kontan.co.id
banner langganan top
| : WIB | INDIKATOR |
  • EMAS 2.773.000   -15.000   -0,54%
  • USD/IDR 17.739   71,00   0,40%
  • IDX 6.162   67,10   1,10%
  • KOMPAS100 813   8,13   1,01%
  • LQ45 620   4,04   0,66%
  • ISSI 218   3,97   1,85%
  • IDX30 355   2,58   0,73%
  • IDXHIDIV20 437   -1,89   -0,43%
  • IDX80 94   1,08   1,17%
  • IDXV30 121   0,41   0,34%
  • IDXQ30 115   -0,63   -0,54%

Melepas posisi manajer agar bisa urus anak (2)


Selasa, 28 Oktober 2014 / 14:21 WIB
ILUSTRASI. PT Petrosea Tbk (PTRO) mencatatkan pendapatan senilai US$ 128,20 juta di kuartal I-2023


Reporter: Cindy Silviana Sukma | Editor: Rizki Caturini

Kerja keras dan konsistensi adalah kunci kesuksesan yang dijalankan Sofie Agustine dalam membangun usaha sepatu batik merek d'Arcadia Treasure (D.A.T). Kepuasan mengurus segala sesuatu dalam bisnisnya ini yang tidak pernah dia rasakan sebelumnya ketika menjabat sebagai manager di salah satu perusahaan otomotif.

Wanita berhijab ini meninggalkan pekerjaannya terdahulu karena ingin mengutamakan mengurus anaknya yang masih kecil. Maka, dia pun memilih bekerja di rumah sebagai perancang perhiasan pada tahun 2007 lalu. Kebetulan, dia memang senang menggambar dan mendesain perhiasan.

Namun, saat menjalankan usahanya, ia sempat jenuh dan coba-coba ke bisnis lain. Beberapa kali dia mencoba mendesain sepatu dan menitipkannya pada maklon atau jasa pengerjaan produk oleh pihak lain. Suatu saat dia mendapat pesanan dari seorang pembeli Prancis dalam kuota besar. Namun, ternyata maklon yang sudah biasa bekerja sama tak sanggup memenuhi pesanan tersebut.

Merasa tak ingin mengecewakan pembelinya, Sofie pun akhirnya memproduksi sendiri. Ia mengumpulkan tiga perajin sepatu dan mulai menyewa tempat kecil sebagai bengkel sepatu dekat rumahnya di Cibubur pada 2011 lalu.

Hasil sepatu kreasinya bermerek d'Arcadia Treasure (D.A.T) ini juga kerap dia promosikan ke berbagai pameran. Meski menawarkan banyak varian sepatu kulit, justru sepatu bercorak batik paling diminati para pembeli.

Akhirnya, perempuan kelahiran Bandung itu mulai menekuni membuat sepatu dengan corak batik. Namun, memproduksi sepatu tak semudah sewaktu membuat perhiasan. "Tantangannya lebih besar. Mulai dari angkat barang sendiri, sampai mencari pinjaman untuk bisa membayar tenaga kerja," tuturnya.

Apalagi soal pemasukan, perhiasan memberikan keuntungan lebih besar ketimbang sepatu. Sebab, lanjut dia, belum semua orang bisa menghargai jerih payah membuat sepatu ketimbang perhiasan. "Orang-orang cenderung mencari sepatu yang harganya murah, daripada mahal. Padahal, kualitasnya belum tentu bagus," ungkapnya.

Ia pun berusaha menjual sepatu-sepatunya dengan harga yang terjangkau. Namun, bukannya mendapat untung, malah sering tombok. Sebab, harga jual yang dia patok hanya berdasarkan biaya bahan baku pokok, tanpa memperhitungkan tenaga kerja karyawan. Alhasil, ia kembali menghitung ulang dan mempelajari prosesnya.

Tantangan lainnya adalah bagaimana cara mempertahankan loyalitas para perajin sepatu untuk tetap bekerja padanya. Sebab, sistem bayarannya adalah borongan, maka pengrajin dibayar sesuai dengan jumlah dan tingkat kesulitan produksi.

Tahun 2012, dia mendapatkan tawaran dari salah satu situs jualan online Zalora.co.id untuk menjual sepatunya di sana. Tawaran ini berbuah manis karena produknya makin banyak dikenal orang. Tak lama, tawaran dari situs online sejenis pun berdatangan. Agar pasarnya makin luas, dia pun mengajukan proposal untuk diizinkan menjual produknya di gerai Sarinah pada tahun yang sama.             n

(Bersambung)

Cek Berita dan Artikel yang lain di Google News




TERBARU
Kontan Academy
Promo Markom Kepailitan & PKPU, dalam Turbulensi Perekonomian : Ancaman atau Solusi?

[X]
×