: WIB    —   
indikator  I  

Mencicipi laba usaha rujak es krim

JAKARTA. Bagi penyuka kudapan rujak, mungkin sudah pernah mencicipi inovasi yang sedang tren belakangan ini. Beberapa pebisnis rujak menawarkan sajian rujak es krim. Sesuai namanya, mereka memadukan rujak buah-buahan dengan es krim.

Konon, inovasi ini pertama kali muncul di Yogyakarta. Salah satu pemainnya ialah Adjie Prasetya yang mendirikan usaha rujak es krim di Sidoarjo, Jawa Timur pada 2010 silam. Usaha tersebut dinamakan Rujak Es Krim Wong Jogja. Penggunaan nama Wong Jogja, karena ia berasal dari Yogyakarta. Adjie menjual satu porsi rujak es krim seharga Rp 6.000.

Sejak delapan bulan lalu, ia membuka tawaran pelatihan dan paket beli putus. Kini, sudah ada 22 gerai yang tersebar di Sidoarjo, Surabaya, Semarang, Malang, Kediri, Jakarta, Bengkulu hingga Aceh. Empat di antaranya milik pusat.

Rujak Es Krim Wong Jogja menawarkan dua paket usaha, yaitu paket pelatihan seharga Rp 2,5 juta, dan paket pelatihan plus peralatan lengkap senilai Rp 5,5 juta. "Semua paket sudah termasuk pembelian resep rahasia dari saya," papar Adjie.

Mitra yang membeli paket pelatihan plus peralatan akan mendapat perlengkapan meracik rujak, mini booth dan pemakaian nama Rujak Es Krim Wong Jogja yang berlaku selamanya.

Nantinya, mitra harus mencari sendiri bahan baku. Menurut Adjie, karena ini bukan bersifat kemitraan atau waralaba, ia enggan mitra bergantung bahan baku dari pusat. "Kami berikan resep dan pelatihan, jadi mereka bikin sendiri," ujarnya.

Ia mengklaim, peminatnya banyak lantaran sistem beli putus memudahkan pemilik usaha berkreasi sendiri. Ia memperkirakan, mitra bisa menghasilkan omzet Rp 12 juta hingga Rp 15 juta sebulan. Dengan keuntungan bersih hingga 44%, mitra diprediksi bisa balik modal sekitar dua bulan.

Adjie menargetkan bisa memiliki cabang Rujak Es Krim Wong Jogja di setiap kota di Jawa Timur. "Bisnis ini saingannya masih sedikit," ungkapnya.


Reporter Noor Muhammad Falih
Editor Dupla KS

TAWARAN KEMITRAAN

Feedback   ↑ x