: WIB    —   
indikator  I  

Ikuti tren, brownies pun tampil kekinian (2)

Ikuti tren, brownies pun tampil kekinian (2)

KONTAN.CO.ID - Brownies dengan ragam topping sedang naik daun. Banyak pelaku usaha kuliner mulai menjajal peruntungannya. Seperti Anita Sunardi, pemilik Brownie Addited.

Namun, Anita bilang, jurus utamanya untuk bertahan adalah dengan tidak menghilangkan rasa asli dari adonan brownies. "Jangan sampai kalah dengan rasa topping-nya," katanya.

Selai itu, dia juga membungkus dengan kemasan menarik. Yakni, menggunakan tas kertas yang dapat diberikan tambahan pesan menarik bagi penerimanya. Maklum, browniesnya banyak ditenteng para pelancong sebagai oleh-oleh.

Anisa mengatakan, kendala yang dihadapinya adalah kenaikan harga bahan baku. Saat menjelang Idul Fitri lalu, dia terpaksa menaikkan harga jual produknya sekitar Rp 5.000.

Asal tahu saja, saat Lebaran tiba dia pun kelimpahan berkah dari jumlah pesanan yang meningkat  hingga 100%.  Kebanyakan, pelanggan memesan dalam jumlah banyak brownies ini untuk dijadikan oleh-oleh saat pulang kampung.

Hanya saja, Anita belum belum bisa mendapatkan jumlah pesanan dalam jumlah fix per harinya. Maklum, promosi yang dia lakukan belum maksimal. Sampai sekarang dia hanya menggunakan Instagram dan Facebook untuk promosi produk.
Bila tidak ada halangan, Anita bakal segera mengeluarkan brownies sembilan rasa dalam satu kemasan. " Jadi kuenya akan dipotong kecil-kecil dengan aneka topping, agar orang dapat merasakan semua rasa dalam satu boks," tambahnya.

Pemain lainnya yang juga sedang naik daun adalah Brownies Manen milik Patria Prima Putra. Patria pun cukup piawai menanggapi ketatnya persaingan usaha brownies yang sedang terjadi. Menurutnya, produk Brownies Manten ini tidak memiliki pesaing yang sepadan.

Menurutnya, Brownies Manten bukan hanya sekedar makanan tapi juga sebagai media penyampai pesan. " Ini cocok untuk orang-orang yang tidak berani mengungkapkan rasa cinta secara langsung," katanya. Asal tahu saja, kue ini berbentuk hati dengan rasa manis saat digigit.

Sukses membesut usahanya, bukan berarti laki-laki berusia 22 tahun ini tidak pernah mengalami hambatan. Dia pernah kesulitan mencari putih telur  saat permintaan semakin tinggi. Solusinya, kini dia menjalin kerjasama dengan pengusaha kue lapis Surabaya untuk menampung putih telur yang tak digunakan.

Kedepan, dia bakal fokus untuk memperluas pasar melalui sistem keagenan dan juga masuk dalam supermarket. Sementara ini, produknya sudah tersedia dibeberapa swalayan.

Selain itu, dia bakal memfasilitasi para pelanggan yang ingin menikah secara taaruf. Saat ini, masih dalam tahap persiapan sistem. "Agar produk kami melekat dibenak konsumen karena menyajikan pengalaman yang berbeda," pungkasnya.    

(Selesai)


Reporter Mia Chiara, Tri Sulistiowati
Editor Johana K.

PELUANG USAHA

Feedback   ↑ x
Close [X]