PELUANG USAHA
Berita
Memburu untung dari budidaya burung hantu (1)

BUDIDAYA BURUNG HANTU

Memburu untung dari budidaya burung hantu (1)


Telah dibaca sebanyak 6142 kali
Memburu untung dari budidaya burung hantu (1)

Sekilas, burung hantu sekilas terlihat sangar. Bagi sebagian orang, suara burung hantu bisa membuat merinding. Maklum, ada  mitos  yang mengatakan bunyi predator malam ini sebagai penanda datangnya hantu.

Burung hantu memiliki dua suku utama yakni tytonidae dan strigidae.  Marga yang beredar di Indonesia sebagian besar adalah tyto, otus, dan ninox. Burung ini masuk golongan binatang buas karena pemakan daging atau karnivora.

Dengan sifat ini, burung hantu membantu manusia dalam memangsa hewan pengganggu, seperti tikus atau ular. Fungsi ini pula yangmembuat budidaya hewan unik ini menjanjikan laba. Salah satu orang yang membudidayakan nya adalah Anto Srianto. Pria asal Surabaya ini memiliki usaha Tekno Tani.

Bekerjasama dengan Paguyuban Pusat Pelayanan Agen Hayati (BPAH Mojopahit Mojokerto) Jawa Timur,  Anto membudidayakan burung hantu jenis tyto alba. Ia melatih burung ini untuk memburu tikus. Ia hanya menjual burung hantu dewasa usia delapan bulan.

Harga jual burung jenis  tyto alba per pasang sebesar Rp 3,5 juta, khusus untuk pembeli di pulau Jawa. Untuk pembelian luar Jawa, Anto mematok harga Rp 7,5 juta per pasang telah termasuk ongkos kirim dan pelatihan untuk pemeliharaan burung hantu tersebut.

Satu pasang burung hantu tyto alba beserta anak-anaknya bisa memakan 10 ekor tikus per hari. Namun, burung ini mempunyai insting untuk membunuh hingga 30 ekor tikus per hari.

Anto mengaku telah mengirimkan burung hantu ke Kendal, Gorontalo, Lampung dan Kalimantan. "Saya baru saja mengirimkan tujuh pasang ke Kalimantan untuk pengendalian tikus di kawasan kebun kelapa sawit," tutur Anto.  Omzetnya usaha Anto per bulan sekitar Rp 20 juta - Rp 50 juta.

Agus Suwarto, pemilik Roemah Satwa juga menjual burung hantu jenis tyto alba atau dikenal juga dengan istilah barn owl. Namun, Agus menjual burung hantu sebagai burung hias. Makanya, ketika masih berusia dua bulan sudah ia jual dengan harga Rp 250.000 per ekor. Omzet Agus baru Rp 3 juta sebulan.  

(Bersambung)

Editor: Havid Vebri
Sumber: Kontan 31/10/2012
Telah dibaca sebanyak 6142 kali



Syarat & Ketentuan Komentar :
  1. Tidak memuat isi bohong, fitnah, sadis dan cabul.
  2. Tidak memuat isi yang mengandung prasangka dan kebencian terkait dengan suku, agama, ras, dan antargolongan (SARA), serta menganjurkan tindakan kekerasan.
  3. Tidak memuat isi diskriminatif atas dasar perbedaan jenis kelamin dan bahasa, serta tidak merendahkan martabat orang lemah, miskin, sakit, cacat jiwa, atau cacat jasmani.
  4. KONTAN memiliki kewenangan mutlak untuk mengedit atau menghapus komentar yang bertentangan dengan ketentuan ini.

LIPSUS

LIPSUS Update

  • Ada ratusan produk, pilih mana?

    +

    Ada sekitar 850 produk reksadana beredar saat ini. Pilihlah yang sesuai dengan gaya investasimu

    Baca lebih detail..

  • Menimbang return reksdana dan investasi lain

    +

    Return reksadana memang ciamik sepanjang tahun ini. Tapi, belakangan muncul gejolak di pasar. Apakah lebih baik mengamankan aset di instrumen aman seperti deposito, atau emas yang harganya sekarang lebih murah?

    Baca lebih detail..