: WIB    —   
indikator  I  

Menengok sentra produksi tas di Kudus (1)

Menengok sentra produksi tas di Kudus (1)

Kudus ternyata menyimpan ragam potensi bisnis. Banyak masyarakatnya yang menggeluti kegiatan wirausaha. Produk yang dihasilkan pun beragam. Selain miliki sentra pembuatan jenang dan konveksi, kota kretek ini ternyata juga punya desa yang menjadi pusat pembuatan tas.

Berjalan-jalan Minggu pagi di Kudus, KONTAN sengaja mengunjungi Desa Loram Kulon. Konon, di desa ini dan beberapa desa di sekitarnya terkenal sebagai markas para perajin tas. Bertolak dari pusat kota Kabupaten Kudus, desa ini terletak di bagian selatan. Untuk mencapainya, butuh waktu sekitar satu jam dengan kendaraan pribadi.

Berbeda dengan suasana desa pada umumnya, tak banyak sawah dan kebun di komplek para perajin tas ini tinggal. Tepatnya di Desa Loram Kulon, Kecamatan Jati, Kabupaten Kudus. Pemukiman di desa tersebut tertata rapi. Jalanan aspal dengan lebar tak lebih dari empat meter membentang sebagai akses utama penduduk.

Sekilas tak ada bedanya pemukiman di Desa Loram Kulon ini dengan pemukiman di wilayah lainnya. Namun, nyatanya banyak rumah di desa tersebut yang dijadikan workshop. Meski tak semua rumah di pemukiman tersebut memiliki label usaha dagang, kebanyakan rumah aktif dengan kegiatan produksi setiap harinya.

Ternyata tas adalah maskotnya. Desa ini memiliki ratusan pengrajin tas. Rahmat salah satunya. Sejak tujuh tahun lalu, Rahmat sudah aktif melakukan produksi dan jual-beli tas. Dari rumahnya, Rahmat mengelola karyawan untuk produksi tas anak-anak.

Rahmat sengaja membuat produk dengan target pasar di wilayah terdekat. Karena itu, ia menjual tas hasil produksinya secara keliling ke rumah-rumah hingga pasar. "Setiap lusin bisa saya jual dengan harga Rp 100.000 hingga Rp 200.000," tuturnya.

Menyambangi kediaman Rahmat, tak ada bedanya dengan rumah warga pada umumnya. Tak ada papan reklame di bagian depan atau penanda bahwa rumah tersebut juga menjadi workshop produksi tas.

Hal ini pula yang terjadi ketika KONTAN  singgah di kediaman Tholkhan. Dari rumahnya, pria paruh baya ini ternyata bisa memproduksi ratusan tas setiap bulannya. "Saya sudah membuat tas ini sejak 1998. Bahkan, tahun lalu saya sudah dapat izin merek" ujarnya bangga. Tholkhan setiap hari aktif memproduksi tas ransel untuk anak dan dewasa.

Berbeda dengan Rahmat, Tholkhan memasarkan tas produksinya dalam partai besar. "Minimal pembelian itu setengah lusin," ujarnya.

Untuk tas anak-anak, Tholkhan mematok harga Rp 10.000 hingga Rp 40.000 per unit. Sementara itu, harga tas dewasa produksi Taufan dibanderol dengan harga Rp 20.000 hingga Rp 50.000 per unit.

Sudah puluhan tahun menggeluti usaha ini, Tholkhan sudah menjangkau pasar ke wilayah Indonesia Timur, seperti Makassar, Nusa Tenggara Barat dan Nusa Tenggara Timur. Selain itu, ia juga memajang tas di tokonya yang ada di Pasar Kliwon. "Kami tidak memasok tas ke wilayah barat karena kapasitas produksi masih terbatas," ujarnya.

Rahmat dan Tholkhan hanya dua dari ratusan pengrajin tas di desa Loram Kulon dan desa sekitarnya. Usaha yang telah berlangsung sejak lebih dari sepuluh tahun lalu ini, terus beranakpinak. "Makin hari makin banyak yang ikut membuat tas," ujar Tholkhan.          

(Bersambung)


Reporter Nisa Dwiresya Putri

0

Feedback   ↑ x