: WIB    --   
indikator  I  

Langkah-langkah membuka usaha kafe

Langkah-langkah membuka usaha kafe

Sebagai salah satu kebutuhan utama manusia, makanan menawarkan berbagai celah bisnis untuk digarap. Bagi mereka yang punya modal cekak dan kemampuan memasak pas-pasan, menjual makanan olahan, seperti nasi goreng, yang ditawarkan secara keliling dengan gerobak bisa jadi ide usaha yang layak dijalankan.

Namun tentu, peluang usaha kuliner tidak sebatas bisnis survival semacam itu. Di saat daya beli masyarakat semakin meningkat, keinginan menikmati makanan pun semakin beragam.

Ada orang yang bertekad hidup sehat hingga sudi menghitung berapa besar kalori yang ada di tiap makanannya. Kelompok orang semacam ini membuka celah pasar bagi mereka yang ingin berbisnis katering sehat.

Bahkan, peluang usaha kuliner bisa juga datang dari kebutuhan untuk mengemil, alias menikmati makanan ringan di saat bercengkerama dengan keluarga atau kerabat. Inilah yang melahirkan tempat-tempat semacam kafe.

Ya, saat ini kafe bukan lagi tempat yang asing bagi kita yang tinggal di daerah perkotaan. Kafe yang konsepnya datang dari luar negeri, tepatnya Perancis itu, merujuk ke tempat orang bercengkerama menikmati aneka minuman juga makanan ringan.

Memang, konsep kafe punya padanan di sini, yaitu kedai kopi. Namun tentu, jika kita mendengar nama kedai kopi, ingatan kita pasti terantuk ke tempat menyeruput kopi seadanya yang bergaya jadul.

Kebanyakan pebisnis kuliner zaman kini pun lebih suka menyandingkan istilah kafe di papan nama tempat usahanya ketimbang kedai kopi. Selain memberikan kesan yang lebih menarik ke calon pembeli, konsep kafe pun lebih fleksibel. Paling tidak, dalam ragam minuman yang ditawarkan.

Sebuah kafe, saat sudah berkembang dan ingin menjaga agar pembelinya tak bosan, tentu bisa menambahkan menu minuman selain kopi, seperti teh, atau bahkan minuman yang mengandung alkohol.

Nah, jika Anda tertarik untuk terjun ke bisnis kuliner, dan tengah menimbang untuk membuka kafe, berikut beberapa poin yang harus Anda pertimbangkan dan persiapkan dengan matang:

  • Merancang konsep

Jika diringkas, langkah pertama ini haruslah menjawab tentang apa yang ingin kita tawarkan ke si pembeli. Kalau bicara tentang kafe, pastilah garis besar yang ditawarkan adalah minuman dan makanan ringan, plus kenyamanan.

Namun tentu, jawaban itu harus kita lebih perinci lagi, agar tak merasa tersesat saat memulai usaha. Ambil contoh untuk minuman, apa saja jenis minuman yang akan ditawarkan? Untuk menjawab pertanyaan ini, Anda bisa menggunakan passion atau kemampuan Anda sebagai pertimbangan.

Banyak pemilik kafe saat ini memilih kopi sebagai menu minuman yang utama karena mereka memiliki sumber daya yang punya kemampuan di situ. Selain, tentu karena mereka memiliki passion di situ.

Alasan itu yang mendorong Toba dan Irine Magdalena membuka Torent Cafe yang berada di Tanjung Barat Lama, Jakarta Selatan. Yan S. Dikara, pemilik kafe kararopi dan produk kopi k2coldbrew juga memberi alasan yang setali tiga uang.

Dengan mengandalkan specialty coffee sebagai hidangan utama, Toba dan Irene pun merancang konsep tempat semacam warung kopi di daerah perkotaan.

"Jadi warkop itu kan menyajikan kopi dan makanan, kami juga begitu. Ada specialty coffee dan ada juga makanan tapi lebih berkelas, ke arah anak-anak muda," tutur Toba.

