kontan.co.id
| : WIB | INDIKATOR |
  • USD/IDR14.199
  • SUN98,94 0,36%
  • EMAS616.094 0,00%
  • RD.SAHAM 0.66%
  • RD.CAMPURAN 0.16%
  • RD.PENDAPATAN TETAP 0.07%

Kecintaan tanah air giring kejayaan produk etnik

Sabtu, 12 Mei 2018 / 12:10 WIB

Kecintaan tanah air giring kejayaan produk etnik

KONTAN.CO.ID - Dunia fesyen tanah air terus bergerak cepat. Produk-produk buatan tangan (handmade) dengan sentuhan kain khas Indonesia seperti batik dan tenun semakin berkembang. Perajin pun semakin kreatif dengan memaudkan berbagai bahan menjadi desain yang etnik.  

Kolaborasi kain-kain khas dalam negeri ini makin banyak digunakan untuk produk fesyen. Mulai dari pakaian, tas, hingga aksesoris. Pasar pun nampak agresif menerima produk-produk fesyen gaya etnik ini.

Iskandarsyah, perajin sekaligus pemilik Alini Fashion Ethnic menilai  perkembangan produk fesyen etnik tanah air makin pesat. Kondisi ini didorong oleh pasar yang terus berkembang dan meluas. "Anak muda sudah mulai aware dengan produk etnik. Mereka kini berpikir, batik menjadi barang yang lebih berharga bila dibandingkan produk impor," katanya pada KONTAN.

Sekedar info, Alini merupakan brand dari produk aksesoris. Iskandarsyah fokus menggarap desain dengan mengkombinasikan  batik dan logam. Jenis aksesorisnya mulai dari gelang, anting, kalung, dan lainnya.

Harga produknya mulai dari Rp 20.000 sampai Rp 150.000 per item. Dalam sebulan, Iskandaryah bisa memproduksi hingga 1.000 item berbagai produk aksesoris.

Konsumennya pun sudah cukup luas, tidak hanya di Jakarta tapi sudah sampai Palu, Lampung, dan daerah lainnya. Beberapa waktu lalu dia juga sempat ikut dalam ajang pameran di Jepang.

Yang menarik, perajin Alini terdiri dari 15 orang yang seluruhnya merupakan perempuan. Awalnya, mereka merupakan ibu rumah tangga yang tinggal di kawasan bantaran Sungai Menteng, Jakarta Pusat. Iskandar memberikan pelatihan kerajinan untuk menaikkan taraf perekonomian mereka.

Edi Sakti, disainer sekaligus pemilik Meru menilai produk-produk yang memiliki cita rasa seni, budaya, dan sejarah akan semakin diminati. Pasalnya, penggemar etnik desain ini tidak lagi terdiri dari ibu-ibu setengah baya, tapi mulai bergeser pada kawula muda.

Desain yang nampak unik tapi tetap terlihat modern dan simpel menjadi daya tarik dan disukai hampir seluruh kalangan.

Berbeda dengan Iskandarsyah, laki-laki yang lebih akrab disapa Sakti ini memproduksi tas dengan padu-padan kain tenun nusantara. Menyasar segmen konsumen menengah, harga produknya dibanderol mulai dari Rp 100.000 sampai Rp 400.000 per unit. Dalam , Sakti bisa menghasilkan 800 hingga 1.000 tas.

Berkembangnya teknologi dan kehadiran media sosial banyak Sakti manfaatkan sebagai tempat berjualan. Alhasil, konsumennya pun tidak hanya berasal dari dalam kota Jakarta. Selain itu, dia juga kerap mendapatkan pesanan langsung dari sejumlah  instansi swasta dan pemerintahan.                       


Reporter: Tri Sulistiowati
Editor: Johana K.

BISNIS FESYEN

Komentar
TERBARU
KONTAN TV
Hotel santika premiere Slipi
26 July 2018
Hubungi Kami
Redaksi : Gedung KONTAN,
Jalan Kebayoran Lama No. 1119 Jakarta 12210.
021 5357636/5328134
moderator[at]kontan.co.id
Epaper[at]kontan.co.id
Iklan : Gedung KOMPAS GRAMEDIA Unit 2
Lt 2 Jl. Palmerah selatan 22-28
Jakarta Selatan 10740.
021 53679909/5483008 ext 7304,7306
2018 © Kontan.co.id All rights reserved
Sitemap | Profile | Term of Use | Pedoman Pemberitaan Media Siber | Privacy Policy

diagnostic_api_kiri = 0.0011 || diagnostic_api_kanan = 0.2214 || diagnostic_web = 0.4564

Close [X]
×