: WIB    --   
indikator  I  

Ini dia pioneer batik celaket khas Malang (1)

Ini dia pioneer batik celaket khas Malang (1)

Kini, bisnis kain batik memang menggiurkan. Apalagi bila pasarnya sudah meluas hingga mancanegara. Inilah yang dirasakan oleh Hanan Jalil, pemilik galeri batik celaket asal Malang, Jawa Timur. Dalam sebulan, dia bisa meraup omzet hingga ratusan rupiah.  

Hanan adalah mantan jurnalis. Ia membesut usaha batik ini bersama sang istri, Ira Hartanti pada tahun 1997. Meski sempat merasakan jatuh bangun dalam berbisnis, berkat kesabaran dan keuletannya, kini Hanan telah menuai manisnya bisnis batik.
Produknya selalu laris diborong wisatawan yang berlibur ke Malang.

Tak hanya itu, batiknya juga malang-melintang di luar Indonesia. Sebut saja, di Jepang, Belanda, Denmark dan Kanada. Batik celaket bisa eksis di luar negeri berkat kiprah mahasiswa dari negeri itu yang belajar batik pada Hanan.  Jadi, "Setelah mengikuti pelatihan batik, biasanya para mahasiswa asing memesan dan menjual batik di negeranya," katanya.

Selain melayani pembelian ritel, anak kedua dari enam bersaudara ini juga melayani pesanan dalam jumlah besar. Kebanyakan pelanggannya adalah perusahaan, instansi pemerintahan, pendidikan, rumah sakit dan lainnya. Pemesanannya bisa mencapai 1.000 pieces per order.  

Maklum, batik buatan Hanan cukup unik. Motifnya menggunakan ikon khas Malang, seperti tugu, singa, apel dan lainnya. Warnanya juga selalu ikuti tren dari tahun ke tahun.

Hanan menjual batik tulis mulai Rp 400.000-Rp 25 juta, batik cap sekitar Rp 100.000-Rp 200.000 dan baju batik siap pakai sekitar Rp 150.000.

Mengawali produksi dari beberapa lembar kain batik, kini produksi per hari bisa mencapai 30-50 lembar batik.  Dalam sebulan, dia membutuhkan 1 kuintal malam. Semua bahan baku membatik mulai dari kain sampai peralatan didatangkan langsung dari Solo, Jawa Tengah.   

Untuk produksi, Hanan  dibantu oleh 12 perajin yang menjadi karyawan tetap. Di luar itu ada 40 pembatik tak tetap. Uniknya, seluruh karyawannya merupakan anak muda yang berusia 20-an tahun.

Khusus untuk pakaian siap pakai, proses jahit dikerjakan di Solo. Alasannya, biaya produksinya jauh lebih rendah dari Malang. "Disana ongkos jahit satu pakaian hanya Rp 15.000, di sini minimal Rp 40.000," tambahnya.

Selain menekuni bisnis batik dan menjadi pioner batik celaket, pria kelahiran Banyuwangi, Jawa Timur ini juga menjalankan usaha konveksi. Ia menggarap seragam  SD, SMP, SMA, dan pakaian dinas Pemerintahan.

Berbeda dengan usaha batik, konveksinya berada di Solo, Jawa Tengah. Dalam sehari, dia bisa menghasilkan ratusan seragam yang nantinya bakal dijual di sekitar Solo dan Malang. Harganya pun dibandrol mulai dari Rp 50.000 sampai Rp 200.000 per baju.    

(Bersambung)


Reporter Tri Sulistiowati
Editor Johana K.

PROFIL PENGUSAHA

Feedback   ↑ x
Close [X]