Sementara Yan punya jalan yang berbeda sebelum akhirnya menerjuni bisnis kafe. Yan terlebih dulu menjajakan kopi dengan teknik cold brewing yang dijajakan di dalam botol.

Kopi dalam botol itu ditawarkan Yan melalui akunnya di Instagram. Selain itu, Yan aktif mengikuti pameran untuk menjajakan kopi racikannya.

Setelah beberapa kali ikut bazaar yan pun tergoda untuk buka kafe. "Konsep kafe saya seperti orang yang mengasong kopinya. Jadi kami gak pakai mesin, tetapi manual brewing," tutur Yan yang memiliki kafe di BSD Serpong dan Kalimalang Jakarta Timur itu.

Anda juga bisa memilih konsep kafe yang lebih berat ke unsur nongkrong dibandingkan hidangannya. Konsep semacam ini yang diusung Maraca Books and Coffee yang berada di Jalan Jalak Harupat, Bogor.

"Kami ingin memberi sesuatu yang baru di kawasan ini," tutur Bimo, salah seorang pemilik kafe Maraca.

  • Jenis hidangan

Garis besar konsep kafe Anda tentu harus diterjemahkan lebih detail lagi. Ambil contoh, Anda memilih untuk mengikuti jalan Yan beserta Toba dan Irene yang ingin menjadikan sajian kopi sebagai magnet penarik pengunjung.

Kini, Anda harus memastikan apa saja minuman dan makanan yang akan menjadi unggulan. Kalau memilih kopi sebagai sajian utama, maka specialty coffee tentu patut dipertimbangkan.

"Specialty coffee yang saat ini digandrungi. Kalau orang luar saja, seperti Starbuck, bisa membuat pasar di sini, berarti ada market di sini untuk specialty coffee," tutur Toba.

Dalam jagad perkopian, memang ada dua kasta yang biasa digunakan untuk mengelompokkan jenis-jenis kopi. Kopi jenis umum merujuk ke jenis kopi bubuk yang umum dijajakan.

"Keberadaan warung kopi di masa lalu mendidik masyarakat kita dengan kopi-kopi yang umum," tutur Toba.

Toba maupun Yan sama-sama mencampur sendiri kopi yang menjadi hidangan kafe mereka, alias house blend. Yang menjadi bahan campuran adalah kopi berjenis Robusta dan Arabica.

Sedangkan asal kopi berganti-ganti. "Kadang kita pakai Flores-Jawa dan Toraja, pernah kita juga pakai Krakatau dari Lampung," tutur Toba.

Karena ingin menjadikan specialty coffee sebagai menu andalan kafenya, Yan pun membatasi menu makanan yang ditawarkan di kafenya.

"Kami memilih makanan yang proses memasaknya tidak mengeluarkan asap terlalu banyak, tidak bau. Karena rasa kopi akan rusak ketika kena banyak asap," tutur dia.

Sedang Toba dan Irene serta Bimo tak membatasi jenis makanan yang disajikan di kafe mereka. Irene menuturkan, Torent memang mengutamakan kopi, dan makanan hanya sebagai pelengkap.

Namun, "Makanan yang ada sekarang sudah cukup variatif. Tetapi kami akan menambah menu baru," tutur Toba.

  • Pasokan bahan

Kemudahan mencari, dan tentu mengamankan, pasokan bahan seharusnya termasuk dalam pertimbangan Anda saat menyusun daftar menu kafe. Tentu, Anda akan menuai kesulitan di kemudian hari kalau menjajakan specialty coffee, tetapi tidak tahu pasokan kopi Robusta yang oke, misalnya.

Nah, mengamankan pasokan biji kopi ini sangat penting kalau ingin menyajikan kopi khusus. Salah satu strateginya bisa dengan mencari lebih dari satu pemasok.

