: WIB    --   
indikator  I  

Kotak hantaran antar sukses dua bersaudara (3)

Kotak hantaran antar sukses dua bersaudara (3)

Mempertahankan bisnis kerajinan ditengah ketatnya persaingan bukan perkara yang mudah. Kakak  beradik, Yunita W Koesnanto dan Nina A Koesnanto harus rajin melakukan inovasi agar bisnis kotak antarannya bisa eksis di tengah ketatnya persaingan.

Terlebih pembuatan kotak hantaran sangat mudah ditiru. Nina mengaku, setiap meluncurkan model baru, dalam hitungan hari pasti sudah dijiplak oleh banyak pemain lainnya. Hal ini tidak bisa dibendung dan sudah menjadi resiko karena mereka memang tidak mematenkan setiap model yang diciptakan.

Agar tampak beda dengan pemain lainnya, mereka memberikan kualitas terbaik dan memperhatikan setiap detail boks yang diproduksi. "Meskipun jumlah yang dipesan sedikit kami pastikan prosesnya tetap detil," katanya kepada KONTAN, Rabu (26/4).

Tidak hanya itu, mereka juga melakukan konsultasi dengan konsumen yang memesan produk costum. Alasannya, agar bahan dan model yang dipilih dapat sesuai dengan keinginan konsumen. Konsultasi ini penting karena tidak semua bahan kain yang berfungsi sebagai penutup kotak dapat digunakan dengan kombinasi printing, emboss, dan sablon.

Asal tahu saja, konsultasi ini biasa dilakukan dengan berbagai saluran, mulai dari pesan singkat melalui aplikasi atau email dan telepon. Bila sudah tercapai kesepakatan bentuk, mereka akan membuat model ujicoba yang nantinya dikirimkan kepada konsumen sebagai contoh dan evaluasi. Bila konsumen puas, produksi massal pun siap dilakukan.

Tidak ingin mengecewakan pelanggan, deadline pengerjaan juga menjadi salah satu perhatian mereka. Nina mengatakan, tidak ada alasan bagi timnya untuk keluar dari tenggat waktu yang ditentukan. Mereka juga memberikan garansi penggantian barang bila rusak. Maklum saja, boks buatannya cukup rentan rusak bila salah penempatan dan packing di tahap pengiriman.

Nina menceritakan, dirinya sempat menanggung rugi dan harus produksi ulang karena barang rusak saat diterima konsumen. Setelah kejadian itu, mereka sangat teliti untuk proses pengiriman barang.

Sementara untuk urusan desain, mereka memiliki tim kreatif yang beranggotakan lima orang. Tim ini diminta untuk selalu update. Kadang, inspirasi pun datang dari obrolan dengan konsumen, internet, melihat tren lingkungan sekitar serta tidak jarang pembeli membawa model sendiri.

Nina menjelaskan, untuk boks khusus anak-anak mereka sering mendapatkan ide dari obrolan yang dibangun dengan para ibu-ibu. Alhasil, sampai sekarang sudah ada ratusan desain yang diproduksi.

Sebagai pengusaha muda yang baru menjajal dunia bisnis, mereka wajib memutar otak untuk membangun tim produksi dan tim manajemen yang solid agar bisnis berjalan dengan lancar. Oleh karena itu, komunikasi terbuka dan bersikap kekeluargaan menjadi kunci mereka agar hubungan baik dapat terjalin pada sesama karyawan. "Kalau ada masalah, kami biasa sharing bersama, bahkan mereka (pegawai) sudah menganggap saya anak sendiri karena umurnya lebih tua," katanya.

Ke depan, dia berharap usahanya dapat terus bertumbuh dan sama-sama bisa dirasakan oleh karyawannya. Untuk itu, mereka gencar melakukan promosi melalui website dan pameran guna menjaring konsumen baru.       

(Selesai)


Reporter Tri Sulistiowati
Editor Johana K.

PROFIL PENGUSAHA

Feedback   ↑ x