: WIB    —   
indikator  I  

Faiz Sadad sulap limbah kayu jadi boneka Bokumi

Faiz Sadad sulap limbah kayu jadi boneka Bokumi

KONTAN.CO.ID - Usaha pengolahan limbah kayu ini mulanya berawal dari kebosanan Faiz Sadad yang hanya bisa menggambar di media dua dimensi. Lantas, dia pun  mencari alternatif media untuk hobi menggambarnya.  

Akhirnya, Faiz dan ayahnya menemukan limbah kayu pallet dan membentuknya menyerupai bentuk boneka minion. Ia melukisnya dengan cat kayu. Boneka Kayu Temi alias Bokumi resmi dirilis ke masyarakat sejak 2012 lalu. "Temi itu nama ayah saya," jelasnya.  

Modal awal membuat Bokumi  menurut mahasiswa semester akhir ini tidaklah besar, hanya sekitar Rp 15 juta untuk membeli mesin kayu dan merekrut beberapan perajin kayu. Saat ini, pusat produksi Bokumi ada di Bekasi dan gudang Bokumi yang sudah jadi ada di Depok.

Faiz menjual dua versi Bokumi, yakni Bokumi polos yang masih belum dilukis karakter apapun dan Bokumi karakter yang sudah bergambar. Bakumi karakter bisa dipesan sesuai kemauan pelanggan, bisa bergambar wajah si pemesan atau tokoh kartun kegemarannya.

Satu paket Bokumi polos dilengkapi dengan lima warna dasar (merah, putih, hitam, kuning, biru) dan kuas dibanderol Rp 70.000 per paket. Sedangkan Bokumi karakter sesuai pesanan dibanderol Rp 250.000- Rp 600.000 per buah. "Rentang harganya cukup jauh karena Bokumi karakter ada tim lukis sendiri yang profesional dan proses buatnya lama," terang dia, Karena ini, Faiz hanya terima lima paket Bokumi karakter per bulan.

Sedangkan untuk Bokumi polos, pemuda 21 tahun ini bisa memproduksi dan menjual sampai 200 buah per bulan. Jika dihitung-hitung, omzet penjualan Bokumi mencapai Rp 15-Rp 16,5 juta per bulan.  

Tak hanya konsumen lokal, beberapa kali, Bokumi juga sempat menarik peminat mancanegara, seperti dari Thailand dan Abu Dhabi. Faiz mengatakan, biasanya Bokumi dibawa dalam program pertukaran pelajar atau mendapat pelanggan mancanegara saat mengikuti pameran. Selama ini, Faiz memasarkan Bokumi lewat online, baik lewat sosial media maupun web.

Menjalankan usaha Bokumi tak semudah membalik telapak tangan. Banyak tantangan yang dilalui Faiz. Ia bercerita, usaha Bokumi pernah tutup pada tahun 2014 karena kesibukan kuliahnya. Namun, usaha ini kembali dijalankan pada 2015 dan masih tetap eksis sampai sekarang. "Tahun 2014 sempat vakum karena saya kuliah, orang tua juga sibuk kerja jadinya Bokumi tidak terurus," kenangnya.

Karena kerap diundang berkeliling sekolah dan kampus untuk memberi pelatihan kreasi Bokumi, Faiz berharap, Bokumi bisa jadi salah satu kurikulum di Indonesia. Sebagai pemantik kreatifitas, sekaligus memperkenalkan produk unik asli Indonesia. "Saya ingin Bokumi bisa masuk kurikulum pendidikan atau jadi ekstrakulikuler sekolah. Toh, ini juga produk asli Indonesia," pungkasnya.


Reporter Elisabeth Adventa
Editor Johana K.

GREEN BUSINESS

Feedback   ↑ x
Close [X]