: WIB    —   
indikator  I  

Memahat batu, mengukir kayu (1)

Memahat batu, mengukir kayu (1)

Sanggah, patung, candi, maupun tugu adalah hal yang sulit dipisahkan dari Bali. Tak hanya karena dekorasi rumah adat Bali yang biasa diapit dua gapura candi, tapi kebiasaan masyarakat dalam memuliakan nenek moyang pun menjadikan sanggah sebagai properti yang sudah tak asing lagi.

Tak heran, kerajinan batu ini bisa menjadi salah satu mata pencaharian bagi masyarakat Bali. Seperti yang dilakoni sebagian masyarakat di Susut, Bangli. Tepatnya di Jalan Raya Kayuambua, Desa Tiga, Susut, Bangli.

Lokasi sentra kerajinan batu ini berjarak kurang lebih 65 kilometer dari Bandara Internasional I Gusti Ngurah Rai, Bali. Jika berangkat dari Kuta, Desa Tiga bisa dicapai dengan menempuh perjalanan darat selama dua jam. Dari pusat Kabupaten Bangli sendiri, Jalan Raya Kayuambua bisa dijangkau hanya dengan berkendara 20 menit.

Beberapa waktu lalu KONTAN berkesempatan singgah ke Bangli. Berbeda dengan Denpasar, Kuta, maupun Ubud, kawasan Desa Tiga ini belum banyak disentuh pelancong. Perajin batu banyak terlihat di sepanjang Jalan Raya Kayuambua.

Keberadaan kios dan rumah produksi kerajinan batu cukup terpusat. Memang, lokasi kios dan rumah produksi tidak berdempetan. Namun, selang beberapa puluh meter, pengunjung dapat menemui kios-kios yang memajang berbagai produk kerajinan batu.
Sebagian menjual candi, tugu, dan sanggah. Lainnya, menjual papan nama gedung. Ada pula yang menjual beragam jenis patung dan barang-barang bernilai seni.

Salah satu pemilik rumah produksi kerajinan batu ini  adalah Satya. Di rumah produksi yang telah dia kelola selama 20 tahun ini banyak ditemukan produk berupa patung. “Suami saya yang mengawali usaha ini,” tutur Satya. Namun, bahan baku yang digunakan memang bukan batu asli, melainkan semen yang dipahat dan dibentuk menjadi beragam produk yang diinginkan.

Patung-patung yang diproduksi dan dijual Satya kebanyakan menyerupai karakter-karakter pewayangan dan dewa-dewa. Patung ini dijual dengan rentang harga Rp 100.000-Rp 10 juta. Sejauh ini produk patung Satya sudah dikirim ke berbagai daerah termasuk ke luar negeri.

Di sisi lain Jalan Raya Kayuambua, terdapat pula kios dengan nama Surya Tugu. Berbeda dengan Satya, toko yang diempu oleh Wayan Widanta ini menjual beragam candi, tugu, dan sanggah. “Saya dari tahun 2000 buka usaha batu ini. Awalnya tertarik karena disini memang banyak yang buka usaha ini,” jelas Wayan.

Produk kerajinan batu yang dibuat oleh Wayan dijual dengan harga Rp 500.000-Rp 1,5 juta per item. Harga ini dibedakan oleh tinggi produk dan ukuran fondasi. Tidak memasarkan online, Wayan hanya menjual produknya di kawasan Bali. “Kita belum pernah kirim barang lewat laut,” ujar dia.

(Bersambung)


Reporter Nisa Dwiresya Putri
Editor Johana K.

SENTRA UKM

Feedback   ↑ x