: WIB    —   
indikator  I  

Mencicip kuliner khas Minang di Jakarta (1)

Mencicip kuliner khas Minang di Jakarta (1)

KONTAN.CO.ID - Sentra kuliner khas Padang ini sudah ada sejak 25 tahun silam. Lokasinya yang strategis, dekat dengan berbagai fasilitas umum, menjadi keunggulan sentra ini. Belum lagi, akses dan moda transportasi umum sangat mudah menjangkaunya.

Sebagian besar pedagangnya juga sudah lama membuka lapaknya. "Saya di sini sudah sejak tahun 1994. Dulu bentuknya, masih lesehan," ujar Budi Sayoga, pemilik gerai Bareh Solok.

Gerai Budi menjual nasi kapau khas Minang. Nasi kapau sepintas mirip nasi padang. Namun, lauk-pauk yang disajikan nasi kapau lebih bervariasi dan belum tentu ada di rumah makan padang biasa. "Seperti kepala kakap, telur ikan kakap, ikan asam padeh, bebek cabai hijau. Itu menu yang jarang ditemui di rumah makan padang biasa," tuturnya.

Bisa dibilang, citrarasa sajian di sentra ini lebih otentik. Aneka menu nasi kapau dijual mulai Rp 15.000-Rp 45.000 per porsi.  

Hampir di setiap gerai juga menyajikan minuman khas Minang, seperti kopi padang dan teh telur. Budi mengatakan teh telur merupakan minuman tradisional yang wajib dicicipi ketika berkunjung ke tanah minang.

"Isinya telur ayam kampung setengah matang lalu dituang dengan teh mendidih dan dicampur susu dan madu. Biasanya ini cocok untuk menjaga stamina," jelasnya.

Tak hanya nasi kapau dan minuman khas Minang, gerai Budi juga menjual beras khas Solok dan keripik singkong balado. Sebagian besar gerai nasi kapau di sentra Kramat Raya juga menjual keripik singkong balado.

Dengan menjual aneka menu otentik khas Minang, Budi mengaku bisa mengantongi omzet Rp 4 juta - Rp 5 juta dalam sehari. "Kalau gerai yang lain mungkin bisa lebih, ada yang omzetnya sampai Rp 10 juta sehari," tuturnya. Deretan gerai nasi kapau di sentra Kramat Raya biasanya beroperasi pukul 11.00 sampai 03.00 dini hari.

Lain halnya dengan Budi yang menjual nasi kapau, Sutiya malah hanya berjualan lemang atau lamangm dan beberapa jenis camiilan khas minang lainnya, seperti kue talam. "Saya sudah mulai berjualan lemang di sini sejak sepuluh tahun yang lalu," tuturnya.

Sutiya menjelaskan, lemang baluo merupakan makanan khas Minang yang menjadi idola di sentra Kramat Raya. Makanan ini terbuat dari ketan dan gula aren, serta parutan kelapa yang sudah dimasak. Campuran tersebut kemudian dimasukkan ke dalam bambu.

Kemudian, bambu dibakar untuk proses pematangan. Rasa gurih yang berasal dari ketan berpadu dengan manis dari gula aren, begitu cocok di lidah dan memperkaya cita rasa.

"Saat lemang dikeluarkan dari bambu, biasanya dipotong kecil-kecil, jumlahnya sekitar 8-10 potong, mirip kue putu kalau di Jawa. Tapi ini ukuran diameternya lebih besar," jelas Sutiya.

Satu porsi lemang dengan panjang 20 centimeter (cm) dibanderol Rp 25.000. Selain lemang baluo, gerai Sutiya juga menjual penganan khas Sumatra Barat lainnya, seperti ketupat ketan, kue talam srikaya, kue lupis, dan bubur kampium. "Kalau kue-kue ini harganya mulai Rp 3.000-Rp 5.000 per buah," kata Sutiya.

Gerai milik Sutiya menjual lemang mulai pukul tiga sore hingga pukul sepuluh malam. Ia mengaku omzet penjualan lemang dan camilan khas minang lainnya bisa mencapai Rp 500.000 per hari. 
 

(Bersambung)


Reporter Elisabeth Adventa
Editor Johana K.

SENTRA PENJUALAN

Feedback   ↑ x