: WIB    --   
indikator  I  

Mencicip renyah peluang camilan ala Jepang

Mencicip renyah peluang camilan ala Jepang

Diluar makanan pembuka, menu utama dan ataupun makanan penutup, orang Indonesia juga doyan ngemil. Tak heran, beragam camilan muncul dan laris manis. Selain camilan asli negeri sendiri, camilan asal Jepang pun ikut unjuk gigi. 

Laiknya Kumayaki, camilan khas Jepang berupa roti jepit panggang. Adi Bagus Kristanto pun mengenalkan camilan  dengan bentuk  karakter boneka sejak 2016. Berpusat di Solo, Kumayaki memperluas jaringan dengan kemitraan. “Sejak pertama kali didirikan langsung dimitrakan,” ujar Adi.

Saat ini Kumayaki telah memiliki 14 mitra. Lokasinya tersebar di sejumlah daerah, seperi Solo, Yogyakarta, Makassar, Medan, Jambi, Singkawang, Pontianak, Semarang, Surabaya, dan Madiun.

Kumayaki juga masih membuka peluang kemitraan. Paket investasi gerai camilan ini sebesar Rp 30 juta. Paket tersebut mencakup peralatan penyajian berupa dua mesin penyajian, bahan baku sebanyak 200 porsi, kemasan, softcopy media promosi dan kelengkapan umum lainnya.

Namun, paket investasi di atas belum termasuk booth. Adi bilang, mitra boleh bikin sendiri booth sesuai budget dan desain yang diinginkan. Namun, mitra harus menempelkan media promosi seperti banner dan merek seperti yang sudah diberikan dari pusat. Sebelum mengelola sendiri usahanya, mitra juga akan dibekali pelatihan selama dua hari di gerai masing-masing.

Setiap gerai Kumayaki menjual produk dengan lima varian rasa, yakni strawberry, vanilla, coklat, taro, dan matcha.

Adi bilang, saat ini dirinya sedang mengembangkan menu baru, seperi rasa asin, ham dan sosis. Harga jual Kumayaki berbeda-beda di setiap gerainya, tergantung lokasi dan kondisi pasarnya.

Di daerah Solo, Kumayaki dapat dijual Rp 10.000-Rp 15.000 per porsi. Untuk wilayah Yogyakarta, rentang harga jualnya berkisar Rp 12.000-Rp 20.000 per porsi. “Kalau di luar Jawa bisa dijual mulai Rp 13.000 hingga Rp 20.000 per porsi,” jelas Adi.

Dari harga jual tersebut, mitra dapat meraup laba bersih hingga 50%. Sistem kemitraan ini tidak mengenal biaya royalti. Mitra boleh pakai merek Kumayaki selama masih memasok bahan baku dari pusat. “Bahan bakunya berupa adonan yang sudah dibuat per slice,” jelas Adi.

Dilihat dari produknya, Kumayaki memang menyasar kalangan dengan status ekonomi A-B. Karena itu, Adi menyarankan mitra buka gerai di mal. “Sejauh ini semua mitra kita gerainya di mal sih ya,” tutur Adi.

Kontrak kerjasama antara mitra dengan gerai pusat diperbarui setiap tahun. Namun, berdasarkan penuturan Adi, gerai pusat tidak memungut biaya apapun untuk perpanjangan kontrak.

Tahun ini, Adi menargetkan penambahan 20 mitra. Peluang kemitraan Kumayaki ini terbuka bagi calon mitra yang ada di seluruh wilayah Indonesia.


Reporter Nisa Dwiresya Putri
Editor Johana K.

PELUANG USAHA

Feedback   ↑ x
Close [X]