kontan.co.id
banner langganan top
| : WIB | INDIKATOR |
  • EMAS 2.900.000   50.000   1,75%
  • USD/IDR 17.015   -85,00   -0,50%
  • IDX 7.279   308,18   4,42%
  • KOMPAS100 1.006   48,66   5,08%
  • LQ45 734   31,96   4,56%
  • ISSI 261   11,11   4,45%
  • IDX30 399   16,64   4,35%
  • IDXHIDIV20 487   15,47   3,28%
  • IDX80 113   5,31   4,92%
  • IDXV30 135   4,22   3,24%
  • IDXQ30 129   4,64   3,73%

Laba mengembang dari bisnis paralayang


Rabu, 01 Oktober 2014 / 14:48 WIB
ILUSTRASI. PT Perusahaan Gas Negara Tbk (PGN) memastikan penyaluran dan layanan gas bumi nasional tetap aman selama Idul Fitri Tahun 2023


Reporter: Primasyah Kristanto, Rani Nossar, Tri Sulistiowati | Editor: Rizki Caturini

Melepaskan kepenatan dari rutinitas pekerjaan sehari-hari bisa dilakukan dengan berbagai cara, sesuai dengan ketertarikan masing-masing orang. Bagi pecinta alam bebas yang gemar dengan aktivitas olahraga ekstrim, pasti sudah tidak asing dengan kegiatan paralayang. Olahraga terjun bebas dengan parasut ini mampu memacu adrenalin ketika melayang tinggi di udara hanya dengan memanfaatkan kekuatan angin.

Olahraga ini kian populer seiring berkembangnya daerah-daerah wisata pegunungan di berbagai daerah. Maklum olahraga ini membutuhkan lereng bukit atau gunung untuk lepas landas.  Didik Apriyanto, pebisnis paralayang berbendera G9 Paralayang di Semarang, Jawa Tengah, mengatakan, bisnis penyedia jasa paralayang masih akan terus berkembang. Sebab, wisatawan yang datang ke destinasi wisata alam umumnya mencari aktivitas yang tidak biasa.

Tempat usahanya yang terletak di kawasan pegunungan Umbul, Sidomukti, Semarang yang banyak menyajikan alam pegunungan. Ini sangat cocok dengan kegiatan outbond dan paralayang.      

Didik sudah memulai usaha ini sejak tahun 2006. Awalnya G9 Paralayang hanya sebuah komunitas yang gemar melakukan aktivitas dengan sesama penggemar paralayang. "Tempat saya cukup strategis sebab dekat dengan tempat outbond," kata dia kepada KONTAN.

Lelaki kelahiran 1975 ini bilang, mitos mengenai kegiatan paralayang yang mahal dan berbahaya itu tidak benar. Didik tidak memasang tarif terlalu mahal agar olahraga ini terus berkembang.

Didik yang menduduki posisi sebagai direktur juga merangkap sebagai pelatih ataupun sebagai tandem bagi wisawatan pemula. Tarif jasa dia patok sebesar Rp 300.000 hingga Rp 350.000 per 15 menit. G9 Paralayang juga menyediakan jasa paramotor. Konsepnya sama dengan paralayang tapi menggunakan mesin. Harganya jauh lebih mahal karena jangka waktunya 1 jam. Sekali terbang dengan tandem dikenakan biaya Rp 3 juta per per jam.

Harus bersertifikasi

G9 Paralayang hanya membuka jasa di hari Jumat, Sabtu, dan Minggu. Pelanggannya berasal dari berbagai kalangan seperti mahasiswa, anak sekolah, pekerja profesional, hingga orangtua maksimal berusia 60 tahun.

Wisatawan yang datang umumnya berasal dari Jakarta, Surabaya, Yogyakarta, Solo, dan kota lain di Jawa. Musim yang paling ramai tentu saat liburan sekolah sekitar bulan Mei hingga September. Kalau sedang tidak ramai, sehari dia bisa menerbangkan 5 orang-10 orang. Jika sedang ramai bisa hingga 30 orang dari pagi hingga sore. Dalam sebulan Didik bisa mendapat omzet sebesar Rp 60 juta per bulan.

Pelaku usaha lainnya adalah Surya Futol. Pemilik penyedia jasa paralayang bernama Paralayang Batu di Batu, Malang, ini memulai usaha sejak 2008. Dia mengaku sanggup menarik konsumen rata-rata lima orang per hari. “Jika akhir pekan atau musim liburan bisa sampai 78 konsumen dalam sehari,” ujar Surya.

Usaha ini berangkat dari hobi olahraga paralayang yang digeluti Surya dan teman temannya lewat komunitas yang bernama ayokitakemon. Surya bilang, kendala yang sering dihadapinya adalah mendapatkan peralatan paralayang. Meskipun sudah ada pemasok khusus yang menyediakan alat-alat paralayang, namun lantaran semua alat masih harus impor, sehingga membutuhkan waktu lama untuk pengiriman barang. "Pelemahan nilai tukar rupiah terhadap dollar AS juga mempengaruhi harga alat-alat paralayang sehingga menjadi lebih mahal," kata Surya.

Rahmat Sodikin, pebisnis paralayang dari Layang Mas di Bogor, menambahkan, secara teknis faktor cuaca juga kerap menjadi kendala. Sebab, olahraga ini butuh cuaca cerah dan angin kencang.  

Surya dan kelima belas temannya biasanya melayani konsumen yang rata-rata berasal dari Jakarta, Surabaya dan Malang. Harga untuk satu sesi paralayang sebesar Rp 350.000. “Durasinya 5-10 menit,” katanya.

Surya juga membuka sekolah paralayang bagi siapapun yang ingin menekuni olahraga ini. Untuk sekolah paralayang, dia mematok harga sebesar Rp 7,5 juta untuk 40 kali pertemuan. “Yang ingin sekolah paralayang harus mengikuti kelas memakai parasut terlebih dahulu minimal tiga hari dan paling lama satu minggu,” ujar Surya.

Dalam satu bulan Surya berhasil meraih omzet sebesar Rp 15 juta hingga Rp 20 juta. Untuk mempromosikan usahanya, Surya kerap melakukan branding lewat media sosial, internet dan dari mulut ke mulut antara sesama komunitas paralayang.  

Surya bilang, bisnis ini masih bisa berkembang karena pelaku jasa paralayang harus memiliki sertifikasi paralayang untuk bisa menjadi pemandu paralayang bagi wisatawan.           n

Cek Berita dan Artikel yang lain di Google News




TERBARU
Kontan Academy
Promo Markom Kontan & The Jakarta Post Executive Pass

[X]
×