PELUANG USAHA
Berita
Isam sukses mengibarkan sutra garut (1)

INSPIRASI ISAM SAMSUDIN

Isam sukses mengibarkan sutra garut (1)


Telah dibaca sebanyak 1668 kali
Isam sukses mengibarkan sutra garut  (1)

Terjun ke usaha pembuatan kain sutra sejak 2008, Isam Samsudin sukses memperkenalkan kain sutra khas Garut hingga ke seluruh penjuru Nusantara. Konsumennya mulai pengusaha batik, desainer, dan masyarakat umum.

Sejak dahulu, Kabupaten Garut, Jawa Barat sudah terkenal sebagai daerah penghasil sutra. Daerah ini punya industri tenun sutra yang telah ada sejak puluhan tahun silam.

Salah satu perajin yang sukses mengibarkan sutra khas Garut ini adalah Isam Samsudin. Sejak tahun 2008, ia memperkenalkan sutra Garut ke seluruh penjuru Nusantara.

Di bawah bendera usaha Gallery Sutra Garut, kain sutra buatannya kini banyak dipesan para perajin batik, desainer pakaian, dan juga masyarakat umum penyuka sutra dari seluruh Indonesia.

Salah satu yang menjadi nilai tambah kain sutra buatan Isam adalah proses pembuatannya yang dilakukan secara handmade dengan bantuan peralatan tradisional.

Lantaran itu kain sutra buatannya dikenal sebagai kain sutra ATBM alias alat tenun bukan mesin. "Semua proses pengerjaannya dilakukan secara tradisional, jadi lebih eksklusif dan kualitasnya juga terjamin," ujarnya.

Karena kelebihannya, kain sutra buatan lelaki 36 tahun ini banyak disukai. Dengan dibantu 40 karyawan, Isam mengaku mampu menghasilkan rata-rata lebih dari 2.300 meter kain saban bulannya.

Tidak hanya kain sutra polos, ia juga memproduksi kain sutra yang sudah diberi warna dan motif tertentu. "Untuk kain polos kami menjualnya sekitar Rp 85.000 hingga Rp 125.000 per meternya," ungkapnya.

Selain kain yang masih polos, Isam juga memproduksi kain sutra yang sudah diberi warna dan motif batik. Bahkan, ada juga yang dibuatnya menjadi pakaian kemeja dan lain-lain.

Isam mengklaim, seluruh hasil karya desain batik sutranya merupakan kreasi sendiri dengan memadukan motif batik khas Cirebon. "Selebihnya merupakan hasil imajinasi saya sendiri," ujarnya.

Bila sudah diberi motif batik, harganya jauh lebih mahal dari kain yang masih polos. Untuk kain sutra batik, misalnya, dibanderol mulai Rp 1,5 juta-Rp 3,5 juta per pieces.

Sementara yang sudah menjadi pakaian jadi dihargai hingga Rp 5 juta per lembar. Dari usaha ini, omzet yang dikantonginya dalam sebulan mencapai sekitar Rp 150 juta. Adapun laba bersihnya sekitar 40% dari omzet.

Isam mengaku, selama hampir empat tahun menjalani usaha ini, penjualan dan permintaan kain sutra terus meningkat. Pencapaian yang diraih Isam saat ini terbilang cukup baik mengingat ia hanya memiliki bekal pendidikan Diploma I (D1) Ilmu Perhotelan.

Pengalaman bergelut di usaha ini dapatnya dari bekerja pada usaha pembuatan kain sutra ATBM milik kakak kandungnya sendiri pada tahun 2001 hingga 2008.

Selama bekerja dengan kakaknya, ia mengaku banyak belajar tentang proses pembuatan kain sutra. Lambat-laun minta dan kecintaannya terhadap kain sutra terus tumbuh. "Saya tak pernah terpikir akan masuk ke bidang ini sebelumnya," ucapnya.

Berbekal kecintaan dan keterampilan membuat kain sutra inilah ia memutuskan untuk membuka usaha sendiri. Bisnis ini dirintisnya dengan modal awal Rp 60 juta dari hasil pinjaman ke beberapa teman dan saudaranya.

(Bersambung)

Editor: Tri Adi
Telah dibaca sebanyak 1668 kali



Syarat & Ketentuan Komentar :
  1. Tidak memuat isi bohong, fitnah, sadis dan cabul.
  2. Tidak memuat isi yang mengandung prasangka dan kebencian terkait dengan suku, agama, ras, dan antargolongan (SARA), serta menganjurkan tindakan kekerasan.
  3. Tidak memuat isi diskriminatif atas dasar perbedaan jenis kelamin dan bahasa, serta tidak merendahkan martabat orang lemah, miskin, sakit, cacat jiwa, atau cacat jasmani.
  4. KONTAN memiliki kewenangan mutlak untuk mengedit atau menghapus komentar yang bertentangan dengan ketentuan ini.

LIPSUS

LIPSUS Update

  • Risiko berbeda, premi tiap daerah seharusnya berbeda juga

    +

    Dalam uji coba pertama, Jasindo mengkover 600 hektare (ha) lahan dengan biaya premi Rp 100 juta.

    Baca lebih detail..

  • Agar sukses, perlu insentif bagi penyuluh lapangan

    +

    Program asuransi pertanian menjadi salah satu upaya pemerintah untuk melindungi petani dari efek perubahan iklim. Hanya saja masih banyak kekurangan yang ditemui, seperti kurangnya sosialisasi dan tidak adanya insentif bagi penyuluh pertanian lapa

    Baca lebih detail..