: WIB    --   
indikator  I  

Memahat batu, mengukir kayu (2)

Memahat batu, mengukir kayu (2)

Bertandang ke Bali, KONTAN singgah ke lokasi sentra produksi dan penjualan kerajinan batu. Sentra ini berada di Jalan Raya Kayuambua, Desa Tiga, Kecamatan Susut, Kabupaten Bangli, Bali. Kios dan rumah produksi berada di sisi kiri dan kanan jalan.

Salah satu kios yang ada di sentra ini adalah milik Satya. Di kiosnya yang berada persis di pinggir jalan raya, Satya memajang patung dengan berbagai bentuk dan ukuran. Namun, semuanya memiliki kesamaan warna, yakni abu-abu khas batu.

Selang beberapa meter di belakang kios tersebut, terdapat rumah produksi yang juga dikelola oleh Satya. Di lahan yang memiliki luas sekitar 50 m2 itulah dia berkreasi. "Ini semua buatan, bukan dari batu asli," jelas Satya. Lebih lanjut ia menyebut bahwa bahan baku semua produknya adalah adonan semen dan pasir. Proses pembuatannya tidak menggunakan cetakan melainkan dipahat.

Semua bahan baku yang digunakan dipasok dari wilayah lokal Bali. Biasanya Satya selalu memasok minimal  satu truk pasir setiap bulannya. "Pasir dan semen diaduk, lalu didiamkan tiga hari. Setelah itu baru bisa dipahat," jelas Satya.

Produksi patung dilakukan Satya setiap hari, mulai  pukul 08.00 hingga 17.00 WITA. Satya dibantu oleh 13 orang karyawan. Dalam tiga hari, workshop milik Satya bisa memproduksi 10 patung berukuran sedang. Jika dihitung setidaknya dalam sebulan ada seratus patung yang siap dipasarkan.

Harga patung di kios Satya berkisar Rp 100.000-Rp 10 juta. Patung-patung ini tak hanya dipasarkan Satya di wilayah Bali, tapi juga ke Surabaya dan Italia. Satya melayani pembelian grosir dan eceran. Dia juga menerima pesanan berbagai bentuk kerajinan maupun papan nama gedung.  Dalam sebulan, Satya bilang omzetnya berkisar Rp 20 juta.

Lain lagi dengan Wayan Widanta. Kios Wayan yang ditemui KONTAN selang beberapa puluh meter dari kios Satya. Hanya saja, Wayan membuat dan memasarkan produk yang berbeda. Di lokasi toko dan workshop milik Wayan, berdiri kokoh set gapura, tugu, serta sanggah yang biasa digunakan untuk sembahyang.

Bahan baku yang digunakan oleh Wayan adalah pasir khusus yang biasa disebut pasir melela. Pasir ini dipasok dari Bali. Setiap bulan Wayan bisa memasok 100 ember pasir untuk produksi. Bahan baku ini cukup untuk membuat 10 sanggah berukuran sedang.

Wayan tidak menggunakan jasa karyawan tetap. Ketika musim ramai, Wayan melakukan produksi dengan dibantu pengrajin baru borongan. Menurut Wayan, sanggah, maupun candi dibuat dengan cara dicetak dan dipahat. Satu sanggah dapat diselesaikan dalam waktu lima hari. "Setelah adonan dicetak, lalu dijemur tiga hari. Untuk memahatnya saja butuh waktu dua hari," jelas dia.

Produk kerajinan batu Wayan dijual dengan harga berkisar antara Rp 500.000 hingga Rp 1,5 juta per item. Saat ini Wayan hanya menjual sanggah, candi, dan tugu untuk wilayah Bali. Dalam satu bulan, saat musim ramai, Wayan bisa menjual 8-10 produk.           

(Bersambung)


Reporter Nisa Dwiresya Putri
Editor Johana K.

SENTRA UKM

Feedback   ↑ x
Close [X]