: WIB    --   
indikator  I  

Inilah tokoh di balik wine lokal yang mendunia

Inilah tokoh di balik wine lokal yang mendunia

KONTAN.CO.ID - Pensiun dari karier sebagai eksekutif di perusahaan besar, tidak menghalangi Mulyati Gozali untuk tetap memberi sumbangsih bagi masyarakat. Kini, ia membina 180 petani anggur di Buleleng, Bali, untuk bisa berkembang dan meraih kehidupan yang layak.

Melalui Sababay Winery, Mulyati mengangkat derajat kehidupan ratusan keluarga petani anggur di utara Pulau Dewata. Dengan menampung produksi anggur petani, lalu  mengolahnya menjadi wine berkualitas, Sababay memberi nilai tinggi bagi anggur produksi Bali.

Langkah panjang Mulyati ini bermula ketika ia memutuskan pensiun dari jabatannya sebagai Presiden Komisaris dan Direktur Keuangan  PT Gajah Tunggal Tbk. Ia memilih banyak meluangkan waktu bersama keluarga di Pulau Bali. Nyatanya, Mulyati tak bisa lama-lama ‘diam’. Ia ingin tetap produktif. Awalnya, ia ingin terjun ke dunia properti. Tapi lantaran tak memiliki dasar pariwisata dan melihat ketatnya persaingan, ia pun urung masuk bisnis ini.

Tahun 2008, bersama anaknya, Evy Gozali, Mulyati berpetualang mengelilingi Bali untuk melihat potensi tiap daerah. Di kawasan Buleleng, ia melihat para petani anggur hidup serba-kekurangan. “Saat itu, anggur hanya dihargai Rp 500 per kilogram (kg). Dalam setahun, rata-rata penghasilan petani hanya Rp 1 juta. Mereka memiliki dua, tiga anak, rumah asih setengah gubuk dengan kamar mandi di luar,” ujarnya.

Hatinya tergerak membantu. Apa lagi dia melihat ada potensi memberi nilai tambah pada buah anggur yang mereka hasilkan. Maka Mulyati segera menyusun strategi untuk membangun bisnis. Dia melawat ke beberapa negara untuk melihat pertanian anggur, mengurus perizinan, mendatangkan winemaker dan alat-alat produksi lain. Akhirnya tahun 2010, Mulyati mendirikan perusahaan pengolahan anggur (winery) bernama Sababay Winery.

Rintangan pun menghadang. Langkah Mulyati menawar anggur para petani dengan harga 10 kali lipat dari harga pasar, mengusik tengkulak. Para tengkulak menakuti petani bahwa mereka akan dipaksa menyerahkan kebun anggurnya. “Saat itu, kondisi petani selalu gagal panen. Mereka terlilit utang ke tengkulak,” ujarnya.  

Untuk menyingkirkan tengkulak, Mulyati melunasi utang para petani dengan syarat akan dicicil setiap panen. “Jika dihitung, jumlahnya sekitar Rp 450 juta. Petani melunasi hanya dalam dua tahun dan rantai tengkulak sudah putus,” kata Chairman Sababay Winery itu.

Kini, Sababay Winery telah membina 180 petani anggur dengan total kebun seluas 80 hektare. Dalam setahun, setiap petani bisa dua kali panen dengan minimum menghasilkan 15 ton anggur setiap kali panen. Adapun harga anggur saat ini sudah naik menjadi Rp 7.500 per kg.  Rata-rata setiap petani kini bisa mengantongi penghasilan bersih sekitar Rp 7 juta per bulan.

Sababay yang mulai memproduksi wine tahun 2013, membidik hotel-hotel kelas atas dengan mengajak mereka ke perkebunan dan membuat acara di winery. “Saya ingin mengenalkan bahwa Indonesia juga bisa memiliki wine berkualitas internasional,” ujarnya.


Reporter Vina Anggita
Editor Bagus Marsudi

PROFIL PENGUSAHA

Feedback   ↑ x
Close [X]