: WIB    —   
indikator  I  

Gurih dan renyah bisnis keripik pisang Luwu Utara

Gurih dan renyah bisnis keripik pisang Luwu Utara

KONTAN.CO.ID - Setiap daerah punya makanan khas yang bisa menjadi oleh-oleh. Nah, bila Anda bertandang ke Kabupaten Luwu Utara, Sulawesi Selatan, jangan lupa menenteng keripik pisang tanduk sebagai salah satu pilihan oleh-olehnya.

Masati, pemilik gerai keripik pisang Kuporai mengatakan, sudah empat tahun terakhir banyak orang mengolah keripik pisang di Desa Tarengge, Luwu Utara. Perajinnya mulai bermunculan.  Keripik pisang tanduk khas Luwu diproses di rumah-rumah pengrajin berskala kecil.

Meski sudah empat tahun mengolah pisang tanduk menjadi keripik, Masati baru membuka gerai sendiri sejak dua tahun ini. "Di pinggir jalan ini ada sekitar empat  gerai" tuturnya saat ditemui KONTAN di gerainya.

Gerai sederhana milik Masati terletak di pinggir jalan lintasan menuju Kota Palopo, Sulawesi Selatan. Di sana, ia menjual keripik pisang dengan aneka rasa, seperti rasa cokelat, manis, asin, jagung manis, jagung bakar dan balado. Harga yang dibanderol pun beragam, sesuai dengan ukuran kemasan.

Harga keripik kemasan paling kecil, seberat 50 gram, adalah Rp 7.500 per bungkus. Yang agak besar, kemasan 150 gram harganya Rp 12.500 per bungkus. Kemasan paling besar 250 gram harganya Rp 20.000 per bungkus. Masati mengatakan bisa mengantongi omzet sampai Rp 25 juta per bulan.

Pelanggan keripik pisang Kuporai kebanyakan berasal dari Sulawesi seperti Makassar, Halmahera, Bone-bone, Palu dan sebagainya. Masati bilang keripik pisang miliknya memang kerap menjadi oleh-oleh bagi pengunjung Kabupaten Luwu Utara. "Banyak pesanan oleh-oleh untuk dibawa ke Arab. Ada juga yang sering bawa ke Jawa dan Sumatra. Rata-rata yang bawa ya orang Sulawesi," tuturnya.

Tak hanya Masati yang kebanjiran pesanan untuk oleh-oleh, Hanif, pemilik gerai keripik pisang Nasuzuri juga menceritakan hal serupa. Bedanya, ia mengemas keripik pisang dengan satu ukuran, yakni kemasan 350 gram. Harga yang dibanderol untuk keripik pisang aneka rasa Rp 30.000 per bungkus.

"Di sini rata-rata sama rasanya, ada satu atau dua rasa saja yang berbeda. Kalau punya saya ini ada rasa cokelat, manis, asin, jagung bakar, jagung manis, green tea dan stroberi," kata Hanif. Ia juga kerap kebanjiran pesanan. Apalagi, jika ada kunjungan kerja dari Jakarta dan Makassar ke wilayah Luwu Utara.

Menurut Hanif, keripik pisang khas Luwu berbeda dengan keripik pisang dari daerah lainnya. Rasa asli keripik pisangnya tidak terlalu manis, lebih ke gurih. Irisannya juga lebih tipis, sehingga lebih ringan untuk dimakan.

"Serasa tidak bisa berhenti kalau makan keripik pisang di sini," ujarnya sambil tertawa. Sama seperti Masati, dalam sebulan Hanif juga mampu mengantongi omzet hingga Rp 20 juta.       


Reporter Elisabeth Adventa
Editor Johana K.

PELUANG USAHA

Feedback   ↑ x