Yan menuturkan, kopi yang digunakan di kafe miliknya semua berasal dari kopi yang diproduksi di Indonesia. "Untuk house blend, kadang saya gabung Arabica dengan Robusta atau Arabica dengan Arabica yang lain," tutur dia.

Yan melakukan roasting dan menyaring sendiri biji kopi yang digunakan. "Jadi kami membeli bahan mentah, atau yang biasa disebut green bean," tutur dia.

Selain mengamankan pasokan, pengelolaan persediaan juga patut disiapkan. Apalagi, pengelolaan untuk stok kopi.

Jika melakukan proses roasting sendiri, ada baiknya membatasi waktu penyimpanan biji kopi yang telah dimasak. "Waktu penyimpanan dua bulan. Kalau lewat dari itu, akan saya ganti karena rasanya pasti berbeda dengan rasa saat di-roasting," tutur Toba.

Jika menyajikan kopi sebagai sajian utama, maka bahan minuman lain yang biasanya ada seperti gula ataupun susu. Untuk kedua bahan ini, tentu tidak sulit mencari pemasok ataupun mengelolanya. Harga bisa jadi pertimbangan utama saat memilih pemasok.

Untuk memastikan pengelolaan stok lebih teratur, ada baiknya menggunakan aplikasi komputer, seperti yang dilakukan Maraca. Aplikasi memungkinkan catatan keluar masuk stok menjadi lebih rapi. Anda juga bisa menggunakan jejak rekam penggunaan stok dalam menentukan kapan harus berbelanja.

  • Pekerja

Jika ingin memulai kafe dari awal, tak perlu merekrut pekerja hingga belasan orang. Yan menuturkan, jumlah pegawai di tiap gerainya masing-masing dua orang. Catatan saja, kafe milik Yan beroperasi dari jam 4 sore sampai jam 12 malam.

Dua pegawai itu punya tugas yang berbeda. Satu mengurus kopi dan satu lagi khusus makanan.

Sedangkan Toba dan Irene merekrut empat orang. Dua berperan sebagai barrista dan sisanya bertugas di dapur. K

eduanya juga kerap turun membantu kegiatan operasional di Torent yang buka dari jam 11 siang sampai pukul 12 malam selama Senin-Kamis dan jam 11 siang - pukul 1 pagi di masa weekend.

Sedangkan Maraca menggunakan tiga orang karyawan yang seluruhnya bertugas, ya menjadi barista, ya juga menjadi pelayan.

  • Lokasi

Seperti kebanyakan tempat usaha lain, tentu lokasi yang paling ideal bagi kafe adalah lokasi yang berada dalam pandangan mata dan jangkauan kaki banyak orang. Jika berada di pusat keramaian, seperti mal, tentu lebih baik lagi.

Namun memang, lokasi seperti itu bisa jadi berada di luar jangkauan para pebisnis pemula. Bimo menuturkan untuk mendapat lokasi di pinggir jalan raya Bogor, Maraca butuh investasi awal hingga Rp 100 juta.

Selain untuk mengontrak tempat, investasi itu juga terpakai untuk kegiatan renovasi.

Sedang Toba dan Irine butuh waktu hingga delapan bulan untuk mendapatkan lokasi yang ideal bagi Torent. "Lokasi itu sesuai dengan bujet kami, lahan parkirnya enak, di jalan utama. Dan ada banyak tempat keramaian, pasar, sekolah, kantor, universitas," tutur dia.

Sedang Yan tak terlalu banyak pusing saat memilih lokasi kedua kafe keduanya, di Kalimalang. "Saya pilih lokasi itu karena tempat teman dan sewanya murah. Memang, di sana cuma baru ada kafe kami. Itu memang lebih seperti toko kecil," tutur dia.


Reporter Merlinda Riska, Muhammad Fahmi Alby
Editor S.S. Kurniawan

LANGKAH MEMBUKA KAFE

Feedback   ↑ x