| : WIB | INDIKATOR |
  • USD/IDR14.073
  • SUN98,24 0,00%
  • EMAS606.004 0,84%
  • RD.SAHAM 0.66%
  • RD.CAMPURAN 0.16%
  • RD.PENDAPATAN TETAP 0.07%

Memetik untung indigofera, sumber protein bagi hewan

Sabtu, 12 Mei 2018 / 17:10 WIB

Memetik untung indigofera, sumber protein bagi hewan

KONTAN.CO.ID - Indigofera alias tarum awalnya hanya dianggap sebagai tanaman liar. Namun, kini, tarum menjadi buruan. Para perajin batik menggunakan indigofera sebagai pewarna alami.   

Selain itu, tanaman ini juga mengandung protein tinggi, yang banyak dimanfaatkan sebagai pakan ternak, seperti kambing. Tapi, belakangan, banyak peternak unggas, khususnya bebek, yang memberi makan peliharaannya dengan indigofera.  

Lantaran kian tersohor, tarum pun mulai banyak dibudidayakan. Salah satunya oleh Christian Priangga Bayu. Dia sudah membudidayakan tarum sejak 15 bulan lalu di Yogyakarta.  

Awalnya, Christian menanam tarum untuk kebutuhan pakan ternaknya. Dia memelihara 200 kambing. Lantaran, permintaan terus mengalir, dia lantas menjual bibit indigofera.

Saat ini, tersedia ratusan pohon indukan indigofera di lahannya. Sedangkan, bibit yang siap jual ada lebih dari 200 polybag.

Christian membanderol bibit tarum mulai dari Rp 3.500 untuk bibit setinggi 35 cm dan Rp 6.000 untuk tanaman yang sudah mencapai tinggi semeter. Dalam satu bulan, penjualan rata-rata mencapai 500 pohon sampai 1.000 pohon.  

Selain di sekitar Yogyakarta dan Jawa Tengah, pemburu bibit indigofera datang dari luar Jawa. Sebut saja, Sulawesi, Sumatra hingga Kalimantan. Selama ini, dia mengirimkan pesanan bibit tarum menggunakan jasa kargo. "Tidak perlu takut tanaman stres, karena indigofera ini tergolong tanaman bandel," katanya pada KONTAN, Senin (30/4).

Pembudidaya lainnya adalah Nur Sigit Satoto asal Semarang, Jawa Tengah. Dia mengaku sudah membudidayakan tanaman pewarna ini sejak 2015 lalu. Lahan perkebunannya ada di Desa Candirejo, Kecamatan Tuntang, Kabupaten Semarang, Jawa Tengah.

Tidak sebanyak Christian, di lahannya, Sigit hanya memiliki sekitar 100 pohon indukan indigofera. Bibit yang siap dia pasarkan juga berjumlah sekitar seratusan pohon dengan rata-rata ketinggian tanaman 50 cm.

Sigit membanderol harga jual bibitnya Rp 2.500 per polybag. Dalam sebulan, dia bisa mendistribusikan sekitar 100 pohon. Konsumennya pun beragam, tidak hanya perserorangan tapi juga kelompok tani dan ternak yang berada di Jawa Timur, Jawa Tengah, dan Jawa Barat.

"Tanaman ini memang banyak dimanfaatkan sebagai pakan ternak karena mempunyai kandungan protein yang tinggi," katanya pada KONTAN. Dengan memanfaatkannya indigofera sebagai pakan ternak dapat membuat biaya operasional lebih efisien, karena peternak tidak perlu lagi membeli pakan pabrikan dengan kandungan protein tinggi.  

Lantaran penjualan masih terbatas di Pulau Jawa, Sigit cukup menggunakan truk untuk mengirimkan bibit tarum. Untuk pemesanan dalam jumlah banyak, polybag dapat disusun rapi dalam kardus. Bila waktu perjalanan terlalu lama, tanaman akan disiram untuk menjaga kesegaraannya.     


Reporter: Tri Sulistiowati
Editor: Johana K.

BUDIDAYA TANAMAN

Komentar
TERBARU
KONTAN TV
Hubungi Kami
Redaksi : Gedung KONTAN,
Jalan Kebayoran Lama No. 1119 Jakarta 12210.
021 5357636/5328134
moderator[at]kontan.co.id
Epaper[at]kontan.co.id
Iklan : Gedung KOMPAS GRAMEDIA Unit 2
Lt 2 Jl. Palmerah selatan 22-28
Jakarta Selatan 10740.
021 53679909/5483008 ext 7304,7306
2018 © Kontan.co.id All rights reserved
Sitemap | Profile | Term of Use | Pedoman Pemberitaan Media Siber | Privacy Policy

diagnostic_api_kiri = 0.0045 || diagnostic_api_kanan = 0.0498 || diagnostic_web = 0.2779

Close [X]
×