: WIB    --   
indikator  I  

Kalimati menjelma jadi lokasi budidaya ikan (3)

Kalimati menjelma jadi lokasi budidaya ikan (3)

Para pemilik keramba ikan air tawar di Kalimati, Slamaran. Kecamatan Krapyak, Pekalongan, Jawa Tengah rupanya tidak melulu membudidayakan ikan konsumsi. Belakangan, mereka mulai menjajal mengembangbiakkan ikan koi.

Micheal Kurniawan, salah satu pembudidaya mengaku tertarik membudidayakan koi karena melihat permintaan pasar koi yang cukup besar . Sebagai permulaan, dia hanya menebar seratus bibit koi di keramba miliknya yang berukuran 3,5x7 m2.

Menurut Micheal, mengembangkan ikan hias tidaklah sulit. Pasalnya, sifat ikan hias mirip dengan ikan konsumsi pada umumnya. Hanya, ikan yang bercorak dengan dasar warna oranye ini membutuhkan air yang mengalir. "Di Kalimati ini kan tiap pagi airnya disedot dan diujung ada sumber air, sehingga perputarannya sudah cukup," katanya pada KONTAN, Jumat (6/4).

Namun, belakangan mereka cukup khawatir dengan kondisi air Kalimati yang kurang stabil. Penyebabnya adalah adanya, mesin sedotan yang rusak sehingga air hanya dapat disedot satu kali sehari.

Intensitas air dalam Kalimati rupanya tidak selalu tetap. Volumenya naik-turun sesuai dengan sedotan air. Bila volume sedang tinggi, pemilik keramba harus waspada karena ikan bisa saja keluar dari keramba. Sebaliknya, bila volume air turun, ikan-ikan juga keselitan berenang. "Kalau airnya sedikit ikannya gelinding-gelinding tidak ada air dalam keramba," tambahnya.

Selain itu, masalah yang mereka hadapi adalah banyaknya sampah plastik di tepian sungai. Micheal  mengaku cukup terganggu dengan kondisi lingkungan yang kotor, padahal para pemilik keramba sudah membersihkannya secara berkala.

Di luar masalah lingkungan, Usman Kalifa, pembudidaya lainnya, mengatakan harus siap bersaing. Namun, bukan antar para pemilik keramba yang berada disana, tapi dengan para pembudidaya dilokasi lain dan tengkulak dari luar. "Kadang ada teman yang sulit sekali menjual hasil panennya karena tidak ada tengkulak yang tertarik," katanya. Bila seperti itu, mereka harus siap untuk menerima harga rendah yang ditawarkan oleh tengkulak.

Musim kemarau yang akan datang pada pertengahan tahun juga mengundang keresahan para pembudidaya. Karena, saat udara panas kadar garam dalam air akan meningkat. Kondisi ini tidak cocok untuk ikan nila dan bawal. Usman bilang mau tidak mau saat musim kemarau datang mereka harus mengganti dengan jenis ikan lainnya.

Kedepan, mereka bakal membuat paguyuban untuk memperkuat usahanya. Melalui itu, diharapkan lingkungan dapat lebih bersih karena mereka dapat mengenakan sanksi kepada siapa saja yang sengaja membuang sampah disana atau tidak memindahkan ikan mati di keramba.

Micheal mengaku pembentukan paguyuban tersebut sudah mendapatkan dukungan dari Dinas Perikanan dan Kelautan setempat. Dengan begitu, nantinya mereka dapat juga diberikan pelatihan secara intensif.     

(Bersambung)


Reporter Tri Sulistiowati
Editor Johana K.

BUDIDAYA PERIKANAN

Feedback   ↑ x
Close [X]