: WIB    —   
indikator  I  

Lagi, mencecap cuan gerai ayam penyet

Lagi, mencecap cuan gerai ayam penyet

KONTAN.CO.ID - Kuliner olahan ayam cukup mendominasi dunia kuliner di Indonesia. Begitu banyak inovasi menu olahan ayam yang menarik konsumen. Beberapa di antaranya juga membuka tawaran kemitraan.

Seperti Jess Prabawa Hudaya yang baru mendirikan gerai Ayam Kriwil pada Januari 2017. Oktober lalu, dia menawarkan kemitraan.  Saat ini, ada dua gerai Ayam Kriwil miliknya di Jakarta.

Gerai Ayam Kriwil berkonsep tempat nongkrong ala kafe. Sajiannya merupakan pengembangan ayam penyet.

Paket investasi lengkap Ayam Kriwil seharga Rp 1 miliar. Pada paket ini mitra mendapatkan fasilitas lengkap, yakni kerjasama merek dan franchise selama 5 tahun Rp 150 juta, perlengkapan dapur, perlengkapan usaha (dekorasi, furniture), desain interior, konstruksi dan renovasi tempat usaha, material promosi, perijinan legalitas usaha dan pelatihan karyawan.  

Selain itu, ada paket hemat seharga Rp 170 juta, namun hanya mendapatkan fasilitas kerjasama franchise selama 5 tahun dan pelatihan karyawanjuta.

Ayam Kriwil menyediakan berbagai menu ayam penyet  dengan beragam pilihan sambal. Sebut saja, sambal bawang kriwil, penyet jontor, pete balado, penyet barbie, ijo kemangi dan rempah bli. Paket ayam penyet (sudah termasuk nasi, lalapan, sambal dan kol goreng) dibanderol mulai Rp 23.000– Rp 30.000 per paket.  

Ada pula menu lain seperti aneka sajian iga, empal dan gurame. Selain itu ada menu tambahan lain seperti tahu telur surabaya, gado-gado senayan, karedok sunda, rujak manten barbie, nasi goreng, terong penyet, bubur ayam, kangkung garing, aneka roti bakar, pisang nugget, aneka minuman ala kafe dan kopi. Beragam menu tersebut dibanderol mulai Rp 10.000 – Rp 62.000 per porsi.

Jess mengatakan, satu gerai Ayam Kriwil bisa mengantongi omzet Rp 300 juta–Rp 400 juta tiap bulan. Ia mengutip  biaya royalti dan promosi sebesar 5% dari omzet tiap bulan. Di samping itu, mitra wajib membeli bumbu jadi ke pusat untuk mengontrol kualitas rasa.  

Dengan omzet dan berbagai potongan biaya bulanan, Jess memperkirakan, mitra bisa mencapai balik modal (BEP) sekitar 15 - 17 bulan. “Maksimal kurang dari dua tahun sudah BEP,” tuturnya. Lokasi menjadi faktor penting yang mempengaruhi omzet dan BEP.  

Ketua Umum Perhimpunan Waralaba dan Lisensi Indonesia (WALI), Levita Supit berpendapat, prospek kuliner ayam masih baik karena pasti ada dan banyak penggemarnya. Hanya saja, menurut Levita, bisnis yang masih sangat muda. “Apakah kurang dua tahun pusat sudah pasti balik modal? Mereka harus buktikan sendiri dulu,” ungkapnya.

Calon mitra perlu waspada terhadap tawaran kemitraan yang umurnya masih sangat muda. Belum lagi soal lancarnya pasokan bahan baku dan karyawan. Kedua hal tersebut kerap menjadi masalah klasik bagi sektor waralaba.


Reporter Elisabeth Adventa
Editor Johana K.

WARALABA

Feedback   ↑ x
Close [X]