PELUANG USAHA
Berita
Memancing laba bisnis alat pancing

TAWARAN KEMITRAAN HOBI

Memancing laba bisnis alat pancing


Telah dibaca sebanyak 9465 kali
Memancing laba bisnis alat pancing

Berawal dari hobi memancing ikan di laut, Maman Kusmana akhirnya membuka usaha penjualan alat-alat pancing. Alasannya, makin banyak orang yang tergila-gila dengan kegiatan memancing, baik di laut, danau, sungai, maupun kolam.

Dengan menggandeng tiga saudara kandungnya, pada 1992, Maman mendirikan usaha penjualan alat-alat pancing untuk perairan asin, tawar, dan payau, dengan bendera Sohor Group Fishing di depan pasar ikan Cisaat, Sukabumi, Jawa Barat.

Awalnya, "Kami hanya menjual umpan ikan dan peralatan memancing produksi sendiri, baru empat tahun lalu menjual alat pancing impor, seperti fishing reel, joran, dan mata kail," ungkap Marketing Manager Sohor Group Ilham Cahya Lukmana.

Produk buatan Sohor Group, misalnya, umpan ikan tepung, joran fiber dan bambu, pelampung pancing, dan aroma perangsang umpan. Semua bahan bakunya dari Sukabumi.

Sementara, alat-alat pancing impor berasal China. Namun, "Kebanyakan produk yang dibeli konsumen adalah buatan lokal, mencapai 70% dari total penjualan Sohor Group," ungkap Ilham.

Pembeli Sohor Group, Ilham mengatakan, tidak hanya berasal dari Sukabumi dan sekitarnya. Tapi juga dari kota-kota di Pulau Jawa dan luar Jawa termasuk Papua. "Konsumen terbesar dari Sumatra dan Jawa, kebanyakan pembeli adalah toko alat pancing," katanya.

Bagi yang ingin membuka usaha penjualan alat-alat pancing, Sohor Group menawarkan empat paket kemitraan. Ya mirip-mirip dengan sistem waralaba.

Paket pertama atawa sampel bernilai Rp 5 juta. Paket ini khusus untuk orang-orang yang masih ingin melihat potensi pasar awal sebelum membuka usaha alat pancing yang lebih besar.

Paket kedua atau A senilai Rp 25 juta. Paket ini mensyaratkan tempat usaha dengan ukuran 3 x 4 meter. Bagi yang punya tempat usaha lebih luas, 4 x 6 meter, paket ketiga atau B dengan nilai Rp 50 juta bisa menjadi pilihan.

Paket keempat atau D yang paling mahal, yakni Rp 75 juta untuk yang memiliki tempat usaha untuk jualan berukuran 6 x 8 meter.

Tidak cuma pemesanan dalam partai besar, Sohor Group juga melayani pembelian ritel. Syaratnya, minimal pembelian Rp 100.000.

Dalam sehari, Sohor Group mendapat lima pembelian berskala grosir. Dan, setiap bulan ada saja peminat yang membeli secara paket. "Kebanyakan mengambil paket Rp 25 juta," ucap Ilham. Saat ini, ada tiga orang yang ingin membuka usaha alat-alat pancing, salah satunya asal Bengkulu.

Dari hasil penjualan secara paket, grosiran, dan ritel, Ilham bilang, Sohor Group bisa meraup omzet hingga Rp 300 juta per bulan. Pendapatan terbesar berasal dari penjualan paket. "Bisa 80% dari total omzet," ujar dia.

Sama seperti Maman, Muhammad Naseh juga merintis usaha alat-alat pancing berbendera Al-Mutaqien pada 2004 dari hobinya memancing.

Naseh menjual seperangkat alat pancing lengkap yang terdiri dari joran, fishing reel, dan senar jauh lebih murah ketimbang toko lainnya, satu set hanya Rp 50.000 saja. "Pangsa pasarnya memang ditujukan untuk menengah ke bawah," ujarnya.

Harga yang kompetitif ini menjadikan tokonya yang berlokasi di Ciledug, Banten ramai disambangi pembeli. Tak hanya dari wilayah sekitar saja, tapi juga asal Joglo, Pondok Aren, dan Serpong. Bahkan, tokonya menjadi acuan pertama warga Ciledug untuk berbelanja alat-alat pancing.

Omzet per bulannya lumayan gede, sekitar Rp 15 juta. "Pembeli paling ramai saat akhir pekan maupun liburan panjang," kata Naseh.

Dibandingkan 2009, pada 2010 lalu terjadi kenaikan omzet sebesar 20%. Peningkatan itu, Naseh menyatakan, karena tren mancing kembali naik daun. "Salah satu penyebabnya, acara memancing di stasiun televisi swasta," ujar Naseh.

Sinar, toko alat pancing di Malang, Jawa Timur, juga menjadi tempat favorit bagi pemancing. "Pembeli kami berasal dari Surabaya dan Lamongan, juga ada yang dari luar Jawa, seperti Kalimantan dan Bali," tutur Satya Jaya, pemilik Sinar yang berdiri sejak 10 tahun lalu.

Untuk memasarkannya, Satya mengandalkan internet sebagai media promosi. "Juga dari mulut ke mulut para pemancing," kata Satya yang dalam sebulan bisa mengantongi omzet Rp 50 juta.

Menurut Satya, alat-alat pancing di tokonya bakal cepat laris terbeli ketika musim hujan. Saat itu, yang memesan alat pancing lebih banyak pembeli grosiran dibandingkan eceran.

Itu sebabnya, Ilham menambahkan, peluang usaha penjualan alat-alat pancing sangat menjanjikan. Soalnya, "Penjual alat pancing di Indonesia masih sedikit, padahal permintaannya tinggi karena makin banyak orang yang suka memancing," kata Ilham.

Telah dibaca sebanyak 9465 kali



Syarat & Ketentuan Komentar :
  1. Tidak memuat isi bohong, fitnah, sadis dan cabul.
  2. Tidak memuat isi yang mengandung prasangka dan kebencian terkait dengan suku, agama, ras, dan antargolongan (SARA), serta menganjurkan tindakan kekerasan.
  3. Tidak memuat isi diskriminatif atas dasar perbedaan jenis kelamin dan bahasa, serta tidak merendahkan martabat orang lemah, miskin, sakit, cacat jiwa, atau cacat jasmani.
  4. KONTAN memiliki kewenangan mutlak untuk mengedit atau menghapus komentar yang bertentangan dengan ketentuan ini.

LIPSUS

LIPSUS Update

  • Bisnis properti tiarap dulu

    +

    Industri properti menyambut 2014 dengan pesimistis.

    Baca lebih detail..

  • Mobil baru bermunculan kendati pasar stagnan

    +

    Pelemahan ekonomi membuat pasar otomotif tak melaju cepat.

    Baca lebih detail..