: WIB    --   
indikator  I  

Jalan menghemat ongkos transfer

Jalan menghemat ongkos transfer

Rahma Sundari, karyawan swasta di Jakarta Selatan, sedikit kaget ketika mengecek saldo rekening bank miliknya di internet banking. Pasalnya, saldo rekeningnya satu bulan terakhir ini berkurang lumayan banyak.

Padahal, seingat Rahma, pengeluarannya bulan ini tidak terlalu deras. Selidik punya selidik, uang Rahma rupanya banyak tersedot untuk biaya atau fee transaksi bank.

“Saya habis hampir Rp 100.000 bulan ini hanya untuk biaya transaksi mulai dari biaya transfer antarbank, biaya ATM, biaya administrasi, pajak, dan lain-lain,” sungut Rahma.

Sebulan terakhir Rahma sering mentransfer uang ke kerabatnya yang tengah hajatan, atau membantu biaya kuliah adiknya. Kebetulan, rekening bank yang dituju berbeda-beda, sehingga Rahma terpaksa kena biaya Rp 6.500 per transaksi.

Situasi seperti ini mungkin pernah Anda rasakan. Maklum, perbankan di Indonesia memang kurang efisien lantaran hampir semua jenis jasa, kena tarif atau biaya.

Mulai dari biaya transfer antarbank, biaya cek saldo, biaya tarik tunai di mesin Anjungan Tunai Mandiri (ATM), biaya transfer daring, biaya pendebetan melalui Electronic Data Capture (EDC), dan lain sebagainya. Semua itu belum termasuk biaya administrasi bulanan dan biaya ATM.

Singkat cerita, nyaris tidak ada makan siang gratis bila Anda berhubungan dengan jasa perbankan. Nah, permasalahan inilah yang coba dipecahkan oleh Flip, usaha rintisan alias startup yang Agustus 2015.

startup ini menawarkan solusi sederhana yakni platform sebagai perantara pengiriman dana. Pemilik akun Flip bisa mentransfer uang dari rekening bank miliknya ke rekening bank yang berbeda, tanpa biaya.

Misalnya, seorang pengguna Flip hendak mengirim uang dari rekening bank X ke rekening bank Y, memakai fasilitas Flip. Dia bisa mengisi order di akun Flip lalu mentransfer dana seperti biasa ke rekening Flip di bank X. Sistem Flip akan mendeteksi ada order transfer.

Untuk memudahkan verifikasi, Flip mewajibkan pengguna menambahkan kode unik di setiap nominal transfer. Misal, Anda mengirim Rp 100.000, Flip memberi kode unik 30, sehingga total yang Anda transfer adalah Rp 100.030.

Kode unik dalam nominal transfer ini bisa menjadi deposit Anda di akun Flip, dan bisa dicairkan kelak ketika nominalnya mencapai Rp 10.000. Nah, bila order transfer dan kiriman dana Anda sudah terverifikasi, Flip akan meneruskan pengiriman dana ke bank Y sesuai order pemilik akun.

Semua proses itu berlangsung sekitar 20 menit. “Kami menjamin uang akan sampai ke rekening tujuan kurang dari satu jam,” terang Rafi Putra Arriyan, salah satu pendiri Flip, kepada Tabloid KONTAN.

Pengguna Flip bisa mentransfer uang mulai Rp 10.000 hingga Rp 5 juta setiap hari per akun. Sementara ini, Flip masih membatasi jam operasional transfer mulai jam 9 pagi hingga setengah 5 sore, mulai hari Senin hingga Jumat.

Khusus hari Sabtu, mereka beroperasi hanya sampai jam dua siang. Bila ada nasabah yang mengirim uang di luar jam operasional, Flip akan memproses pada jam kerja berikutnya.

Saat ini, Flip baru membuka jasa transfer bebas biaya dari dan ke rekening 9 bank yaitu Bank Central Asia (BCA), Bank Mandiri, Bank BNI, BNI Syariah, Bank Rakyat Indonesia (BRI), Bank CIMB Niaga, CIMB Niaga Syariah, Bank Mandiri Syariah dan Bank Muamalat.

Untuk menjaga keamanan data pengguna, semua data pengguna dienkripsi memakai Advanced Encryption Standard (AES-128) sehingga tidak bisa dibaca pihak luar. “Semua komunikasi antar server juga dienkripsi memakai Secure Socket Layers (SSL),” terang Rafi.

Masih pengembangan

Platform yang ditawarkan oleh Flip lahir dari hasil kongsi tiga anak muda yakni Rafi, bersama Luqman Sungkar dan Ginandjar Ibnu Solikhin. Saat itu mereka masih menempuh pendidikan di jurusan Ilmu Komputer Universitas Indonesia (UI).

