Reporter: Fahriyadi | Editor: Tri Adi
Bermodal percaya diri yang tinggi, Hari Setiawan banting setir dari semula pekerja kantoran menjadi pebisnis. Meski ekonomi tengah krisis, ia tak cemas. Baginya, krisis mendatangkan peluang.
Tak terpikir sebelumnya dalam benak Hari Setiawan, pemilik PT Noah Funtastic Pools, untuk terjun penuh ke dunia bisnis. Ia merasa tak memiliki bakat kuat untuk menjadi seorang wirausahawan. Maka itu, selepas lulus kuliah, keinginan Hari sederhana saja, bekerja dan meniti karier di perusahaan.
Berbekal sarjana ekonomi dari Universitas Pancasila, Hari pun melamar pekerjaan ke beberapa perusahaan. "Saya ingin menjadi seorang manajer," kisahnya.
Pada tahun 1992, nasib membawa Hari bekerja pada sebuah perusahaan konstruksi di Jakarta. Meski bukan seorang sarjana teknik, Hari mampu bekerja dengan baik.
Bahkan Hari diminta perusahaan, belajar tentang strategic consulting dalam quality management system ISO untuk konstruksi bangunan. "Dua tahun saya belajar ilmu tersebut dan menyerap secara maksimal," ujarnya. Dari situ, Hari belajar lebih dalam soal materi teknis konstruksi. Lambat laun, dia pun paham dan menguasai detail soal konstruksi sebuah bangunan.
Hingga suatu hari, saat bertandang ke rumah sahabatnya, Hari ditawari proyek kecil-kecilan; memperbaiki sistem sanitasi kolam renang yang rusak.
Tanpa pikir panjang, Hari menyambar tawaran itu. Ternyata, hasilnya tak mengecewakan. Dari sanalah awal Hari berkenalan dengan konstruksi bangunan kolam renang. Naluri bisnisnya pun mendadak muncul. Ia langsung tebersit untuk membuat usaha pembuatan dan perawatan kolam renang. "Modal saya kala itu hanya percaya diri saja," kata Hari.
Pada 1994, Hari nekat mendirikan perusahaan bernama PT Noah Funtastic Pools, yang khusus melayani jasa pembuatan dan perawatan kolam renang. Order pertama justru datang dari luar Jakarta. Hari mendapat proyek pembuatan kolam renang pribadi di daerah Subang, Jawa Barat. Kala itu ia mematok tarif Rp 1,7 juta per meter persegi. Dari proyek perdana ini, Hari mendapatkan omzet Rp 50 juta.
Merasa ada celah pasar, Hari pun mulai serius memasarkan usahanya. Ia menyisihkan sebagian hasil pendapatannya untuk berpromosi di yellow pages dan iklan baris surat kabar dengan menyebut perusahaannya sebagai spesialis penyedia jasa kolam renang.
Tapi karena masih bisnis sambilan, tak semua order yang masuk sanggup ia kerjakan.
Krisis ekonomi tahun 1998 menjadi titik balik bagi Hari. Pada saat sulit itu, justru Hari memilih keluar dari perusahaan tempat ia bekerja. Bermodal percaya diri yang tinggi, ia yakin, krisis akan mendatangkan peluang.
Apalagi saat itu, permintaan pembuatan kolam renang ternyata malah meningkat. "Saat perusahaan konstruksi skala besar banyak yang kolaps, saya malah mendapat banyak order," katanya.
Pada kurun waktu 1998-2001, Hari rutin mengerjakan pembuatan kolam renang untuk rumah dan villa milik kalangan atas. "Beberapa di antaranya milik artis dan pejabat tinggi," tuturnya.
Spesialisasinya adalah membuat kolam renang di lahan terbatas atau rumah minimalis. "Secara teknis cukup berat, tetapi itu buat saya kesempatan dan tantangan," tuturnya.
(Bersambung)
Cek Berita dan Artikel yang lain di Google News













