kontan.co.id
| : WIB | INDIKATOR |
  • USD/IDR14.619
  • EMAS590.870 -0,68%

Kecintaan tanah air giring kejayaan produk etnik

Sabtu, 12 Mei 2018 / 12:10 WIB

Kecintaan tanah air giring kejayaan produk etnik



Pasokan bahan baku masih menjadi masalah utama

Produk fesyen etnik yang tengah digandrungi oleh konsumen dari dalam dan luar negeri mendorong para perajin terus berkreasi. Mereka kian aktif mengembangkan desain baru supaya pasar terus melirik produk kerajinan ini. Selain itu, untuk memenuhi permintaan yang terus mengalir.

Kini, perajin tak hanya berpatokan pada satu jenis kain. Mereka akan menggunakan beragam kain, seperti tenun, tapis, songket dan lainnya. Edi Sakti, desainer sekaligus pemilik Meru pun mendapatkan berbagai jenis kain ini dari para penenun langsung. "Kami membeli dari perajin di berbagai daerah," katanya pada KONTAN.

Meski baru mengembangkan Meru pada 2016 lalu, Edi kapasitas produksinya sudah cukup besar. Dalam sebulan, Sakti membuat 800 hingga 1.000 unit tas etnik. Dia pun mempekerjakan empat karyawan untuk memproduksi tas padu-padan kain tenun nusantara itu.  

Satu-satunya kendala yang dihadapi oleh Sakti adalah soal bahan baku. Ia mengatakan, kini sulit mendapatkan bahan baku tekstil. Terbatasnya kualitas produk dalam negeri memaksanya untuk mengimpor berbagai kebutuhan bahan baku dari luar negeri.

Selain itu, terbatasnya jumlah kain nusantara dengan corak yang sama membuat mereka kesulitan memenuhi permintaan ada pesanan dalam jumlah besar untuk produk yang sama persis. Maklum, kain-kain tersebut dibuat secara tradisional yang memakan waktu cukup lama.

Namun, berbagai keterbatasan ini tak mematahkan semangatnya. Dengan produk yang punya karakter, dia optimistis bisnisnya akan terus berkembang.  

Asal tahu saja, Meru merupakan usaha ketiga yang Sakti jalankan. Dua usaha yang dia jalankan sebelumnya terpaksa ditutup. Dengan berbekal hobi dan pengalaman membuka usaha dia mulai bangkit dengan ide baru.
Iskandarsyah, perajin sekaligus pemilik Alini Ethnic pun mengakui hal yang sama. Namun, supaya usahanya tetap eksis, dia tak henti membuat inovasi dengan menerbitkan desain-desain baru pada periode tertentu.  

Selain itu, Iskandarsyah juga mematok harga jual yang terjangkau. Ini menjadi strateginya untuk bertahan. 

Sebab, dengan menentukan harga jual yang ramah di kantong, produknya dapat diterima semua kalangan.
Terus melakukan promosi melalui media digital seperti Instagram pun tetap dilakukan untuk memperluas jangkauan pasar.  

Sama seperti pengusaha kebanyakan, kendala yang dihadapinya adalah ketersediaan bahan baku yang berkualitas. Asal tahu saja, semua produk yang didapatkannya berasal dari limbah kain batik.

Sekadar info, Iskandar memulai usaha ini sejak lima tahun lalu. Ide usahanya berawal dari adanya sisa kain dari tukang jahit dan dia ingin mengubahnya menjadi produk bernilai.


Reporter: Tri Sulistiowati
Editor: Johana K.

BISNIS FESYEN

TERBARU
KONTAN TV
Hubungi Kami
Redaksi : Gedung KONTAN,
Jalan Kebayoran Lama No. 1119 Jakarta 12210.
021 5357636/5328134
moderator[at]kontan.co.id
Epaper[at]kontan.co.id
Iklan : Gedung KOMPAS GRAMEDIA Unit 2
Lt 2 Jl. Palmerah selatan 22-28
Jakarta Selatan 10740.
021 53679909/5483008 ext 7304,7306
2018 © Kontan.co.id All rights reserved
Sitemap | Profile | Term of Use | Pedoman Pemberitaan Media Siber | Privacy Policy

diagnostic_api_kiri = 0.0026 || diagnostic_api_kanan = 0.0576 || diagnostic_web = 0.3104

×