“Kami dulu teman sekampus yang sering saling berutang, tapi punya rekening bank berbeda-beda. Jadilah, kami mencoba mencari solusinya,” cerita Rafi, bersemangat.

Bermodalkan uang tabungan pribadi, mereka merintis platform yang jadi cikal bakal Flip. “Modalnya sekitar belasan juta rupiah,” katanya.

Modal pengembangan startup ini juga mereka dapatkan dari kampus berupa beasiswa dari Direktorat Inovasi dan Inkubasi UI. Flip juga mendapat suntikan dana (seed funding) dari angel investor.

Sayang, Rafi enggan mengungkap identitas sang investor berikut nilai suntikan modal yang mereka terima. Yang pasti, ada nama Hasnul Suhaimi, mantan Presiden Direktur XL Axiata, terpampang di website Flip sebagai salah satu pendamping pengembangan Flip.

Selain Hasnul, ada Agung Nugroho, Chief Operating Officer Kudo, startup pengembang aplikasi e-commerce untuk pemula.

“Saya di Flip membantu mendampingi, dari sisi ide, networking juga konsep apabila perlu. Bukan sebagai angel investor,” cerita Hasnul kepada Tabloid KONTAN.

Rafi mengakui, Flip masih membutuhkan banyak pengembangan. Misalnya, saat ini Flip masih berbasis web.

Pengembangan mobile apps masih proses. “Kami sedang kembangkan baik untuk gadget berbasis iOS maupun Android,” kata Rafi.

Selain itu, Rafi dan kawan-kawan juga tengah memproses kerjasama resmi dengan beberapa bank agar memperoleh jalur langsung memfasilitasi transfer. Maklum, saat ini mereka masih memakai jalur umum transfer seperti nasabah biasa.

Akibatnya, proses transfer yang difasilitasi Flip tergantung pada stabilitas sistem bank tersebut. “Saat order transfer tinggi, server kami sebenarnya masih bisa mengatasi hingga 1.000 transaksi. Tapi, sistem bank kadangkala overload dan macet sehingga proses transfer di Flip terpengaruh dari sisi kecepatan waktu,” terang Rafi.

Masa puncak transfer biasanya saat tanggal gajian pegawai, juga menjelang puasa dan lebaran. Rafi optimistis, bila memiliki kerjasama langsung dengan bank, problem gangguan jaringan tersebut bisa teratasi sehingga layanan transfer antarbank lewat Flip bisa lebih cepat mereka lakukan.

Lebih dari setahun berjalan, pengguna Flip saat ini sudah tercatat 28.000 akun, dengan volume transaksi mencapai 68.037 transaksi antarbank. Sedang nilai transaksi lebih dari belasan miliar rupiah sebulan.

Dimas Ramadhani, salah satu pengguna Flip, menceritakan startup ini sudah membantunya menghemat biaya transfer antarbank sekitar Rp 312.000. “Saya memakai Flip sejak September 2015,” kata dia.

Setiap bulan, Dimas mengirim uang ke berbagai rekening dan banyak di antaranya adalah akun bank yang berbeda. Transfer itu ia lakukan baik untuk keperluan pribadi maupun aktivitas bisnis.

Alhasil, sebelum memakai Flip dia merasa sangat boros menanggung biaya transfer antarbank tersebut. Dimas menilai, jeda waktu transfer tidak menjadi soal baginya karena sebanding dengan penghematan biaya tersebut.

Hanya saja, menurut Dimas, akan lebih oke apabila Flip juga tampil dalam format mobile apps agar bisa lebih praktis digunakan.

Di segmen bisnis jasa transfer dana, selain perbankan, masyarakat sudah banyak mengenal para pemain besar seperti Western Union ataupun PT Pos Indonesia.

Bedanya, Western Union tidak memakai teknologi atau aplikasi digital sebagaimana Flip. Pasalnya, si pengirim maupun penerima dana harus standby di kantor agen Western Union. Begitu juga produk wesel di Pos Indonesia.

Sedang di ranah aplikasi digital, Flip bersaing langsung dengan startup Kliring juga Shiv. Bedanya, Flip sudah mengantongi izin usaha dari BI sebagai perusahaan transfer dana.

Shiv hingga saat ini baru bisa melayani transfer bebas biaya untuk 4 bank besar. Sedangkan Kliring melayani transfer bebas biaya hingga delapan bank.

Nah, mana yang bakal menjadi favorit masyarakat Indonesia, mari melihat bersama.


Reporter Ruisa Khoiriyah
Editor S.S. Kurniawan

FLIP

Feedback   ↑ x
Close [X]