
Asal tahu saja, usaha roti manis ini sudah mulai ditekuninya sejak dua tahun lalu. “Roti ini yang nantinya akan mengisi toko setiap pagi. Toh, orang juga setiap hari makan roti,” katanya.
Seiring dengan mimpinya untuk terus berkembang, Leni juga bakal memperba-iki sistem manajemen usahanya dengan menambah jumlah karyawan. Ke depan, Leni berharap bisa membuka cabang di daerah asalnya Palembang. Namun, prioritasnya tetap mengembangkan toko di Jakarta.
Kendati bisnisnya terus berkembang, bukan berarti Leni tak pernah menemukan kendala sama sekali dalam menjalankan usaha. Kendala utama yang dihadapinya adalah susahnya mencari karyawan yang mahir membuat kue. “Susah sekali mencari asisten yang sudah pintar. Jadi, proses produksi tetap tidak bisa ditinggal,” katanya.
Kendala karyawan ini masih menjadi hambatan terbesar Leni hingga saat ini. Tidak hanya yang pintar, mencari karyawan yang jujur juga kian susah. Leni mengeluhkan, beberapa pegawainya yang pintar kadang tidak lagi menghormatinya sebagai pemilik usaha.
Jadi, saat ini, wanita berkulit putih ini lebih memilih mendidik karyawan tanpa pengalaman dan berusia muda. Alasannya, karena mereka lebih jujur dan mau belajar.
Hingga saat ini, Leni masih mengurus semua manajemen usaha, mulai dari bahan baku sampai pembukuan.
(Selesai)
Cek Berita dan Artikel yang lain di Google News













